Extra Part 1

3.2K 281 53

Extra Part

"Pagi Ndok." Suamiku menyapaku saat aku sedang sibuk menyiapkan sarapan. Dia memanggilku dengan sebutan itu karena aku berdarah jawa, itu panggilan berasal dari kata "GENDUK" atau "KESAYANGAN" untuk anak perempuan.
Entah mengapa dia memanggilku seperti itu. (Inspired by suaminya Author yang manggil mak Author seperti itu juga). Meski begitu ketika di depan anak-anak dia menyebutku "Bunda"

"Pagi Ayah." Aku memanggilnya dengan sebutan Ayah, itu untuk maksud membiasakan anak-anak kami memanggil bapaknya dengan sebutan Ayah.

"Mau kemana pagi-pagi?"

"Jogging." Dia naik lagi ke lantai dua.

"Kok naik ke lantai dua, joging di dalam rumah?"

"Bangunin anak-anak." Dia turun lagi, mendekatiku ke arah dapur.

"Ini weekend, dan mereka libur, biarin mereka istirahat lah, kasihan, lagian mereka masih kecil." Sejak mereka menginjak usia lima tahun suamiku mulai menerapkan pendidikan semi militer untuk anak-anak. Bangun pagi, olahraga, joging, bersepeda, atau berenang, makan sayur, buah, minum susu itu wajib hukumnya, tidak mengijinnkan anak-anak makan daging olahan seperti nuget, sosis, atau ham, meski sesekali anak-anak melawan, selalu cuci tangan, dan sikat gigi sebelum tidur itu juga hal wajib.

"Bapak saya pernah bilang kalau membangun karakter anak itu harus sejak dini, kalau kamu mau merubah karakter anak setelah mereka tumbuh dewasa maka kamu sudah sangat terlambat."

Aku tahu betul kedisiplinan suamiku diturunkan dari mendiang bapak mertuaku, memang dia menjadi pria idaman setelah dia tumbuh dewasa, tapi prosesnya sejak kecil dididik sedemikian rupa membuatku tidak tega, apalagi anak-anakku harus megalaminya juga.

"Iya, tapi bisa tunggu sampai mereka masuk SD kali." Aku masih berusaha membela.

"Kalau begitu kamu adalah orang pertama yang harus saya disiplinkan, karena kamu ibunya anak-anak." Dia memelukku dari belakang, mencium pundakku, lalu berbalik mengambil gelas untuk minum air mineral.

"Saya nga akan kompromi sama kamu soal kedisiplinan anak-anak."Dia berbicara setelah menyelesaikan segelas air dalam gelasnya.

"Tapi mereka bisa tertekan ayah."Aku merengut ke arahnya.

"Mereka akan belajar." Dia menaikkan alisnya, tersenyum "Saya tahu kapasitas mereka, jadi kamu tenang aja."

Aku menarik nafas panjang, dan membiarkan suamiku melakukan yang dia inginnkan.

***


Satu jam kemudian kulihat mereka tampak mentertawakan sesuatu saat memasuki rumah, lengkap dengan kostum joging.

"Sarapan." Bang Jo bertingkah seperti Marcello dan Aurellie, dia berlari ke arahku.

"Kok Ayah peluk Bunda sih? Sarapannya kan di meja?" Aurellie tampak protes.

"Itu sarapan kalian, susu harus di habiskan, makan juga telur sama sayurannya ya." Bang Jo memberi komando dan mereka seketika berteriak kompak "Siap Kapten" Sambil tangan kanan mereka memberi hormat pada Ayahnya.

"Bagus." Bang Jo membalas hormat mereka "Ayah punya hadiah untuk anak ayah yang rajin bangun pagi."

"Apa?"Mata Aurellie berbinar mendengar kata hadiah.

"Ada di kamar Ayah." Bang Jo menaikkan alisnya.

"Ayo diambil dong.." Marcello tampak berjingkrak-jingkrak girang.

"Ayah butuh bantuan bunda buat ambil hadiahnya. Kalian lanjutin sarapan, habis itu Mba Tina akan bantu kalian buat mandi. Ok?"

"Siap komandan." Lagi-lagi mereka berteriak kompak.


Bang Jo menatapku, menaikkan alisnya. "Apa?" bisikku.

"Ambil hadiah." Bang Jo berkedip padaku.

"Sepagi ini pak tua?"

"Saya masih cukup kuat ya."

Aku menggeleng tidak percaya, sementara mba Tina masuk ke dalam ruang makan membantu Marcello dan Aurellie untuk sarapan.

(Base on real personality suami mak author)

JBS (Ready on Google Playbook - Venom Publisher)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang