Pengendalian Emosi

21.7K 1.2K 5
                                    

Author's POV

Pagi yang cerah ini anak-anak fantasy school berkumpul dilapangan sekolah yang luas untuk melakukan latihan pengendalian emosi.

Earth Jeslyn Marioline terlihat berbeda dari teman-temannya ia hanya memasang wajah datar dan memperhatikan apa yang dipelajari dikelas ini. Ternyata mereka akan mengahadapi lawan tanding mereka masing-masing.

Wanita itu hanya terdiam ketika ia mengetahui bahwa lawannya adalah si gadis berambut merah.
Ya lawannya adalah Yakira Adamina, wanita yang dianggapnya sombong itu.

Ketika akan mulai bertanding mereka saling menatap tajam satu sama lain.
"Aku hanya takut tidak bisa mengendalikan emosiku." Kata Jeslyn sambil bersiap-siap.

"Aku bisa menghadapimu!" Ucapnya sambil tersenyum sinis melihat Jeslyn.
Mereka memulai pertandingan itu. Luka mulai ada didiri mereka masing-masing.

Tibalah di puncak emosi, Jeslyn mulai merasa dirinya sudah diambang batas dan menginginkan pertandingan itu berakhir. Tetapi lawannya malah menghinanya.
"Apa kau takut padaku tuan putri?" Sindirnya yang membuat Jeslyn berada diambang batas kesabaranya.

Yakira membuat bola api yang berukuran sangat besar dan mulai mengarahkan bola itu ke arah Jeslyn. Jeslyn tiba-tiba mengeluarkan suara yang jelas-jelas itu bukan suara Jeslyn yang sebenarnya.
"Hei kau, apa kau tidak takut padaku. Siapa dirimu yang berani melawanku? Kau tidak tau kalau aku bisa muncul ketika emosi Jeslyn tidak bisa dibendung lagi."

Seketika ia mengeluarkan cahaya yang amat menyilaukan dari telapak tangannya, kemudian tidak ada satupun orang yang bisa menatapnya. Seketika angin bercampur dengan debu tanah mengeliling Yakira yang membuatnya tidak bisa melakukan apapun.

Tiba-tiba bola api yang berukuran sedang mengenai tubuh Yakira yang membuatnya menjerit kesakitan dan serangan itu masih berlanjut tidak disangka Jeslyn mengendalikan air yang ada disekitarnya dan menyiramkannya kearah tubuh Yakira.

Sontak luka-luka ditubuh Yakira berubah menjadi menakutkan dan terlihat menjijikan yang membuat semua orang didekatnya langsung menjauh. Jeslyn yang pada saat itu warna bola matanya terus berubah melihat sinis kearah wanita berambut merah itu, sepertinya Jeslyn ingin menghabisi wanita itu.

Sontak guru yang menyaksikan itu memanggil seorang senior pengendali pikiran. Senior itu seorang wanita berambut hitam dan berkulit putih. Ia hanya mengatakan.
"Berhenti Jeslyn!"
Maka Jeslyn langsung jatuh pingsan saat itu. Yakira dibawa ke ruang kesehatan untuk pengobatan lebih lanjut.

-------------
Balerina's POV

Aku sedang berjalan-jalan disekitar kerajaan dan bertemu seorang wanita paruh baya berjalan kearah sebuah ruang. Aku terus memperhatikan gerak-gerik wanita paruh baya itu, entah mengapa kali ini aku terseret oleh seorang wanita paruh baya.

Aku mengikutinya diam-diam sampai akhirnya berakhir disebuah ruangan yang sangat luas terlihat disana rak sepatu yang dipenuhi dengan sepatu ballet. Ya, tidak salah lagi ruangan itu adalah ruangan yang kucari-cari selama ini.

Wanita itu perlahan berjalan mengambil sebuah kotak yang ukuranmya cukup sedang. Ketika kotak itu dibuka maka mataku terbelalak melihat isi kotak itu. Oh.... sepatu yang sangat indah, baru kali ini aku melihat sepatu sebagus itu sepatu itu berwarna biru yang bercampur dengan warna hijau lautan. Wah, sangat indah...

Perlahan-lahan wanita itu mengganti sepatunya dengan sepatu ballet itu dan mulai menari secara perlahan-lahan tetapi gerakannya sangat melodis dan menyatu dengan lagu. Baru kali ini aku melihat tarian ballet yang begitu menarik, luar biasa..

Seiring berjalannya waktu musik itupun terhenti dan diakhiri dengan ending dari tariannya yang indah. Aku harus mengetahui siapa wanita paruh baya ini sebenarnya. Aku mulai berjalan kearah wanita itu dan mulai bertanya.

"Hai, boleh ku tahu namamu?"
"Tentu saja. Namaku Jesica Albert. Lalu siapa kau?"
"Aku Ballerina Neely, aku sangat menyukai tarianmu dari mana kau belajar?"

"Aku sudah mempelajari ballet saat aku masih sekolah disini. Aku angkatan pertama sekolah ini."
"Maaf tapi jangan tersinggung berapa umurmu?"
"Hahaha aku sudah sangat tua aku berumur 135 tahun."

"A..apa? Tapi kenapa kau sangat jago menari ballet. Sedangkan orang-orang yang seumuran dengan mu lebih memilih untuk beristirahat dirumah dan meminum segelas kopi."

"Aku berbeda dari mereka, aku terlalu sering menari ballet sehingga tubuhku tetap bugar."
"Kau benar, ketika aku menari aku merasa elemenku menyatu dalam diriku." Ucapku padanya.

"Kalau begitu kau harus terus menari, ini caramu melatih elemen dalam dirimu."
"Baiklah aku akan banyak menari mulai sekarang."
"Apa kita masih bisa bertemu lagi?" Tanyaku sebelum pergi.

"Tentu saja aku selalu mengunjungi tempat ini setiap akhir pekan." Baguslah dengan begitu aku bisa berlatih bersama dengannya.

Ketika aku berjalan untuk kembali kekamar, aku mendengar jeritan seorang wanita dari ruang kesehatan. Aku berlari dengan cepat melihat siapa yang sebenarnya ada disana. Dan.. Wow, wanita berambut merah itu terluka, tapi tunggu siapa yang melukainya.

Aku mulai berjalan kearahnya dan bertanya padanya.
"Siapa yang membuatmu terluka begini."
"Tanya saja sama tetangga kamarmu itu!"

Lantas aku memikirkan Jeslyn. Aku berlari dengan cepat dan melihat keadaan Jeslyn. Dia tertidur dengan wajah penuh peluh. Aku mengambil sebuah kain dan mengusap wajahnya. Aku akan menanyakan apa yang terjadi padanya besok pagi.

Waktunya makan malam, berarti aku akan pergi sendiri karena temanku ini nampaknya sedang tidak enak badan. Aku segera mandi dan menggunakan seragam malam, aku suka modelnya seragam ini berwarna coklat kehitaman dan dibalut sentuhan dasi merah tua yang dimasukkan kedalam rompinya.

Perfect, aku berjalan menuju ruang makan ketika sedang berjalan aku melihat seorang laki-laki tampan berambut coklat berkulit putih dan berbadan tegap. Aku terlalu memperhatikannya dan tidak melihat tali sepatuku yang sudah terbuka.

Aku tersandung dan jatuh, aku sangat malu bagaimana jika pria tampan itu masih melihatku, aku tidak berani menegakkan kepalaku. Dan sebuah tangan terulur kearahku berniat membantuku, ketika kulihat wajahnya.. Oh tidak! Itu pria tampan yang ia lihat tadi perasaanku begitu malu, tetapi tanganku menyambut tangannya.

Jantungku terasa berdegup kencang. Apakah ini cinta pada pandangan pertama? Oh tidak aku menaruh perasaan pada laki-laki ini.

"Kau baik-baik saja?"
"Ya, aku baik."
"Baik, mau berjalan bersamaku?"
"O..oh tentu." Mulutku benar-benar gugup. Tetapi kami berjalan dengan santai.

"Jadi siapa namamu?"
"Namaku Balerina Neely."
"Nama yang unik. Perkenalkan namaku Riley Johson Albaison. Panggil saja Riley." Ketika bersantap malam kami banyak mengobrol ketika ia ingin pergi iya berkata.

"Dah, sampai jumpa lagi!"
Aku hanya melambaikan tangan dan berdoa semoga kami akan bertemu lagi. Aku akan menceritakannya pada Jeslyn besok. Oh dan tidak lupa aku akan menanyakan terlebih dahulu apa yang terjadi ketika mereka latihan tadi.


















Tbc...

The Queen Of ElementTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang