Chapter 10: GwangJeong?

1.6K 130 12

 Ada yang lain hari ini, setelah selesai sekolah, Joon So langsung dijemput Mr. G untuk menemui Peter.

"Apa yang terjadi?"

"Kau mendapatkan Hadiahmu, Joon So-ya."

"Ibuku? Apakah tuan Peter menemukan ibuku?" Tanya Joon So lagi.

"Kau akan tahu nanti." Jawab Mr. G sambil tersenyum.

Joon So tersenyum, matanya berbinar. Sosok ibu yang sangat ia rindukan, ia dapat membayangkan wajah itu ketika matanya terpejam. Joon so mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan koin keberuntungannya, dia genggam erat koin itu.

Tidak berapa lama mereka pun sampai di kediaman Peter. Joon So segera turun dari mobil, ingin rasanya ia berlari kencang dan langsung mencari ibunya di ruangan Tuan Peter. Tapi ia tahan sekuat tenaga karena ia harus menjaga kesopanannya.

Joon So dan Mr. G masuk kedalam ruang tamu, Joon So langsung mencari-cari sosok ibunya disana. Ia menemukan seorang perempuan cantik yang sangat ia rindukan, sama dengan wanita yang selama ini selalu ada dalam pikirannya. Hanya saja sudah ada beberapa kerutan diwajahnya dan rambutnya yang sudah mulai memutih. Wajahnya masih sama, teduh, sangat teduh dan menenangkan hati Joon So. Seketika Joon So melupakan semua sopan santun yang sedari tadi ia lakukan, ia berlari mendahului langkah Mr, G dan melewati kursi Tuan Peter tanpa permisi.

"IBU...." Teriak Joon So sambil merengkuh ibunya dalam pelukan. Yang dipeluk tidak kalah memeluk anaknya kuat. Joon So menangis, begitupun ibunya. Mereka dibiarkan melepas rindu beberapa saat. Diam-diam Peter mengusap air matanya yang terjatuh, dia teringat istri dan anaknya yang sudah meninggal 12 tahun yang lalu. Mr. G menyodorkan tisu, karena sedari tadi Peter mengusap airmatanya dengan jari-jari tangannya.

Setelah melepas rindu, Joon So pun bercerita tentang pertemuannya dengan tuan Peter dan bagaimana kehidupannya selama di Amerika. "Apa yang terjadi padamu, ibu? Apa yang terjadi setelah kecelakaan itu?"

Ibu Joon So tersenyum dan membelai rambut Joon So sayang. "Lain kali ibu akan menceritakan semuanya padamu. Untuk sekarang bisakah kita hanya menceritakan masalah kita?"

Joon So mengangguk dan kembali memeluk ibunya.

@ @ @

"Tuan bolehkan aku meminta sesuatu lagi?" Tanya Joon So saat ibunya telah pergi beristirahat.

Tuan Peter menatap wajah Joon So heran, "Bukan kah keinginan terbesarmu untuk bertemu dengan ibu kandung?"

"Tuan, dari semua hadiah uang yang saya terima. Bisakah saya meminta tuan untuk membelikan saya sebuah tempat tinggal, tidak peduli seberapa kecilnya. Saya ingin tinggal bersama dengan ibu saya. Saya bisa menjamin saya tidak akan menurunkan prestasi belajar saya walau saya tidak tinggal di asrama."

Tuan Peter terdiam sejenak. "Kelulusan mu dari SMA tinggal menghitung minggu, tentu saja kau harus keluar asrama setelah itu. Kau tidak usah memikirkan tempat tinggal, tinggallah disini, kau bisa pakai bagian kamar timur atau barat. Tapi ada syarat yang ingin aku ajukan."

"Apa itu, tuan?"

"Kau telah mengikuti berbagai perlombaan. Uangmu ini maukah kau gunakan untuk berinvestasi saham?"

"Uang sekecil itu, tuan?"

"Ini sudah lebih dari cukup untuk 'bermain' trading. Aku ingin tahu kemampuan mu dalam dunia bisnis. Kau sudah memilih ingin belajar apa di universitas nanti?"

"Management Business." Jawab Joon So Mantap dan disambut senyum puas Peter.

"Gunakan uang itu untuk mencoba 'bermain' saham, aku akan melihat performa mu. Bagaimana?"

"Baiklah tuan, terimakasih atas kebaikan tuan."

@ @ @

Pagi itu Joon So terbangun di tempat yang sama, iya di tempat Ha Jin, Karena demam yang dia miliki ia harus menginap malam tadi. Joon So bangkit dari tidurnya dan dia bisa melihat Ha Jin tengah tertidur di kursi tak jauh dari tempatnya. Joon So bangkit dan meletakkan selimut di badan Ha Jin, saat itu Ha Jin merasakan sesuatu menyentuh tubuhnya dan terbangun.

"Maaf aku membangunkanmu."

Ha Jin buru-buru duduk tegak, "Tidak apa-apa, Pak."

"Ini hari libur tidurlah lagi, sepertinya kau kurang tidur karena menjagaku."

"Animida, saya akan buatkan sesuatu untuk anda. Silahkan tunggu disini, Pak."

Ha Jin bangkit dan segera menuju dapur kecilnya. Joon So yang disuruh menunggu malah mengikuti Ha Jin dan melihat-lihat sekeliling saat Ha Jin memasak bubur.

"Gyopta," ujar Joon So saat melihat foto-foto di meja.

"Bisakah anda duduk, pak. Demam anda sangat tinggi malam kemarin. Anda akan jatuh pingsan lagi jika anda banyak bergerak."

Joon So tersenyum mendengar omelan Ha Jin. Dengan cepat Ha Jin menyelesaikan masakannya, ia pun menyodorkan semangkuk bubur dan segelas air putih.

"Wa, sepertinya lezat." Joon So segera mengambil sendok dengan tangan kanannya dan langsung terjatuh. "Tampaknya tangan dengan perban tidak mampu mengangkat sendok. Akan kugunakan tangan kiriku." Joon So segera mengambil sendok dengan tangan kirinya, dan sendok itupun bergetar hebat sebelum kembali terjatuh, "Ada apa dengan tangan kiriku ya?" Tanya Joon So pada dirinya sendiri sambil kembali mencoba mengambil sendok dengan tangan kirinya. Buru-buru Ha Jin mengambil sendok itu dan menyendok bubur, dan menyodorkannya pada Joon So.

"Anda demam hebat tadi malam, dan belum ada makanan yang masuk. Mungkin tangan kiri anda kehabisan tenaga sehingga bergetar hebat."

Joon So menyambut suapan Ha Jin, dan menelannya dengan semangat. "Bahagia, kata yang sudah lama tidak ada dalam pikiranku."

Ha Jin tak menanggapi dan kembali menyodorkan satu sendok bubur lagi pada Joon So.

"Ceritakan padaku, pria seperti apa yang mirip denganku? Apakah dia yang menipumu dengan meninggalkan hutang?"

Ha Jin kembali tidak menjawab, Joon So lalu melanjutkan kata-katanya, "Ini bukan kantor, apakah kamu tidak mau menjawab pertanyaan pribadi lagi? Lihat ini" Joon So mengangkat tangannya yang di perban, "tidak bisakan kau anggap akau teman? Setelah aku menjadi tameng-mu?"

Ha Jin menghembuskan napasnya sebentar, "Apa yang ingin anda tahu, Pak?"

"Ceritakan tentang pria yang mirip denganku."

"Dia adalah pria yang aku cintai. Karena aku sangat mencintainya aku pernah sengaja menyakitinya. Aku ingin kembali padanya, tapi aku tidak bisa karena dia berbeda."

"Apa yang membuatmu tidak bisa kembali padanya? Apakah dia berada sangat jauh? Kau bisa memakai pesawat untuk menemuinya."

"Tidak, dia lebih jauh dari sebuah tempat yang bahkan bisa dijangkau pesawat."

"Apakah dia meninggal?"

"Bapak boleh berpikir begitu, Saya pun berpikir seperti itu."

"GwangJeong, Wang So." Ujar Joon So pada Ha Jin.

Ha Jin menatap wajah Joon So dengan heran, "Siapa anda sebenarnya?"

to be continued...

Moon Lovers Scarlet Heart Ryeo (Seoul) Season 2 (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang