-Your Mom-

Aku menarik nafas panjang, kubuka halaman selanjutnya.



Semua proses yang kualami sama sekali tidak nyaman, pemeriksaan USG Trans V terutama. Tapi demi sebuah kehamilan aku rela melakukan apapun.


Aku ingin mengingat setiap detail yang kujalani untuk melakukan proses IVF ini, meski tingkat keberhasilannya cukup tinggi tapi masing-masing orang ternyata memiliki faktor yang berbeda sehingga tidak bisa di pukul rata untuk tingkat keberhasilannya.

Pertama kami mendatangi klinik ternama di Jakarta yang sudah sangat terkenal untuk prosedur IVF ini. Kami mendaftar, melengkapi semua dokumen yang di syaratkan. Kemudian kami mengatur jadwal untuk konsultasi dokter.

Hari berikutnya kami datang lagi, dan aku melakukan USG pada hari ke-20, dan bang Jo menjalankan Sperma Analisa setelah berpuasa berhubungan selama dua sampai lima hari.

Setelah itu prosedur berikutnya adalah mengatur jadwal IVF. Kami harus tandatangan form conset, membayar join fee yang tidak murah, kemudian mulai di suntik selama sepuluh hari.

Tahap berikutnnya aku harus di USG dan check darah (E2) dilanjutkan konsultasi doketr. Tidak banyak yang dokter katakan, hanya memintaku bersiap untuk prosedur berikutnya.

Dan hari itu tiba dimana aku harus USG lagi, check darah (E2 P4), dilanjutkan dengan konsultasi dokter, kemudian suntik triger.

Tahap berikutnya begitu penting, yaitu OPU (Ovum pick up) sel telurku diambil saat itu. Dan pada saat yang sama tidak hanya diambil satu sel telur. Dokter bilang ada tiga sel telur yang siap di buahi. Prosedur OPU tidak boleh terlalu cepat, juga tidak boleh terlalu lambat, sel telur harus segera diambil sebelum sel telur sampai ke bagian follicles dalam ovarium. Jika terlalu cepat atau terlalu lambat maka kemungkinan sel telur tidak akan berkembang secara normal. Tahapan ini memakan waktu sekitar tigapuluh menit sampai satu jam. Dan sperma segera di satukan dengan sel telur secepatnya setelah sel telur berhasil diangkat dari dalam folikel.

Dan proses yang terakhir adalah ET atau Embrio Transfer, itu biasanya dilakukan pada saat menstruasi hari ke limabelas sampai dengan ketujuhbelas. Dan aku bahkan hampir tidak percaya bahwa hari itu adalah tadi siang. Akhirnya benih itu kembali tumbuh di rahimku, meski konsekwensinya adalah bedrest selama bulan-bulan awal kehamilan. Tapi aku sudah mendapat dispensasi dari rumahsakit untuk tidak praktek selama enam bulan awal kehamilanku dilanjutkan enam bulan berikutnya, sehinngga total menjadi satu tahun full.

Satu-satunya harapanku adalah bayi ini bisa benar-benar lahir, sehat dan selamat. Aku benar-benar ingin membahagiakan suamiku dan semua orang disekitarku dengan bayi yang akan kulahirkan.




Aku berdehem, betapa dia hanya memikirkan orang lain, dia tidak memikirkan dirinya sendiri. Dia begitu ingin membuat orang lain bahagia, tanpa memikirkan dirinya. Aku begitu menyesal ketika aku akhirnya setuju untuk melakukan IVF. Aku tidak pernah tahu ketakutan yang dia hadapi, juga banyak rasa sakit yang dia tanggung, terlebih rasa sakit karena IVF pertama yang kami lakukan juga gagal di usia kehamilan empat bulan. Dan itu menjadi pukulan telak baginya.

Dia benar-benar tidak memiliki sisa harapan lagi dalam hidupnya. Bahkan meski dokter masih memberi harapan beberapa persen untuk melakukan IVF kedua, tapi dia sudah menyerah.

Aku menarik nafas panjag, mengingat hari itu. Hari di mana aku datang sendiri untuk konsultasi tentang kondisi isteriku pada dokter yang menangani IVF kami. Satu-satunya cara adalah meminta seseorang membantu kami untuk mengandung bayi kami. Karena kondisi rahim isteriku sudah begitu lemah untuk ditumbuhi embrio.

Itu bukan hanya pukulan telak bagi isteriku, tapi juga bagiku. Wanita lain? Apakah itu artinya kami harus melibatkan pihak ketiga untuk memiliki seorang bayi? Berbulan-bulan aku berusaha meyakinkan diriku untuk bicara padanya, tapi saat pertama kali aku mengatakannya, itulah hari di mana kami memulai perang dingin diantara kami. Dia menganggap aku ingin memiliki wanita lain, sementara maksudku adalah untuk memberikan alternatif padanya bahwa dia tetap bisa menjadi seorang ibu meski dia tidak pernah melahirkan. Bagiku anak bukanlah segalanya, kecuali bagi ibuku. Tapi bagi isteriku, tidak bisa mengandung sudah dianggap kegagalan paling hakiki dalam kehidupannya sebagai seorang wanita.

JBS (Ready on Google Playbook - Venom Publisher)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang