Kehilangan

993 77 5


Dedicated for: @AnantaPutri17 and ShabrinaAulia5 makasih atensinya. Hehehe ^^

***

Dari sikap Raja Drestarasta, terlihat sekali kalau beliau sesungguhnya tidak merestui permainan licik ini. Seringkali dia mendesah dengan kening berkerut, tiap kali dadu digulirkan atau membuahkan hasil.

Pandawa menerima undangan permainan dadu ini dari Widura. Kewajiban sebagai Wangsa Ksatriya membuat Yudhistira mau tidak mau harus menghadiri permainan itu. Aku meminta Karna mengakali agar aku bisa melihat permainan itu tanpa mengganggu mereka. Beruntung, Bhanumati, istri Duryodhana juga ingin melihat jalannya pertandingan. Rasa sayang kepada Bhanumati membuat Duryodhana menyediakan sebuah tempat di balkon lantai dua.

Sementara itu, di lantai bawah... para pangeran bergabung dengan Bisma, Widura, Drestarasta, dan Sanjaya—asisten Drestarasta. Melihat kejadian di depan mereka tanpa melakukan apa-apa untuk mencegah.

Sengkuni telah mengutarakan maksudnya kepada Yudhistira. Dia mengatakan kalau dirinya akan mewakili Duryodhana dalam taruhan ini.

Yudhistira menjawab tantangan Sengkuni sambil tersenyum ramah, "Telah lama dikatakan, kalau permainan dadu adalah permainan menyesatkan. Di mana kita tak bergantung kepada kemampuan, namun keberuntungan. Tak jarang, judi membutakan moral hingga para ksatria tak segan menipu dan berbohong. Tidak, Raja Gandhara, saya tidak ingin melakukan hal yang melanggar ajaran moral."

Sengkuni terkekeh mendengar penjelasan Yudhistira. Berlawanan dengan perkataannya yang bijak, pandangan mata Yudhistira tak pernah teralih dari papan dadu yang telah disiapkan di tengah ruangan.

"Aih, Raja Indraprasta yang terhormat," Sengkuni menggosok-gosok tangannya yang kini memegang dadu, "Kau terlalu serius, menggunakan ajaran moral hanya untuk sebuah papan dan dadu. Di mana-mana, orang yang hebat akan mengalahkan orang yang bodoh berjudi. Semua tahu hal itu, Tuanku Raja..." Sengkuni terkekeh lagi, "Katakan saja, kalau kau takut."

"Takut? Tidak, aku tidak pernah takut kepadamu," emosi Yudhistira mulai terpancing oleh ucapan Sengkuni.

Sengkuni mendecakkan lidah, "Tidak. Mungkin kau takut karena orang mengatakan aku bisa mengendalikan dadu sesuka hatiku. Heh heh heh... Tuanku, kau takut aku akan mengalahkanmu. Ya, kan?"

Tanpa bicara lagi, Yudhistira segera duduk di kursi yang diperuntukkan baginya. Tawa Sengkuni saat itu membuatku merinding. Suasana semakin tegang ketika Yudhistira mengambil beberapa keping emas, kemudian meletakkan perhiasan itu di meja taruhan.

Emas, perak, permata... satu per satu benda-benda itu diletakkan dan terlepas.

Mahkota, pakaian... semua tak mampu menghindarkan Yudhistira dari kekalahan. Anehnya, semakin Yudhistira kehilangan, semakin dia bernafsu mendapatkan. Begitulah jalannya permainan yang dikatakan Sengkuni seperti ular bermata dua. Kekalahan dianggap sebagai nasib buruk yang akan segera membaik.

Ketika semua telah hilang dari tangan, Sengkuni memandang Yudhistira yang wajahnya telah merah oleh kemarahan dan keinginan menang.

"Jangan berhenti dulu, Raja Indraprasta. Masih ada sesuatu yang bisa kau pertaruhkan," Sengkuni tersenyum licik. Yudhistira mengikuti pandangan Sengkuni, melihat empat saudaranya yang duduk di belakang.

"Aku mempertaruhkan Nakula, saudaraku yang paling tampan. Harta berharga Indraprasta."

Semua menahan napas melihat Yudhistira mulai gelap mata. Dan seperti taruhan-taruhan sebelumnya, Nakula dimenangkan oleh Korawa.

Sadewa, Sang Seniman.

Arjuna, ksatria terhebat di dunia.

Bima, Sang Panglima perang.

Semua dipertaruhkan dengan keji.

Tawa Sengkuni semakin terlihat puas saat dia melanjutkan permainannya, "Masih ada satu yang berharga, Tuanku. Raja yang kebijaksanaannya setara dengan Dewa Dharma."

#StopPlagiarism

Author Putfel

Legenda Negeri Bharata [ COMPLETED ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang