*Psst* Notice anything different? 👀 Find out more about Wattpad's new look!

Learn More

Ratu Harazh

2.8K 373 29

"Sekeras apa pun usahamu untuk merebutnya dariku, aku akan lebih keras lagi untuk mempertahankan dirinya disisiku." Felix menatapku lekat. "Dia—milikku."

Kenzie menyeringai. "Kau tidak berhak mengatakan hal itu. Memangnya kau siapa?"

"Aku tunangannya dan sebentar lagi kami akan menikah. Apa kau puas dengan jawabanku?"

Awalnya Kenzie terkekeh namun semakin lama ia menjadi terbahak-bahak. "Kau bilang apa? Menikah? Aku tidak salah dengarkah?"

Felix mengangkat bahunya dengan santai. "Terserah bagaimana pendapatmu, tapi itulah kenyataannya."

Tawa Kenzie mereda dan ia kembali menyeringai. "Baguslah kalau begitu, dengan begitu aku jadi punya alasan untuk melenyapkanmu."

Kenzie sudah melesat ke arah Felix secepat kilat. Tanah di sekitarku bergetar seolah-olah akan amblas oleh kekuatan mereka. Felix yang belum siaga terlempar jauh hingga puluhan meter. Tak hanya sampai di situ, Kenzie terus menyerang Felix bertubi-tubi, sama seperti saat ia menyerangku. Kenzie bahkan tidak memberi kesempatan pada lawan bertarungnya untuk menggunakan Ulqinya. Ku rasa itulah gaya bertarungnya.

Kulihat Felix terlempar berkali-kali bahkan terpekik setiap kali tubuhnya membentur pepohonan. Kalau Kenzie terus menyerang seperti itu, kemungkinan besar Felix akan terluka parah sebelum menggunakan Ulqinya.

Aku berusaha mengumpulkan energiku untuk melepas Ulqi pengikat yang mengekang tubuhku. Informasi yang kudapat, Ulqi Manusia seharusnya lebih kuat. Apa pun yang mengekangku seharusnya bisa kulepaskan dengan mudah. Atau aku yang belum bisa menguasainya dengan baik?

Aku memejamkan mata dan membiarkan energiku mengalir keluar. Udara di sekitarku mulai berhembus lembut dan semakin lama semakin kuat seiring derasnya Ulqiku. Aku membuka mata sedikit dan benar saja, aura ungu kehijauan mulai pudar perlahan, sementara dentuman demi dentuman yang menggema di sekitarku semakin padat dan menguat.

Kulihat Felix belum mengeluarkan Ulqinya sama sekali. Aku tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan, ia belum juga menyerang Kenzie. Melihatnya menerima serangan dari Kenzie membuatku sedikit khawatir. Apa Felix belum tahu cara menggunakan Ulqi?

"Kenapa kau hanya diam saja? Apa kau sedang bertanya-tanya bagaimana aku bisa sekuat ini sampai kau tidak bisa berpikir jernih dalam mengambil kesempatan untuk menyerangku?" Kenzie tersenyum sinis.

"Tidak juga." Felix tersenyum tipis. "Aku hanya ingin membaca gerakanmu, itu saja. Entah kau sadar atau tidak, kau lebih suka menyerang lawan dengan bertubi-tubi dan spontan seperti itu. Itu membuktikan kau memiliki kepribadian yang jujur. Aku benar-benar salut Kenzie. Tapi—" Felix mengangkat tangannya ke atas dan cahaya biru muda mulai terbentuk di telapak tangannya. "Sifat jujurmu yang menaruh hati pada orang kucintai membuatku benar-benar kesal dan ingin mengamuk."

Bola cahaya melesat ke arah Kenzie yang tampak terbelalak terkejut lalu melompat untuk menghindari serangan Felix namun terlambat, bola cahaya itu menyerempet bahu Kenzie dan mengakibatkan dentuman keras. Kenzie ambruk seketika dan menopang tubuhnya dengan lutut. Kenzie meremas bahunya yang mengeluarkan asap berwarna toska. Aku bisa melihat rasa sakit dan marah yang tersirat di matanya.

"Apa ini berarti kau mau bertarung serius?"

Felix hanya menyipitkan matanya pertanda mengiyakan, sementara Kenzie tersenyum miring. Aku bisa merasakan ada aura-aura tidak suka di antara mereka dan lagi-lagi semua itu karena diriku. Segala kekacauan yang terjadi hingga sekarang bermula dari diriku dan sekarang aku benar-benar diselimuti oleh rasa bersalah. Seandainya saja aku tidak ada, mungkin ini tidak akan seperti ini.

Suara dentuman kembali menggema dan menggetarkan tanah. Mereka kembali saling menyerang dengan sengit. Aku sedikit kesal karena Ulqi Kenzie yang menyelimuti tubuhku begitu pekat dan membutuhkan waktu lama untuk membebaskan diri. Aku jadi berpikir, bagaimana jika pasukan Dendez mengetahui ada yang bertarung di sini? Bukankah ini sangat menarik perhatiannya?

Loizh III : ReinkarnasiBaca cerita ini secara GRATIS!