Hening

876 77 2

Permainan yang sedang mereka lakukan saat ini, adalah permainan terkejam yang pernah kulihat seumur hidupku. Aku melihat Yudhistira berlutut di depan Sengkuni, menyatakan kekalahannya atas dirinya sendiri. Ya. Dia telah menjadi seorang budak. Namun rupanya, Sengkuni masih belum puas.

"Bukankah kau masih memiliki seorang istri?"

Widura adalah yang paling keras memprotes saat itu, namun dengan licik, Sengkuni melirik ke arah Duryodhana.

"Bawa Drupadi ke sini!" teriak Duryodhana.

Tiga kali, diutus seseorang untuk menjemput Drupadi. Namun tidak berhasil. Sang utusan selalu kembali dengan wajah ketakutan lalu berkata, "Yang Mulia, Permaisuri Drupadi menanyakan apakah Sang Pemain Dadu kehilangan dirinya dulu? Atau istrinya?"

Jawaban utusan ini membuat Duryodhana murka. Suaranya menggelegar ketika dia berdiri di depan balairung untuk mengeluarkan perintah:

"Siapa pun, bawa wanita itu, kalau perlu seret dan paksa dia!"

Dursasana yang menyanggupi melaksanakan perintah itu. Dengan segera, dia keluar balairung. Langkah-langkahnya terdengar jelas ketika dia datang. Tangan Dursasana menjambak rambut Drupadi, menyeret wanita lalu melemparkannya ke kaki Duryodhana.

Ketangguhan Drupadi terlihat saat itu. Dia memandang semua orang di balairung satu persatu. Air mata menggenang di matanya yang memerah, penuh kilat kemarahan yang berusaha dibendung.

"Mengapa kalian membiarkan orang biadab ini menangkap dan menyeretku?" suaranya terdengar menggelegar, "Apakah orang yang tak memiliki kuasa atas dirinya sendiri boleh mempertaruhkan orang lain?"

Keheningan di balairung itu terasa menyesakkan. Bhanumati meremas tanganku, mata wanita itu tak lepas dari Arjuna yang telah sedari tadi jatuh berlutut di bawah kaki suaminya.

"Bagaimana mungkin, kalian-kalian yang berpegang teguh pada dharma membiarkan seorang wanita—sama seperti ibu dan saudara perempuan kalian—dipermalukan di depan umum? Inikah tindakan Wangsa Ksatriya yang kalian bangga-banggakan?"

Wajah-wajah malu mulai memenuhi balairung. Semua orang menunduk. Bisma menutup mata, tak berani melihat kelanjutan kejadiannya. Lolongan Bima menggetarkan dinding-dinding... namun tak ada seorang pun yang datang menghampiri Drupadi.

Drupadi mulai menangis. Hanya satu orang yang datang menghampirinya saat itu.

Wikarna. Adik Duryodhana. Dengan lembut dia mengangkat Drupadi, lalu berkata pada orang-orang yang ada di balairung itu:

"Para pangeran, para sesepuh, mengapa kalian semua menutup mulut? Jika pertanyaan paling sederhana ini tidak bisa kalian jawab, maka sama saja kalian membiarkan Dinasti Kuru jatuh dalam kehancuran."

Wajah Duryodhana memerah mendengar perkataan adiknya itu. Semua terdiam oleh ucapan Wikarna, hanya satu orang yang kemudian bangkit dari kursinya, lalu berkata dengan keras.

"Hai, Wikarna, semua orang di sini adalah orang yang lebih berpengalaman mengenai ajaran kebajikan. Apakah perkataanmu itu sengaja menghina mereka?"

Aku terkejut saat tahu bahwa suara itu adalah suara Karna.

Badanku mulai menggigil saat Karna datang menghampiri Wikarna dan Drupadi. Dengan lantang, Karna mengejek adik Duryodhana itu. Membuat sahabatnya tersenyum puas. Terlebih saat Karna mengatakan:

"Bagaimana kalau sekarang, para budak mulai menanggalkan pakaian mewahnya?"

#StopPlagiarism

Author Putfel

Legenda Negeri Bharata [ COMPLETED ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang