BAB 52

2.9K 317 51

BAB 52


Ini hari ke tujuh aku berada di rumah sakit, aku bahkan tidak pernah tidur di rumah selama tujuh hari terakhir. Tapi isteriku, Aryani belum juga bangun dari tidur panjangnya, sementara kemarin sore mas Danu dapat telepon dari mba Maria, isterinya bahwa dia akan segera melahirkan.

"Jo, kamu harus kuat. Semoga semua akan segera membaik." Mas Danu memelukku.

"Iya mas." Aku membalas memeluknya, dia benar-benar seperti kakak laki-laki untukku, dia begitu mengayomi dan sabar. "Saya titip mba Maria sama anak-anak sama mas Danu."

"Iya, saya dan isteri saya akan berusaha yang terbaik buat kamu dan Aryani."


"Sampaikan salam saya buat mba Maria mas."

"Iya, nanti saya sampaikan." Mas Danu tersenyum padaku "Saya akan kirim foto anak-anak begitu mereka lahir."

"Iya mas." Air mataku menetes saat itu juga. Aku tidak percaya saat seperti ini akan terjadi dalam hidupku.

"Huftt." Aku tersadar dari lamunanku akan kejadian emosional sore kemarin. Kabar bahagia bagi mas Danu, tapi kabar itu justru jauh lebih berharga bagiku, aku seperti berada di antara gelembung yang bercampur, menenggelamkanku, disatu sisi aku sangat bahagia untuk kabar dari mba Maria, tapi di sisi lain aku masih begitu khawatir tentang kondisi Aryani isteriku.

Hari ini aku mencoba membuka lagi buku agenda itu, ada tigabelas lembar yang dibiarkan kosong, hanya bertuliskan tanggal ia menulis dan sebuah kalimat "Nothing but sad." Di halaman ke empat belas aku menemukan sebuah catatan panjang, bahkan sampai berlembar-lembar kebelakang.


Aku mulai membacanya.

Ini kali pertama aku menulis lagi setelah hari-hari buruk, yang hampir setiap hari aku juga bermimpi buruk, aku juga membuat hati suamiku menjadi begitu kecut melihat kondisiku. Aku sampai berpikir apakah aku mengidap gangguan mental? Untunglah dukungan suamiku padaku tidak pernah putus. Kami berbicara banyak untuk memulai lagi semua dari awal setelah tigabelas bulan aku berusaha menenangkan diri.

Setahun yang lalu kami mulai konsultasi ke dokter mengenai kondisiku, dan kemungkinann untuk hamil kembali. Tapi dokter menyarankan untuk menunda kehamilan sampai satu tahun lagi, mengingat riwayat kelahiran caesar yang ku jalani untuk mengeluarkan baby Garnetha.

Bayi malang itu memang lebih di sayang Tuhan rupanya, Tuhan mengambilnya lagi sebelum aku sempat mendengar tangisannya. Alasan medis karena tali pusatnya terlilit sehingga supply oksigen dan makanan tidak diperoleh dengan baik, dan entah mengapa aku tidak menyadari hal itu. Aku hanya merasa bayiku sangat tenang di dua hari terakhir sebelum akhirnya jantungnya dinyatakan tidak berdetak lagi. Aku selalu menyalahkan diriku untuk semua itu, tapi ibuku meyakinkanku bahwa anak adalah bagian dari rejeki, bagian dari karunia Tuhan yang bisa kapan saja Tuhan berikan, atau bahkan ambil.


~Aryani~



Hatiku bergetar membaca apa yang dia tulis bertahun lalu, dia tidak lagi bicara pada anaknya, dia hanya bicara pada diri sendiri.

Kubuka lembar berikutnya. Itu berisi semua ketentuan tentang IVF.


Aku dan Ayah memutuskan untuk berusaha menghadirkanmu dengan sebuah cara yang disebut IVF atau In Virto Fertilisation atau istilah umumnya bayi tabung. sebenarnya ini opsi terakhir yang ibu pilih untuk menghadirkanmu, tapi bagaimana lagi. Setelah melalui pemeriksaann mendetail ada mioma yang menghalangi kami untuk memiliki dirimu, dan ibu juga mengalami siklus menstruasi yang menjadi tidak teratur setelah kelahiran kakakmu Garnetha.

Tapi tekad ibu sudah bulat, dan kami akan melakukan semua prosesnya besok pagi. Semoga ini adalah cara yang terbaik untuk membuatmu hadir di tengah kami nak.

JBS (Ready on Google Playbook - Venom Publisher)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang