Penghinaan Terkejam

1K 86 7

Tidak! Tidak Karna! Kau tak boleh melakukan ini!

Hati kecilku berteriak-teriak. Aku tak sanggup melihat suamiku membantu kejahatan merajalela di balairung ini.

Tiba-tiba, aku kembali merasa menjadi Supriya yang bisu. Perkataan Gangga mengenai jalan yang semakin menanjak hingga aku harus mendaki, mulai terwujud saat ini.

Air mataku berlinang melihat para Pandawa menanggalkan pakaian mereka satu persatu. Semua kemewahan itu kini teronggok begitu saja, menjadi sesuatu yang tak berarti. Sama seperti kehormatan mereka.

Drupadi berdiri di antara Karna, dan Wikarna. Tatapannya gamang, bingung akan nasib yang akan segera dia terima.

"Mengapa kau belum menanggalkan pakaianmu?" kalimat dingin itu diucapkan oleh Duryodhana.

Drupadi mengertakkan gigi. Amarah di matanya kini menyala-nyala seperti api.

"Duryodhana!" dengan berani dia menyebut nama putra mahkota Hastinapura itu, "Semua perbuatanmu terhadapku sungguh kejam. Kau akan merugikan dirimu sendiri karena terlibat dalam kejahatan. Tidak bisakah kau lihat?"

Duryodhana tertawa mendengar perkataan Drupadi, "Kau yang mengatakan kalau aku memang tidak bisa melihat."

Kemarahan membuat Drupadi kini menunjuk Duryodhana, "Kau memang tak pantas menjadi putra mahkota! Bahkan melindungi kehormatan seorang wanita pun kau tak tahu caranya!"

Harga diri Duryodhana membuatnya tersinggung saat Drupadi menyebut dirinya tak pantas menjadi putra mahkota. Duryodhana turun dengan langkah panjang. Matanya melotot, tangannya terangkat hendak menampar Drupadi.

Namun sebelum Duryodhana dapat menampar Drupadi, terdengar suara tawa Karna. Perhatian semua orang sekarang teralih pada Karna.

Jantungku terasa melompat kala Karna menahan tangan Duryodhana. Duryodhana sudah bersiap membentak sahabatnya, ketika Karna dengan lembut berkata sambil mengerling mengejek Drupadi.

"Sahabatku, jangan menodai tanganmu dengan menyentuh perempuan yang bersuamikan lima orang," katanya tenang.

Baik Duryodhana dan Drupadi terkejut mendengar perkataan itu. Kemarahan Duryodhana menguap tergantikan oleh sebuah senyuman mengejek yang merendahkan Drupadi.

Tetes-tetes air mata Drupadi semakin deras membasahi wajahnya. Dia bahkan memandang Karna tanpa berkedip.

"Apa maksud ucapanmu itu, Raja Angga? Berani-beraninya kau! Apa kau sedang menyamakanku dengan pelacur?"

Karna tak menjawab pertanyaan Drupadi. Dia hanya tertawa, lalu menggandeng Duryodhana kembali ke tempat mereka. Saat Karna telah kembali duduk di kursinya, barulah aku melihat setetes air mata menggenang di sudut mata Karna.

Apa yang sebenarnya dia pikirkan? Aku sama sekali tak tahu. Jika saja aku masih bisa membaca pikirannya, aku akan menyelidiki penyebab hingga dia terlibat dalam satu penghinaan yang akan menjadi bumerang bagi dirinya. Drupadi pasti akan menuntut balas. Aku tahu itu.

Aku tak sanggup melihat kelanjutan peristiwa itu. Sorot mata membunuh jelas terlihat di pandangan Arjuna, langsung ingin menyayat-nyayat Karna. Api permusuhan di antara mereka semakin berkobar. Panas membara.

Saat aku melihat Drupadi berhadapan dengan Dursasana, aku melihatnya menyebutkan nama Krisna berkali-kali.

Krisna, Krisna, Krisna.

Doa memanggilmu kemari.

Doa dia yang teraniaya,

Dia yang berlindung pada sehelai sari.

Muncul, muncul, muncul.

Sari tak pernah menemukan ujung.

Sari memanjang bergulung-gulung.

Hingga sari menumpuk seperti gunung.


#StopPlagiarism

AuthorPutfel

Legenda Negeri Bharata [ COMPLETED ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang