Chapter 15 ; 00.00

874 87 7

Saat pergantian hari, aku harap perasaanku untukmu tak pernah terganti seperti hari yang terganti.

Saat itu, sedang diadakan kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan atau yang sering kali disebut LDK di sekolah Reina. Kebetulan, ia dan Ninda menjadi panitia dalam acara tersebut. Mereka harus menginap semalam di sekolah.

Pada malam itu, sekitar pukul sebelas malam, para panitia menyudahi kegiatan pemberian materi. Para peserta dipersilahkan untuk kembali ke ruang kelas yang telah disulap seperti tempat pengungsian yang nyaman.

Para panitia pun juga kembali ke ruangan yang sudah disediakan. Satu ruangan panitia cowok dan satu ruangan panitia cewek. Namun, para panitia cewek memutuskan untuk mengungsi ke ruangan sebelah. Ruangan para panitia cowok berada.

"Kita numpang ya? Disebelah ac-nya mati. Enakan disini." ujar salah satu panitia cewek.

"Hah?" Arya yang kebetulan juga menjadi panitia itu melongo.

"Gak apa-apa sih. Toh kita juga gak ada yang tidur." sahut yang lainnya.

"Ah, makasih!" ucap para perempuan yang langsung berhambur ke dalam ruang kelas itu.

Ada yang menyusun meja atau kursi untuk dijadikan tempat tidur. Mereka menyusunnya dengan senyaman mungkin. Setelah siap, mereka duduk di tempat masing-masing. Mengeratkan jaket yang mereka pakai di malam dingin yang menusuk.

Mereka memutuskan untuk tetap terjaga bersama. Walau ada yang memutuskan untuk tidur sejenak karena gak mau menonton film horor yang sekarang sudah dijadikan di depan mata.

Dendra, teman Alvan, sepertinya sudah menyiapkan tempat tidur ala-alanya sebaik mungkin. Ia sudah membawa selimut yang sedikit tebal dari rumahnya. Menyusun bangku-bangku empuk di belakang kelas.

"Ini tempat gua yak! Gak boleh diembat! Gua mau tidur. Ntar bangunin." kata Dendra disertai cengiran khasnya lalu beranjak ke alam mimpi.

Begitu juga dengan Arya. Cowok itu lebih memilih tidur di belakang kelas. Berbekal dengan kursi juga dan jaket tebal miliknya, ia sudah terlelap begitu saja.

Kalau Ninda dan Reina memutuskan untuk berjaga sambil menonton film Conjuring 2 yang sebenarnya sudah Reina tonton lebih dari tiga kali.

"Rei, nanti gue mau ngasih tau sesuatu." ucap Ninda yang membuat Reina mengalihkan perhatiannya dari film tersebut.

"Apaan tuh? Kenapa gak sekarang aja?" tanya Reina yang penasaran.

Ninda menggeleng sambil menampilkan lesung pipitnya. "Biar lo nya penasaran dulu. Hehehe. Nanti ya tunggu jam 00.00 hehe."

Mau gak mau, Reina hanya mengangguk mengerti saja. Menunggu waktu yang sudah ditentukan Ninda.

Pukul 00.00

"Rei, mau bilang yang tadi," katanya yang membuat Reina menoleh.

"Apaan?"

Ninda mendekatkan wajahnya ke telinga Reina. Kemudian ia berkata, "Gue udah jadian sama Lando kemarin."

"Terus? Kenapa harus ngasih tau jam segini?" tanya Reina kemudian.

"Karena, dia nyatainnya jam segini di telfon." jawabnya sambil tersenyum.

Reina hanya menganggukkan kepalanya. Mukanya biasa saja. Soalnya hal itu bukan merupakan hal yang tidak biasa. Dia sudah menduga hal itu terjadi.

"PJ-nya mana?"

"Nggak, ah, bokek."

"Najis."

Kemarin pada tengah malam, Lando mengganti kata status diantara dirinya dengan Ninda. Lalu, pada malam ini, Reina mendengarkan pernyataan Ninda tentang statusnya. Ah, lucu sekali pasangan ini.

Pada malam itu, Reina yakin seratus persen kalau Ninda sangat amat bahagia kala itu.

"Semoga, Reina cepet nyusul ya?" ucap Ninda lagi diiringi senyumnya.

Reina hanya diam. Ia tersenyum. Mengucap amin pada sanubarinya. Membiarkan kening Ninda mengerut bingung karena Reina tak kunjung berbicara. Hanya Reina dan Tuhan yang tahu tentang doa Reina di dalam kalbunya.

*

tiba tiba pengen cepet namatin ini 😂 soalnya udah gak sabar ngeluarin arya di extrachapternya. banyak yg rindu arya ternyata :( buat fansnya arya, tunggu ya sabar. arya akan keluar pada waktunya.

kita sandingkan.

lebih kuat kharisma arya ridhatama atau alvan ibrahim?

huahuahua.

tapi tetep di hati reina hanya ada alvan.

Intuisi [ Completed ]Baca cerita ini secara GRATIS!