Hari ini senja tampak lebih indah dari biasanya, ya, itulah yang aku lihat walaupun mungkin orang lain tidak, entah mengapa sore ini aku ingin sekali bersenandung di sepanjang perjalanan pulang ku, mungkin sekarang aku adalah orang yang paling berbahagia di jalan ini, aku ga muluk-muluk untuk mengatakan aku yang paling berbahagia di dunia ini karena nampaknya di depanku ada sepasang manusia yang sedang di mabuk cinta ( seperti judul lagu sebuah grup band baru sepertinya, tapi entahlah aku tak ingat, Heze . . . ) mereka hendak menyebrang dan tangan mereka saling menggenggam dengan senyum yang dikulum di setiap pasangannya. Ya tentu mereka lebih bahagia dari aku. Senandung ku seakan menjadi senandung kehampaan yang dikeluarkan dari mulut seorang gadis yang ku yakin
sudah tidak muda lagi.
Langkah kakiku yang tadinya bersemangat menjadi terseok-seok tak ada selera seperti hari-hari sebelumnya, dalam hati aku selalu berteriak “ ohhh . . . malangnya nasibku”. Kupandangi gerobak – gerobak yang menjajakan makanan disore hari, mereka sedang membereskan tenda-tenda kecil untuk para pengunjung mereka nanti, bermacam-macam makanan yang ada di sepanjang jalanan ini, pastinya aku sudah hafal karena aku sudah melalui jalanan ini selama hampir 4 tahun terakhir ini, malah mereka sudah mengenalku dan kami seperti bersahabat, candaan antar pembeli dan pedagang sudah tak canggung lagi kurasa, karena aku sudah mendaftar menjadi member tetap mereka kecuali kalo hari weekend karena biasanya aku makan diluar, biasanya aku jalan bersama teman-teman kuliah ku dulu atau bersama dengan teman kantor ku sekarang.
“neng kenapa ngelamun aja? Mau abah godain ga?” aku hanya tersenyum saja melihat candaan abah jingkrak, ya itulah nama seseorang yang sedang menyapaku sekarang, lelaki tua yang mungkin umurnya seumuran dengan kakekku di rumah, padahal di sampingnya ada istrinya yang sedang mengiris bawang untuk persiapan jualan mereka, mereka menjual nasi goreng, dan jujur itu adalah salah satu makanan favorit ku semenjak si abah ini membuatkan nasi goreng ati ampela kepadaku 4 tahun lalu ketika pertama aku pindah di kontrakan wilayah ini. Istrinya si abah ini hanya mengulum senyum saja sambil lalu, ooohhh apakah kalian akan berpikir kalau si abah ini tua-tua keladi (seperti judul lagu lagi sepertinya)? Oohhh tidak, si abah ini memang selalu menggodaku kadang-kadang, tapi semua itu hanya sebatas candaan yang akan merubah mukaku yang berlipat-lipat setiap pulang kerja menjadi ceria lagi, kadang si abah ini menjadi tempat curhatku juga untuk melampiaskan segala unek-unek kantorku yang setumpukan. Kalau untuk masalah kesetiaan abah terhadap istrinya jangan di tanyakan lagi, mereka sungguh romantis, atau kata anak muda sekarang so sweeeeettttt, ini ciyus lho . . . coba kalian pikirkan sampai setua ini mereka selalu memanggil pasangan meraka dengan sebutan sayang, cinta, beibh, mimi-pipi ( seperti panggilan sang diva Indonesia kita kepada suaminya dulu), atau masih banyak kata-kata romantis mereka yang ku akui ini seperti panggilan untuk pasangan muda-mudi sekarang yang umurnya masih dibawah dua puluh lima tahun, tak percaya dengan kata-kataku?? Silahkan kalian buktikan sendiri . . . pernah juga ketika itu aku pulang tidak terlalu sore dan melihat mereka baru datang untuk membuka lapak, dan aku melihat si abah ini selalu menggenggam erat tangan istrinya ketika berjalan seperti pasangan muda yang berpapasan dengan ku tadi. Apakah kalian masih meragukan kesetiannya abah dan istrinya?? Kurasa kalian mulai sekarang akan berpikiran sama sepertiku.
“Hehe . . . abah bisa aja, udah siap tempur bah?” tanyaku, bertempur disini bukan berarti akan berperang melawan belanda atau bangsa-bangsa lainnya ya, tapi maksud kami adalah bertempur dengan wajan dan para pembeli
“bentar lagi neng, sayangku masih nyuci sayurannya supaya bersih, mau ditunggu?” tanyanya padaku yang masih melongo di depan gerobaknya
“ okelah bah, nasi goreng biasa buat saya satu ya” aku langsung duduk di bangku yang telah disediakan setelah memesan, oHya nasi goreng biasa yang aku pesan bukan berarti itu nasi goreng yang rasanya biasa-biasa aja, tapi nasi goreng yang biasanya aku pesan di warung abah ini, abah sudah tau rasa favorit yang saya inginkan, rasa ati ampela, sedikit kecap karena aku tidak begitu suka masakan manis, dan tidak pake pedas sedikit pun, bukan berarti aku ga suka pedes, tapi entah mengapa aku tidak suka nasi goreng pedas sedikitpun, dan ohh bukan lagi nasi goreng biasa jika menyangkut soal rasa tapi jadi nasi goreng luarrr biasaaa
KAMU SEDANG MEMBACA
Segelas Cinta
Romancemanda, seorang perempuan yang tidak bisa dikatakan masih belia yang sudah tidak percaya akan adanya cinta untuknya, kemudian tiba-tiba ia dijodohkan oleh orang tuannya , bagaimanakah caranya untuk meyakinkan bahwa cinta itu masih ada untuk dia? apak...
