BAB 1

156 6 0
                                                  

Buana Hampir Tiba di Melliana Pertama, 998 Masihi

Arnawama sudah lima hari berada di sini - melihat, membaca dan cuba memahami apa yang tercatat. Dalam pada itu, dia bertafakur dan berdoa, berharap ilham mendatanginya. Ilham dari langit Ilahi Yang Maha Esa.

Menurut catatan, marga Kalingga mendirikan Kota Kara - bandar atau tamadun yang terhijab dalam kabut - melebihi 5,000 tahun dahulu. Dan kemudian ia diwarisi oleh keturunannya yang menjadi pemerintah yang mendiami kraton dalam Kota Kara Kalingga. Bondanya ialah Ratu Sima yang memperoleh hidayah Allah memeluk Islam melalui utusan Khilafah Islam Uthman bin Affan dari tanah Arab. Juga dirinya.

Pada satu ketika, manusia kuno datang dari gususan pulau berlokasi di laut melewati samudera. Dia duduk dan berfikir akan hal itu.

"Di mana kedudukan laut melewati samudera? Ada laut besar di timur, sebuah perairan masin yang tidak ada pelaut yang diketahuinya berani merentasinya. Apatah lagi sebuah laut melewati dataran, bahkan melangkaui samudera. Pasti sangat jauh."

Menurut catatan, leluhurnya meninggalkan pulau lari dari desakan Siluman. Mereka dengan susah payah belayar sehingga tiba di sini. Untuk banyak generasi selepasnya, mereka berfikir sudah berjaya menghindar ancaman gerembolan Siluman.

"Justeru berfikir demikian, leluhur aku yang terkemudian melupai hikmah purba, kemudian secara perlahan-lahan hilang ditelan buana. Kemudian ... Siluman menjelma di sini."

Arnawama mengeluh berat. Berguman di dalam dadanya. Dia memahami erti gagal di sini. Kisah serangan Siluman terhadap tamadun Kota Kara Kalingga masih baru untuk luntur menjadi lagenda.

"Paling kurangpun untuk diri aku sendiri."

Dia tertarik lebih kepada laut yang melangkaui samudera.

"Di mana kedudukan laut misteri itu atau apakah ia sebenarnya? Bagaimana aku ingin mencarinya?"

Tercatat ... kemudian dia membuka lembaran. Ia tertulis:

Lingkaran daratan dan air, mengelilingi perbukitan tengah. Lokasi candi pemujaan dan istana-istana. Makmur dengan ritual agama ... sangat sibuk urusan kehidupan. Manusia aman dalam lingkup tauhid Tuhan Agung.

"Justeru di Kota Kara Kelingga ini dibina lingkaran air bagi melindunginya. Namun ... perlindungan air itu masih gagal menahan asakan gerembolan Siluman. Jenis makhluk apakah mereka itu?"

Dia terfikir sesuatu.

"Tauhid Tuhan Agung? Ya ... Ia adalah Allah. Agama baharu yang membawa syariat rasul terdahulu, cumanya tatacara ibadah berubah sesuai dengan naluri kemanusiaan baharu juga. Para nabi dan rasul sebelum Nabi Muhammad, bermunculan untuk membawa makhluk ke persada Tuhan Yang Maha Esa."

Lingkaran pulau diserang dengan api besar, membakar ... hancur mencair menjadi persis aliran bendalir ... hilang di dalam ombak agam. Berpestalah sejauh impian.... tenggelam di dasar samudera.

Arnawama menyedari suku kaumnnya datang dari samudera itu, dari arah matahari terbit. Tetapi kebolehan merentas lautan sudah hilang wahananya. Kapal-kapal agam turut musnah. Hikmah ilmu itu sirna dari generasi ke generasi.

"Manusia mudah lupa. Aku tak boleh ke belah timur. Catatan memberitahu ada kumpulan lain menuju ke arah berlainan. Jadi ... aku perlu mencari 'yang lain' itu agar dapat bantu aku membuka hijab ini, apa yang aku cari."

Tatkala sang mentari bangkit dari peraduan di timur, dia memikul bagasinya. Pedang diambil kembali dari dinding pos kawalan. Dia menuruni anak-anak tangga pos kawalan, kemudian berpusing ke arah Siluman. Mulai berjalan memasuki lembah.

Chronicle Viking MelayuWhere stories live. Discover now