BAB 49

3.2K 334 70

BAB 49


Satu minggu setelah kami kembali dari Medan, kesibukan kami dalam hal pekerjaan menenggelemkan kami, sampai kami tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Sudah seminggu aku selalu meringkuk sendiri di ranjang, entah pukul berapa dia pulang, dan pagi saat aku bangun, dia justru kadang sudah siap dengan kemeja dan dasinya.

Tidak ada weekend, dating after marriage seperti yang kami rencanakan. Seperti pagi ini, saat aku terbangun dan ini masih sangat pagi, pukul enam, kulihat dia sudah tidak berada di kamar. Dia justru sudah membaca koran sambil menyeruput kopi di meja makan. Dia juga sudah terlihat rapi dengan kemeja berwarna biru dan celana jeans.

"Kerja juga hari ini?" aku berjalan mendekatinya sambil mengikat rambutku menjadi ekorkuda.

"Hei." Dia menoleh, tersenyum padaku, kemudian melipat korannya saat aku berjalan semakin dekat kearahnya. "Ketemu sama klien di rutan cipinang, habis itu ke kantor sebentar ada quick meeting."

Aku meyimak sambil meraih roti tawar, lalu mengoleskan selai coklat." Emm...Abang kelihatan sibuk banget minggu ini." Aku menyodorkan roti tawar padanya, dan dia meraihnya "Thank you."

Mbak Tina yang sedari tadi mencuci piring di wastafel akhirnya pergi dari tempat itu, menyisakan tinggal kami berdua.

"Maaf ya, harus di tinggal terus." Dia melirik padaku, tapi wajahku sudah terlalu kecut utuk di pandang. Aku tidak menjawab, hanya menarik nafas berat, meraih gelas lalu kuisi dengan air mineral, meminumnya pelan-pelan.

"Kamu marah?"

"Enggak."aku jelas berbohong.

"Lusa sidang putusan untuk kasus ini, jadi kita bisa punya waktu free untuk melakukan semua yang kamu mau." Kalimatnya terpotong " steelah itu." lanjutnya.

Tampaknya dia memberi harapan palsu padaku. Dating after marriage belum pernah terjadi bahkan setelah kami kembali ke kota ini sekitar satu minggu yang lalu. Hari ini aku tidak praktek, da aku sedang sangat bingung, apa yang harus kulakukan dirumah sebesar ini tanpa dirinya.

Em... jika kalian bertanya soal siksaan manis, sama sekali tidak terjadi setelah terakhir di rumah mertuaku. Aku mulai berpikir, bagaimana aku menikmati hari-hari kesepian seperti ini, jika dia terus saja sibuk dengan dunianya, bahkan di minggu-minggu awal kami sebagai suami isteri.

"Kamu ada acara kemana hari ini?" Dia menatapku, tapi aku hanya mengangkat bahuku. Aku bahkan belum memikirkan bagaimana aku akan melewati hariku.

"Kamu kan bisa belanja, kesalon, meet up sama temen-temen kamu." Dia memberi ide, tapi tidak ada satupun yang terdengar menarik di telingaku. Aku tidak menjawab, menatapnya enggan, dia bangkit dari kursiya, memutar mendekatiku, mengecup keningku sekilas "Saya berangkat."

"ehm." Jawabku singkat.

"Kabari saya kalau kamu berubah pikiran." Dia meraih wajahku, lalu mencium bibirku sekilas, tanpa memberiku kesempatan untuk merespon ciumannya.

Aku bahkan tidak mengantarnya sampai masuk ke dalam mobil, aku sedang sibuk mengasihani diriku.

Setelah dia pergi aku naik ke lantai dua, kulihat Mba Tina sedang sibuk mengepel di ruang depan sebelum aku naik tangga. Aku ke kamar untuk membereskan kamar, menyibukan diriku dengan mengganti sprei, selimut, sarung bantal, sarung guling, merapikan pakaian, membawa semuanya ke laundry room, entahlah mengapa rumah ini di design sedemikian rupa sehingga masing-masing ruang memiliki fungsinya.

Kumasukan semua kain itu kedalam mesin cuci, lalu ku-sett untuk mencuci sekaligus membilas, sampai mengeringkan kembali, dan mba Tina masuk ke dalam laundry room secara mendadak.

JBS (Ready on Google Playbook - Venom Publisher)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang