Chapter 9: Who is Hae Soo for me?

1.7K 141 4

Wang So berlari sekuat tenaga, ia memegang pedang yang masih rapi dalam sarungnya. Hati Wang So berdegup kencang, Wang Wook mengabarkan kalau Hae Soo akan di hukum mati atas kesalahannya merencanakan pembunuhan terhadap pangeran. Dengan badan yang masih lemah karena belum sepenuhnya sembuh dari racun, Wang so berusaha untuk segera menemui Hae Soo. Dia berhasil melihat rombongan petugas istana yang hendak mengeksekusi pesalah. Dari kejauhan So dapat melihat Hae Soo memakai baju putih berjalan tertatih tanpa alas kaki.

"Soo-ya." Panggil Wang So.

Hae Soo berbalik mendengar ada yang memanggilnya. Wang So segera menyeruak diantara para petugas, dan melindungi Hae Soo dengan badannya.

"Tidak ada yang boleh mengeksekusinya!" teriak Wang So pada para petugas yang mengelilinginya dengan pedang terhunus.

"Maaf pangeran ini adalah keputusan dari Raja. Kami harus melaksanakan putusan dan menyingkirkan siapapun yang mengganggu terlaksananya perintah."

Para petugas mulai mendekati Wang So. Wang So dengan sigap mencabut pedang dari sarungnya. "Siapapun yang berani mendekat maka akan menjadi makanan untuk pedangku."

Para petugas sigap menyerang Wang So tanpa berusaha melukainya. Wang So bertahan pada awalnya, namun karena kalah jumlah. Dia akhirnya dapat tertaklukan, dan kini Wang So dipisahkan dari Hae Soo dan harus menerima keadaan badannya yang tidak bisa bergerak karena dicengkram beberapa orang.

"Pesalah silahkan maju ketiang gantungan." ujar seorang petugas.

Hae Soo dipaksa menuruti, ia diseret untuk menuju ajalnya dijemput. Petugas memasangkan tali disekeliling leher Hae Soo. Hae Soo melemparkan senyum pada Wang Soo, yang berteriak tak terima. Pijakan kaki Hae Soo pun dialihkan, dan badan Hae Soo berayun-ayun mendakan nyawanya sudah tidak ada lagi.

"Soo-ya!" Joon So berteriak, dan terbangun dari tidur lelapnya. Ha Jin segera mendekati Joon So. Keringat membasahi kening Joon So. Ha Jin mengelap keringat itu dengan handuk yang sudah ia siapkan di sebelah tempat tidurnya.

Tiba-tiba Joon So memeluk Ha Jin erat, "Soo ya, jangan tinggalkan aku." Ha Jin tidak berusaha melepaskan pelukan Joon So dan mengusap bahu Joon So pelan, mencoba menenangkan. Ada gemuruh aneh di dada Ha Jin, rasa rindu akan Wang So dan kebingungan Ha Jin tentang siapa sebenarnya sosok Joon So sampai ia bisa mengenal Hae Soo dan sering meneriakkan Hae Soo. Dirinya dulu di masa Goryeo.

"Ha Jin-a, aku takut kehilangan. Aku tidak mau kehilangan orang yang aku cintai. " ujar Joon So sepertinya sudah mulai bisa mengembalikan kesadarannya. "Aku tidak tahu siapa Hae Soo tapi ia selalu hadir dalam pikiranku, wanita yang bahkan sebenarnya tidak pernah ada dalam hidupku. Mungkin aku sudah gila." Joon So mulai melepaskan pelukannya. Ha Jin menatap lekat Joon So sambil tersenyum penuh arti. "Beristirahatlah, pak. Akan kupinjamkan kamar ini untuk anda hari ini." masih dengan senyum dan Ha Jin pun mulai menyeka kembali wajah Joon So. Joon So memegang tangan Ha Jin, ia alihkan tangan Ha Jin dari pandangannya agar ia bisa menatap jelas wajah Ha Jin. "Kau sangat mirip dengan wanita yang selalu ada dalam mimpiku, Hae Soo. Kau Hae Soo kan?" tanya Joon So.

"Namaku Ha Jin, Go Ha Jin. " jawab Ha Jin. Joon So tau sosok di depannya adalah Go Ha Jin, dan dia juga tahu pertanyaan tadi sungguh aneh dan tidak masuk akal.

Setelah selesai menyeka keringat Joon So. Ha jin memberikan Joon So segelas air. Ketika Joon So hendak menerimanya ia merasakan perih, "Aahh.." rintihnya.

"Luka bapak sudah saya balut, maafkan saya karena saya bapak harus terlibat perkelahian."

Joon So mulai menyadari bahwa dia ada di kamar asing, sebuah kamar minimalis yang rapih. Kini ia tahu, sepertinya ia pingsan dan kini ia berada di apartemen Ha Jin.

"Mengapa bapak kembali lagi? bukan kah bapak sudah pergi tadi?"

Dengan susah payah Joon So mengeluarkan ponsel Ha Jin. "Ponselmu tertinggal."

Ha Jin menerima sodoran ponsel dari Joon So. "Maafkan saya, Pak."

"Sudahlah tidak ada yang perlu dimaafkan. Bolehkah kau tidak memanggilku 'pak'? disini bukan kantor. Bagaimana kalau So saja?"

Ha Jin menggeleng cepat, "Dimanapun berada, anda tetap atasan saya, Pak."

"bagaimana kalau panggil, Oppa?" tanya Joon So lagi seakan tidak mendengar jawaban Ha Jin.

Ha jin kaget mendapat tawaran itu, dan memandang wajah Joon So yang kini tersenyum jahil. 'senyum yang polos.' ujar hati kecil Ha Jin.

@ @ @

Joon So belajar sekuat tenaga agar tidak mengecewakan Peter. Dari tingkat SD sampai SMA, Joon So tidak pernah menjadi nomer dua, ia selalu menjadi nomer satu. Prestasi-prestasi lainnya pun dengan mudah didapat Joon So. Sedangkan Hyuk harus menerima grade sekolahnya menjadi D semenjak SD dan tidak pernah naik ke grade lain hingga SMA. Namun Hyuk sangat popular di Amerika selain dia berwajah tampan, Hyuk terkenal ahli dalam berbagai olahraga dan ia juga pandai beladiri. Joon So pun popular, hanya saja Joon So terkesan acuh dan dingin tidak seperti Hyuk yang berkepribadian ceria.

"Hyung-nim." Panggil Hyuk sambil tak segan melingkarkan tangannya pada pundak Joon So.

"Wae?"

"Jika tidak salah, Hyung dapat penghargaan lagi di lomba IT kemarin kan?"

Joon So mengangguk. "Hyung, sepertinya Tuan Peter akan memberikanmu hadiah lagi kali ini."

Joon So tersenyum. "Kau pasti mau hadiahnya kan?" Hyuk nyengir. "Hyuk-a, untuk kali ini aku akan meminta hal lain pada tuan Peter. Tak apa kan?"

"Pertanyaan bodoh, Hyung. Lakukan apa yang kau suka."

Joon So tersenyum mendengar jawaban Hyuk, "Kau mau kan selamanya kita bersaudara?"

"Lagi-lagi pertanyaan bodoh."

Merekapun tertawa bersamaan sambil berjalan beriringan.

@ @ @

"Tuan bolehkan aku meminta hal yang lain kali ini?" Tanya Joon So saat memiliki waktu bersama dengan Peter.

Peter mengangguk, "Aku selalu heran, mengapa kau selalu meminta uang tunai atau barang untuk Hyuk setiap aku akan memberikanmu hadiah. Apakah kali ini berbeda?"

"Tuan, mungkin tuan mengira saya adalah anak yatim piatu dari imigran Korea di Amerika. Sebenarnya saya memiliki seorang ibu di Korea. Bisakah tuan mencarikannya untukku? Terakhir aku bertemu dengannya, dia sedang sakit karena mengalami kecelakaan, sampai saat ini saya tidak pernah mendengar kabar tentangnya."

Peter menyimak perkataan Joon So, "Apa yang terjadi? Lalu mengapa kamu bisa berada di Amerika saat ibu mu ada di Korea dan sakit."

Joon So lalu menceritakan kronologi bagaimana ia bisa sampai di Amerika, ia menceritakan sedetail mungkin kepada Peter berharap Peter mau membantunya.

"Mengapa kau baru memberitahuku sekarang?"

"Saya merasa tidak sopan jika harus meminta bantuan kepada tuan yang sudah banyak membantu saya, tapi di usia saya yang sudah menginjak 17 tahun, saya mulai mengumpulkan keberanian dan saya berharap tuan mau membantu saya. "

Peter lalu memberikan instruksi pada Mr. G yang masih setia disampingnya. Mr. G mengangguk paham dan meninggalkan Peter dan Joon So.

to be continued

NB: jangan lupa vote dan berikan komentar ya, terimaksih.. ^^

Moon Lovers Scarlet Heart Ryeo (Seoul) Season 2 (END)Baca cerita ini secara GRATIS!