5

368 13 0
                                    

“Selama 25 tahun, hari valentine ku selalu tragis. Ketika kelas 6, cinta pertamaku yang juga sahabatku, pindah sekolah tanpa mengatakan apapun pada hari valentine.”

Para siswa ribut karena guru kesayangan mereka akan menikah tanpa memberitahu mereka.

“Waktu aku kelas 2 SMA, guru yang ku sukai, menyatakan kalau dia akan menikah di hari valentine.”

“Lelaki brengsek yang ku kencani ketika umurku 20 tahun, ketahuan selingkuh dengan temanku di hari valentine.”

“Begitu juga hari valentine ku yang ke 26, sangat jelas akan menjadi tragedi.”

Eun Haeng melihat tanggalan, Tanggal 12 dan 13 tak ada catatan. Lalu ia membenarkan selimut Ibunya. ia teringat tawaran wawancara Ghae Rim. Juga teringat Choco saat menyanyainya apa ia mau pergi wawancara atau tidak.

Choco Bank masih tutup, semua pelanggan berkerumun di depan kafe. Ternyata Choco ketiduran sampai-sampai belum membuka toko.

Pelanggan membludak menuju hari valentine. Choco khawatir, Eun Haeng taka da padahal kebanyakan pelanggan yang datang ini untuk konsultasi masalah keuangan. Dal Su yang diajak diskusi malah meributkan wajahnya yang membengkak. Choco memukul kepalanya untuk menyadarkannya.

“Kita sedang mempertaruhkan kredibilitas.” Ujar Choco.

Hal yang ditakuti Choco terjadi juga. Salah satu pelanggan ingin segera konsultasi dengan Eun Haeng. Mereka kesal karena konsultannya tak kunjung datang. Choco tersenyum pada mereka dan meminta mereka menunggu sebentar.
Lalu Choco mengambil ponselnya dan menghubungi Eun Haeng. Eun Haeng tak segera menjawabnya. Lalu Ghae Rim menghampirinya, mengajalnya masuk ke runag interview. Jadinya telfon Choco gak diangkat.

Dal Su kesal karena Eun Haeng tak menjawab telfonnya. Pelanggan juga kesal karena kelamaan menunggu. Bahkan ada yang membatalkan acara nonton film untuk datang kesana. Mereka mulai ribut kalau artikel yang tersebar itu bohong.

Choco dan Dal Su maju untuk minta maaf. Pelanggan tak ingin mendengar maaf mereka butuh penjelasan, apa mereka akan mendapat konsultasi atu tidak.

“Tentang itu... Maaf sekali. Mulai hari ini, tak ada lagi konsultasi keuangan.” Jelas Choco.

Pelanggan benar-benar kesal karena Choco sudah membuatnya menunggu lama tapi unujg-ujungnya nggak ada konsultasi.

Dal Su mengambil alih, ia akan melantnkan sebuah lagu dan berharap pelanggan mau mendengarnya dengan minum secangkir coklat panas. Bukannya senang pelanggan malah semakin marah. Dal Su mundur dibelakang Choco. Choco membungkuk minta maaf lagi.

Kemudian Eun Haeng datang dengan nafas ngos-ngosan habis berlari.

“Apa yang terjadi, Kim Eun-haeng? Bagaimana wawancaramu?” tanya Choco.

“Kenapa ada banyak orang? Apa mereka pelanggan yang ingin mendapatkan konsultasi keuangan?”

“Iya.”

Lalu Eun Haeng mengenalkan diri pada pelanggan kalau aialah yang bertugas memberikan konsultasi. Dan pelanggan mulai tenang dan bergantian untuk mendapat konsultasi keuangan mereka.

Choco tersenyum senang tapi Dal Su curiga,,” Ada apa dengan Hyung? Apa dia melakukan itu agar terlihat keren?”

Disela-sela melayani pelanggan, Choco sempat melirik Eun Haeng, begitu juga Eun Haeng, disela-sela ia memberi konsultasi pada pelanggan, ia juga sempat melirik Choco dengan tersenyum.

Dal Su menangkap basah mereka yang saling melirik.
Setelah tutup, mereka pesta coklat panas. Dal Su protes, ia pingin sekali-kali ke pub, mereka kan bukan anak SD masa minumnya coklat panas terus. Choco malah memarahinya dan menyuruhnya untuk membuang sampah.

“Apa? Kau selalu menyuruhku membuang sampah. Noona, kau tak boleh memperlakukan orang seperti ini. Ingat! Kau hanya hidup sekali. Akan datang sinar terang dalam hidup Bae Dal-su!” ucap Dal Su dengan penuh semangat.

“Baiklah. Sekarang buang sampahnya.” Balas Choco.

Walaupun Dal Su gondok, tapi ia tetap pergi membuang sampah.

Di tinggal berdua, Choco mengeluarkan kotak coklat buatannya, tapi belum memberikannya pada Eun Haeng.

Choco bertanya, apa Eun Haeng baik-baik saja, setelah melewatkan kesempatan bagus yang datang setelah 5 tahun ia mencari pekerjaan. Benar juga, Eun Haeng menyesalinya saat ini.

“Kenapa kau kembali?” tanya Choco.

“Karena dirimu.”

Choco tak mengerti maksud Eun Haeng, ia memegang erat kotak coklat dipangkuannya.

“Kau bilang aku harus bahagia agar orang-orang di sekitarku juga bahagia. Itulah kenapa aku kembali. Aku juga ingin mencobanya.” Jelas Eun haeng.

Sepertinya itu bukan jawaban yang diinginkan Choco. Ia kembali menyembunyikan kotak coklatnya.

Seseorang membuka pintu, Choco mengira kalau itu adalah dal Su, tapi ternyata adalah Ibu Eun Haeng. Ibu memarahi Eun Haeng yang tega melakukan ini (bohong) padanya. Eun Haeng memintanya tenang dan mendengarkan dulu penjelasannya.

Ibu tak bisa, Eun Haeng selalu menjadi anak yang tenang didepannya, Ibu tak menyangka dibelakangnya Eun haeng seperti itu. Ibu menyeret Eun haeng keluar dari sana.
“Kumohon berhentilah!” bentak Eun haeng dan melepaskan tangan ibunya.

Ibu tercengang, ia masih belum percaya anaknya yang penyayang bisa menjadi kasar padanya.

apa aku boneka Ibu? Apa aku terlahir untuk menjalani hisupmu? AKu tak bisa. Sudah 15 tahun sejaka ayah meninggal! 15 Tahun! Selama 15 tahun, aku tak bisa hidup sesuai keinginanku. Itu karena pengorbanan ibu yang tak perlu. Aku bahkan sulit bernafas.”

“Putraku...”

“Kumohon berhentilah memanggilku seperti itu. Sebelum menjadi putramu, aku adalah Kim Eun-haeng. Jadi kumohon... berhentilah melakukan pengorbanan yang tak perlu. Jalanilah hidupmu sendiri, ibu! Kumohon!”

Ibu tak percaya, Eun Haeng melakukan ini padanya. Ibu tak bisa lagi menahan dirinya, ia menarik nafas beberap kali lalu jatuh tak sadarkan diri.

Ibu didalam ambulance. Eun Haeng mengenggam tangan ibunya dan terus memanggil ibunya, ia mungkin menyesali apa yang ia katakana tadi pada ibunya.

Ibu sudah dirumah tapi ia mengurung diri di kamar. Saat Eun Haeng membuka kamar Ibu, Ibu bahkan tak melihat kearahnya. Eun Haeng menutup pintu kamar ibunya kembali.

Choco menanyakan kabar Ibu Eun haeng lewat SMS. Eun Haeng tak membalasnya.

Choco menunggu cemas di kafe. Lalu ponselnya berbunyi dari Eun Haeng. Choco buru-curu mengangkatnya, tapi Eun Haeng tak kunjung bicara, sampai Choco harus mengatakan hallo dua kali.

“Ini aku.” Jawab Eun Haeng.

Choco lega, ia bertanya kembali bagaimana kondisi Ibu Eun Haeng. Ibu hanya butuh istirahat, jawab Eun Haeng.

Eun Haeng menelfon karena ingin mengatakan kalau ia rasa ia tak bisa kembali lagi ke kafe. Ia tak akan kembali. Jadi ia meminta Choco tak usah menunggunya. Lalu menutup telfon.

Choco tak bisa berkata apa-apa. Ia menatp kotak coklat di depannya dengan sedih.

“14 Februari 2016, begitulah hari valentine kelabuku terjadi lagi.”

***

Epilogue:

Eun Haeng menemui Direktur Kim, Ia membungkuk dan berkata,,’

“Maafkan saya, direktur. Saya datang untuk menyampaikan bahwa saya tak bisa menerima kebaikan anda.”

Ghae Rim tak percaya. Direktur Kim menanyakan alasan Eun Haeng.

“Tanpa saya sadari, saya mulai menyukai cokelat panas.”

“Coklelat panas?” tanya Direktur.

Eun Haeng hanya tersenyum tipis.

CHOCO BANK (KAI EXO)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang