Prologue

134K 13.9K 584
                                    

Sehun menyeringai saat melihat tubuh pria mengenaskan yang tergeletak tak berdaya di hadapannya. "Katakan siapa yang mengirimmu, sialan!"

Pria itu meringis. Darah segar keluar dari mulutnya, tetapi pria itu tetap bungkam. Pandangannya fokus ke arah Sehun. Sinar matanya mengeluarkan kebencian yang begitu mendalam. Tubuhnya yang terkoyak tidak menggentarkan sorot mata tajamnya. Ia terkekeh pelan, tanda tidak takut dengan yang namanya kematian.

"Apa yang kau tunggu? Cepat bunuh aku! Lebih baik aku mati, jika tidak bisa membawa mayatmu, Oh Sehun!"

"Harga dirimu sangat tinggi rupanya." Sehun terkekeh, lalu dengan sadis ia menginjak kepala pria itu. Sehun tidak peduli dengan teriakkan kesakitan pria muda yang berusia sekitar 23 tahun itu. Yang Sehun inginkan hanya satu. Dia ingin tahu siapa yang mengirimkan pembunuh bayaran untuknya.

"Bagaimana? Masih ingin mati?"

Bughh! Bughh!

Sehun menginjak-nginjak kepala pria itu dengan sepatu burberry miliknya. Seketika darah segar langsung muncrat hingga memasahi lantai basement yang dingin.

"Aghhhh...." Pria itu hanya berteriak kesakitan, tetapi dia tetap tidak ingin membuka mulutnya. Ck! Benar-benar anjing yang setia.

Napas Sehun menggebu. Ia membalikkan sepatunya yang ternyata sudah penuh dengan darah. "Cepat kau urus mayatnya! Sepertinya dia sudah mati."

Sekretaris Kim yang sedari tadi diam saja, dengan cepat memeriksa denyut nadi pria itu. "Dia sudah mati, Tuan."

Sehun berdecak kesal. Seharusnya dia tidak boleh membunuhnya. Bagaimanpun juga, Sehun belum mendapatkan informasi tentang siapa yang mengirim mereka.

Ya, saat ini mereka sedang berada di sebuah basement kelab mewah miliknya. Sehun tidak menyangka akan disergap oleh 7 pria bertopeng yang membawa pistol dan pisau. Nyawanya hampir saya melayang jika bukan karena teriakan seorang gadis yang melihat pembunuh itu mengintainya dari belakang.

Sehun menatap tajam ke 7 mayat yang sudah berhasil ia bunuh dengan tangannya sendiri. "Cepat bereskan mereka. Jangan sampai ada jejak. Perintahkan juga orang-orangmu untuk menghapus rekaman CCTV dan black box mobil yang terparkir di sini."

Sekretaris Kim mengangguk, lalu menelpon orang kepercayaannya untuk membuang mayat itu ke laut. Untuk urusan rekaman CCTV dan black box, itu perihal yang mudah. Sekretaris Kim bisa mengerjakannya sendiri.

Setelah memastikan semuanya aman, kini perhatian Sehun teralih ke gadis mungil yang bersembunyi di belakang mobilnya. Dari segi pakaiannya, sepertinya ia bukan wanita penghibur. Gadis itu memakai celana trening dan sweater abu-abu. Sehun terdiam sejenak, apa gadis itu gila?

Ya, hanya wanita gila yang memakai pakaian seperti ini ke kelab malam.

"Siapa namamu?"

Gadis itu pucat pasi. Kerongkongannya tercekat saat tangan Sehun menyentuh anak rambutnya yang berserakkan, lalu menanyakan namanya.

"Jawab, sialan! Jangan membuat aku marah." Sehun geram saat melihat gadis itu mengunci mulutnya rapat-rapat.

"A-aku---" Gadis itu tidak sanggup berbicara. Ia ketakutan, lalu semuanya gelap.

Gak jauh berbeda dari versi sebelumnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Gak jauh berbeda dari versi sebelumnya. Tapi Astungkara versi ini lebih rapi, lebih minim typo, tanda bacanya lebih terstuktur, dan gaya bahasanya sedikit berubah. Jadi jangan lupa vote dan komennya, ya :*

Sedih banget komen inline-nya hilang:")

SECRET TUTORTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang