Three

27.2K 499 8

Alfredo tersenyum mendengar pertanyaan itu, "Mulai sekarang lo harus nurutin apa yang gue suruh."

"T-tapi.. . ."

*****

"T-tapi lo masih ngizinin gue ngampus kan? Tanya Fienna.

Alfredo tersenyum samar, "Gue gak ngelarang lo, tapi setiap dua hari sekali lo harus ke rumah gue. Ngerti?"

"Kita bakal ngelakuin "itu" lagi nanti? Tanya Fienna dengan menekankan kata itu pada Alfredo.

"Menurut lo?" Alfredo balik bertanya.

Fienna terdiam. Ia meratapi hidupnya yang berubah seratus delapan puluh derajat dalam kurung waktu kurang dari 24 jam. Sekarang ia harus menuruti seniornya di kampus yang mempunyai hasrat bejat karena sebuah video. Jika video itu disebar, Fienna yakin ia akan kehilangan harga dirinya.

"Ayo, gue anter lo pulang!"

Alfredo mengantar Fienna pulang dengan motornya. Selamat perjalanan pulang, keheningan yang menemaninya mereka. Tidak ada satu kata pun yang terucap. Terlalu banyak hal yang harus mereka berdua pikirkan sehingga akhirnya tidak ada percakapan diantara mereka. Saat motor Alfredo sudah berada di depan pagar rumah Fienna, akhirnya Fienna membuka suaranya, "Makasih."

Alfredo membalas perkataan Fienna dengan anggukan. Lalu, ia menjalankan motornya pergi menjauh.

Fienna masuk ke rumahnya dengan langkah gontai. Kakinya mendadak lemas. Ia memandang sekeliling rumahnya yang kosong. Ayah pergi, ibu pergi, pembantunya sedang tidur.

Fienna bersyukur untuk pertama kalinya mempunyai orang tua yang workaholic. Paling tidak untuk saat ini. Fienna yakin jika orang tuanya ada di rumah, dapat dipastikan saat memasuki rumah pertanyaan dan omelan akan menyambutnya.

Fienna melepas kemeja Alfredo yang ia pinjam karena bajunya sudah dirobek hingga tak berbentuk lagi. Ia terlalu lelah. Tadi, ia hanya berpura-pura kuat. Sesungguhnya fisik dan mentalnya saat ini sangat lelah. Ia butuh jeda untuk merenungkan semua ini.

*******

Keesokan harinya dan esok harinya lagi, Fienna menjalani aktivitasnya seperti biasa. Fienna mengabaikan perintah Alfredo untuk datang ke rumahnya setiap dua hari sekali. Selama itu, Fienna lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat tersembunyi di kampus agar tidak bertemu Alfredo.

Semuanya berjalan baik-baik saja, sampai Fienna sudah membuat batas kesabaran Alfredo habis.

Siang itu, Fienna baru saja keluar dari kelasnya. Fienna berjalan cepat menuju pelataran belakang kampus. Dia harus menunggu kuliah sorenya yang masih 3 jam lagi. Untuk mengurangi resiko bertemu Alfredo, Fienna memilih menunggu di tempat yang sepi. Namun, menunggu di tempat sepi membuat Fienna sama saja menunggu di kandang singa.

Alfredo menghampiri Fienna dengan penuh emosi. Alfredo langsung mengurung Fienna dengan kedua lengannya. Alfredo juga mendorong Fienna ke tembok sehingga Fienna benar-benar terpojok. Alfredo tidak mengeluarkan separah kata, tetapi dia mulai mencium Fienna.

Alfredo mencurahkan seluruh gairah yang selama ini tertahan karena gadis itu tidak datang. Ia mencium Fienna dengan ganas. Alfredo melumat bibir Fienna. Fienna tergagap untuk membalas perlakuan Alfredo yang tiba-tiba saja.

Alfredo yang merasa ciumannya tidak dibalas, akhirnya memutuskan untuk berpindah tempat. Alfredo menyusuri leher jenjang Fienna yang sangat disukainya sambil tangannya bergerak ke dada Fienna dan meremasnya lembut. Fienna mengerang karena miliknya kembali basah karena sentuhan Alfredo.

Semakin lama, Fienna merasakan ia sudah mencapai puncaknya. Fienna mengerang keras. Mata Fienna begitu sayu karena ia baru saja mendapatkan pelepasan. Sementara Alfredo masih tenggelam dalam gairahnya.

Alfredo membawa Fienna ke rumahnya. Alfredo yang sudah tidak sabar menyakitkan hasratnya itu menggendong Fienna menuju kamarnya. Alfredo mengunci pintu kamarnya.

Fienna pasrah dengan perlakuan Alfredo padanya. Saat Alfredo membanting badannya ke kasur dan menindihnya, Fienna memejamkan matanya. Alfredo menindihnya tepat di atas dirinya. Fienna dapat merasakan bukti gairah Alfredo yang menyentuh pahanya.

Fienna tidak membuka matanya sama sekali, tapi ia tahu apa yang dilakukan Alfredo. Alfredo melakukan penetrasi dengan mudah karena milik Fienna sudah siap menerima. Berbeda ketika kemarin-kemarin, Kali ini Fienna merasa ia melayang di awang-awang saat Alfredo mengisinya begitu dalam dan bergerak liar.

Fienna menggigit bibirnya karena ia lagi-lagi hampir mencapai puncaknya. Melihat urat-urat leher Fienna, Alfredo tahu bahwa Fienna sedang menahannya pelepasannya. Alfredo pun berbisik di samping Fienna,"Jangan keluar dulu, tunggu gue!"

Fienna menahan pelepasannya sekuat tenaga. Sampai Alfredo juga hampir mencapai pelepasannya. Lalu mereka meraih pelepasan itu bersama-sama. Keduanya tenggelam dalam gelombang pelepasan itu. Fienna mengatur napasnya yang terengah-engah.

Alfredo memeluk Fienna. Rasa marahnya karena gadis itu melanggar janjinya menguap tanpa sisa. Alfredo mencium Fienna lembut. Namun, Alfredo merasakan wajah Fienna basah oleh air mata.

Alfredo merengkuh Fienna dan menatap Fienna,"Apa ada yang sakit?"

Fienna menggelengkan dan tetap menangis.

"Apa gue terlalu kasar tadi?" Tanya Alfredo.

Fienna kembali menggelengkan kepalanya.

Alfredo menatap Fienna dengan frustasi,"Lalu kenapa? Kasih tau gue!"

Fienna menarik napas panjang lalu menghembuskannya kuat-kuat.

"Gue. . ."

TBC

Hope you like this part.

My Wild BoyBaca cerita ini secara GRATIS!