Bagian 22

37.5K 1.9K 5

Arka menghempaskan punggungnya di sandaran kursi kebesarannya. Dia menghela nafas beratnya. Oh... Rapat dengan dewan direksi dan pemegang saham sangat melelahkan.

Arka melirik Jam diatas mejanya. Ternyata sudah Jam 10. Pasti sekarang sedang istirahat. Segera Arka mengambil Tas kerjanya dan berjalan menuju Meja sekretarisnya.

"Mas Agung... Saya tinggal sekolah ya. Nanti kalau ada apa apa mas tinggal kontak saya aja." Kata Arka pada Sekretarisnya. Pria berusia 28 tahun itu mengangguk mengerti.

Agung dulunya juga salah satu Sekretaris Kepercayaan Revan saat masih menjabat disini. Niat awalnya Revan mau membawa Agung bersamanya ke London. Tapi Arka tidak memperbolehkannya karena dia butuh setidaknya satu sekretaris Revan untuk menemaninya. Dan menurutnya Agung adalah orang yang paling tepat. Karena agung termasuk Sekretaris paling muda diantara sekretaris lainnya. Dan karena Agung seorang laki laki.

Binggung? Arka tak ingin memiliki sekretaris perempuan karena apa? Karena dia takut kejadian seperti yang di novel novel. Dia juga menghindari kecurigaan Mora nantinya. Makanya dia memilih langkah aman.

Setelah berpamitan Arka segera memasuki Lift khususnya menuju lantai bawah.

Mau aku kasih cerita bagaimana awal awal pemerintahan Arka?. Okay... Sambil nunggu Arka sampai di lantai bawah aku kasih cerita singkat.

Awalnya saat pengangkatan dulu, banyak para dewan direksi dan jajarannya yang menentang keputusan Revan menempatkan kepemimpinan pada Arka yang masih mereka anggap sebagai anak ingusan.

Bagaimana tidak, saat itu Arka baru mendapatkan KTPnya beberapa bulan sebelumnya.

Okay lanjut, mereka sempat mengadakan protes karena keputusan Revan yang dianggap sembrono. Bahkan waktu itu Arka sempat hampir meledakkan emosinya jika tak segera Revan selesaikan perdebatan konyol mereka.

Setelah perundingan yang menguras waktu, emosi dan tenaga. Mereka sepakat Revan boleh menyerahkan jabatan DirUt pada Arka jika Arka berhasil memenangkan Tender dengan salah satu perusahaan Elektronik yang sedang booming kala itu.

Hey bagaimana mungkin coba?! Memang mereka sengaja ingin menjebak Arka sepertinya. Revan yang ingin menolak terpaksa bungkam karena Arka menyanggupi hal itu dengan tenang dan Mantap.

Sesampainya dirumah, Arka benar benar kalang kabut! Bagaimana dia bisa memenangkan Tender, kalau pendidikan Bisnis saja dia tak ada sedikitpun.

Dengan dibantu Revan - yang saat itu belum berangkat ke London - Dan juga Agung dan sedikit bantuan dari Kenan - ayahnya. Jadilah dalam beberapa hari Arka belajar siang Malam mengenai Bisnis. Untung dia memiliki otak yang kapasitasnya bukan kacangan.

Sebulan setelahnya, Revan mendengar jika menantunya itu berhasil memenangkan tender itu. Dan para dewan direksi akhirnya menerima dengan sedikit keterpaksaan kalau Arka telah berhasil dan berhak menduduki Kursi DirUt itu.

Dah... Lanjut ke Arka, Pintu Lift sudah terbuka bertepatan denga. Itu ponsel Arka berbunyi dan ternyata Mora yanh sedang menghubungi Arka.

"Ya sayang.." Arka melangkah keluar dari Lift beberapa pegawainya menyambut Arka dengan Hormat dan senyuman Ramah.

"Jemput Anta?. Lah... Kamu ngak bisa kenapa?"

"..."

"Arga ngak mau kenapa juga?"

"..."

"Okay... Aku jemput Anta. Nanti aku bawa kesekolah tapi ya dia! Kalau aku antar kerumah Bunda ngak mungkin! Aku kan izin cuma sampai istirahat pertama."

"..."

"Iya... Aku hati hati nanti. Love You." Panggilan terputus. arka segera memasukkan Ponselnya kedalam saku Jasnya lagi. Dia berjalan menuju arah Parkiran mobilnya.

"Sudah mau pulang Nak Arka?." Tanya seorang satpam yang usianya sudah cukup lanjut pada Arka.
"Iya Pak... Saya mau sekolah. Tadi izin cuma sebentar soalnya." Jawab Arka ramah.

"Nak Arka hebat ya. Masih sekolah tapi sudah mimpin perusahaan gedhe kayak gini." Kagum pak Slamet nama satpam itu.

Arka tersenyum ramah menanggapinya. "Tuntutan Pak. Kalau saya ngak kerja Anak sama Istri saya makan apa nanti?." Jawab Arka. "Iya... Bapak kagum sama kamu Nak! Kamu masih muda tapi pemikiran kamu sudah dewasa sekali. Biasanya anak anak muda seusia kamukan taunya hanya main main saja. Mana tau mereka gimana susahnya nyari uang orang tuanya."

"Biasalah Pak. Tiap orangkan punya pemikiran yang berbeda. Yah... Kalau disuruh milih saya juga pengen main main sama teman teman saya. Tapi mau bagaimana lagi, saya sudah berkeluarga pak. Bapak tau sendiri itu." Arka dan Pak slamet tertawa bersama membenarkan perkataan Arka.

Arka pamit pada Pak Slamet, karena kalau tidak cepat cepat dia bisa telat menjemput Anta. Dan tentunya dia nanti akan telat masuk sekolah juga.

======

Arka keluar dari Mobilnya, dia berjalan kearah pos Satpam. Berniat bertanya.

"Pak... Permisi." Sang satpam yang sedang menonton TV menoleh kearah Arka dengan terkejut.

"Eh iya... Maaf pak." Kata satpam itu tak enak hati. Arka hanya menunjukkan senyuman tipisnya.

"Pak saya mau tanya Anak kelas 1-6 sudah pulang ya? Kok sepi?." Tanya Arka yang binggung melihat kondisi sekolah yang sudah lenggang.

"Iya pak... Karena besok ada persiapan untuk ujian anak kelas 6 makanya sekolah dipulangkan sekarang semuanya." Arka menanggapinya dengan Anggukan kepala.

"Bapak tau anak saya Anta dimana?." Tanya Arka pada satpam itu. Satpam itu menoleh kekanan kiri, mencari cari Anta.

"Lah... Kemana tadi ya Nak Anta. Perasaan bapak tadi dia masih ada di situ." Kata satpam itu sambil menunjuk Ayunan yang tadi diduduki Anta. Arka menoleh kearah Ayunan itu. "Ya sudah pak kalau begitu. Saya cari saja sendiri. Mungkin dia belum jauh." Arka segera meninggalkan pos satpan dan berjalan menyusuri sekitar wilayah SD Nusa Pratama.

"Lepasin! Anta ngak mau! Lepasin!" Arka menoleh kekanan dan kiri karena mendengar suara Anta walaupun tidak terlalu jelas.

"PAPAAAAA.... MAMAAAA..." Teriakan itu menembus telinga Arka. Dengan Cepat dia mencari asal suara putranya itu. Dan beruntungnya dia menemukan tempat Anta.

Tapi disana Anta sedang ditarik paksa oleh seseorang berjaket kulit Hitam, celana jins belel gelap bertopi hitam yang menutupi wajah bagian depannya.

Dengan cepat Arka menghampiri Anaknya itu. "Hey! Lepaskan Anak itu!" Teriak Arka dengan wajah Garangnya. Mengenali suara teriakan itu Anta menoleh. Dia menatap Arka dengan ekspresi yang sulit di Artikan, Antara senang dan ketakutan.

"PAPAA!" Teriak Anta keras air mata anak itu turun begitu saja, padahal sejak tadi dia sudah mencoba menahan agar tak jatuh.

Orang berpakaian serba hitam itu mengumpat kesal dan segera meninggalkan Anta begitu Arka mendekati mereka.

Arka berjongkok didepan Anta. Anak itu memeluk Arka dengan Erat, tubuhnya bergetar ketakutan. Suara isakan tangisnya terdengar memilukan hati siapapun yang mendengarkannya

"Ssst... Anta sudah aman... Ada Papa disini sayang." Arka mencium kepala Anta berkali kali. Dia takut! Dia takut kalau saja dia terlambat, dia akan kehilangan anaknya itu.

"Sst... Kita pergi ya! Ketempat Mama ya?!" Anta mengangguki ajakan Arka. Dengan cekatan Arka menggendong Anta yang masih menangis didalam gendongannya.

========

YEAAAYY... gue tepatin kan omongan gue! Nih gue Up satu lagi... Duh... Udah Up berapa gue hari ini ya? Kayaknya Banyuak deh...

Duh... Mulai dag dig dug ini.

Hahaha... Canda... Kay... Gue bye dulu ya...!

Too Young [Complete]Baca cerita ini secara GRATIS!