The Findings pt. 1

1.4K 338 48

Setelah nginep semalaman di kantor polisi dan akhirnya berhasil meminta salah satu teman untuk jadi kuasa hukum gue di kasus yang nggak jelas ini, akhirnya gue bisa keluar dari tempat yang cepat atau lambat bakal bikin gue depresi tersebut, gak peduli deh mesti jadi tahanan kota, gue nggak bakal keluar kota juga dalam waktu dekat.

Waktu gue berjalan keluar darisana, teman gue tersebut langsung menyambut.

Waktu gue berjalan keluar darisana, teman gue tersebut langsung menyambut

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Sa... Sa. Ngapain sih lo tuh." Katanya sambil menggelengkan kepala. "Bikin gue kaget aja."

Gue cuma bisa tertawa sambil menepuk kedua pundaknya yang semakin lebar berkat nge-gym dan olahraga rutin.

"Malah ketawa doang." Potongnya sambil menyingkirkan tangan gue dari pundaknya. "Bisa-bisanya lo dituduh bunuh orang, bikin salah apa sih lo di kantor?"

Laksamana Keano, biasa dipanggil Ken atau Ano, dikenal punya pribadi yang serius dan dingin, tapi sesungguhnya dia baik banget kok. Kalau nggak ya mana dia mau bantuin gue ngurusin kasus ini, karena setau gue dia udah punya kasus yang lebih besar dan lebih penting untuk diusut.

"Gak tau gue juga, makanya gue minta tolong lo supaya gue bisa keluar dari sini, No. Biar bisa nanyain orang-orang kantor gue ada salah apa."

Keano cuma tertawa tipis sebelum kemudian menyamakan langkahnya dengan gue yang udah nggak sabaran pengen cepat-cepat pergi dari tempat yang membosankan itu.

"Tadi gue udah omongin semuanya, gakpapa kan lo jadi tahanan kota sementara?"

Mendengar status tersebut, gue langsung menghela napas berat. "Sebenernya sih gue males banget ya dibilang tahanan, mau tahanan kota kek, mau tahanan negara kek, tahanan benua kek, namanya tetep tahanan gitu, jelek aja. Tapi yaudah lah, selama gue masih bisa menjangkau orang-orang kantor dan nyari bukti-bukti yang bisa memperkuat posisi gue..."

Keano bukan orang yang sering tersenyum, sekalinya tersenyum pasti waktu dia bisa memenangkan persidangan atau bisa membungkam lawannya dengan bukti-bukti konkrit, tapi kali ini dia tersenyum ke gue dengan ramahnya, bikin gue agak takut.

"Kenapa lo senyumin gue?"

"Emang gak boleh?"

"Serem woy."

"Gue bangga aja punya temen yang pemikirannya maju banget begini." Katanya pelan seraya memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Nanti kalau udah dapet bukti banyak, langsung kasih ke gue ya."

"Ya terus lo nggak bantuin gue gitu?"

"Gue bantu bikin statement." Keano menepuk bahu gue sekali. "Gue balik dulu ya, masih ada kasus lain."

"Bener-bener ya lo, No."

Bukannya menjawab atau apa, dia malah terus berjalan meninggalkan gue tanpa menoleh sedikitpun. Dia nggak sadar apa ada bantuan lain yang gue harapkan saat ini?

InsentientBaca cerita ini secara GRATIS!