"Dia datang lagi!" gumamku.
Setelah sekian lama aku menghapus semua tentangnya dengan susah payah. Dia dengan mudah datang padaku dengan menuliskan "aku merindukanmu, aku akan segera pulang ke kotamu", melalui pesan singkat. Ya aku dan dia dulu menjalin hubungan jarak jauh, dan pada akhirnya dia menjalin hubungan dengan wanita lain.
Kurasa hatiku goyah! Seharusnya aku tidak boleh seperti ini, aku sudah memiliki seorang kekasih. Tetapi mengapa hatiku berkata aku masih mencintai lelaki yang sudah pernah membuangku layaknya sampah?
Ohh aku sangat tidak percaya ini! aku menerima cintanya lagi dan meninggalkan kekasihku. Tentu saja kekasihku sangat kecewa saat aku mengatakan bahwa aku kembali pada mantan kekasihku yang dulu, meskipun dia berkata "aku tak apa, jika kamu lebih bahagia dengannya, aku juga tak bisa berbuat apa-apa".
Kupikir semua akan baik-baik saja setelahnya. Ternyata dia mengabaikanku sekarang, bahkan saat kita bertemu, dia langsung mengalihkan pandangannya dariku. Aku tahu aku yang salah, dan aku tahu mungkin dia sangat kecewa padaku, tapi bagaimana lagi? Semua sudah terjadi begitu saja. Lagipula aku juga sudah kembali pada mantan kekasihku.
Aku bahagia awalnya, menjalin hubungan kembali dengan lelaki jauhku itu, sebut saja Afsyah. Mungkin ini yang biasa orang katakan dengan "gagal move on". Sangking bahagianya, aku menceritakan banyak hal tentang kebaikan Afsyah pada teman-teman terdekatku, tapi respon temanku saat mengetahui bahwa aku kembali pada Afsyah sangat buruk. Mereka berkata "kenapa kamu kembali padanya? Bukankah kau sudah sering disakiti olehnya? Jangan bersamanya lagi! Aku tidak ingin kamu terluka". Namun aku memilih menutup kuping.
Belum satu bulan berlalu, aku dan Afsyah menjadi lebih sering bertengkar melalui pesan singkat dan telepon. Karena hanya melalui media itu lah aku dan Afsyah bisa berkomunikasi. Saat aku sangat marah kepada Afsyah, aku tak sengaja mengucapkan kata putus padanya, sejak saat itu dia benar-benar pergi dariku, dia memblokir semua akun media sosialku dan dia mengganti nomor teleponnya. Padahal mengucapkan kata putus pada saat aku dan Afsyah sedang bertengkar, itu sudah biasa dulunya. Tapi sekarang kupikir ini berbeda. Biasanya Afsyah menghubungiku 2 hari setelah aku mengatakan putus dan berkata "sudah marahnya? Maafin aku ya sayang, ayo kita balikan lagi". Tapi ini sudah 7 hari dia tidak memberiku kabar sama sekali.
Dua minggu pun telah berlalu, aku sangat kacau menjalani hidupku selama dua minggu itu. Lebih parahnya lagi, saat aku menguntit media sosial Afsyah melalui akun media sosial temanku, Afsyah sekarang berada dikotaku. Kupikir dia akan memberikanku kejutan kecil untukku, namun tidak, melainkan dia jalan dengan wanita lain. Lama-kelamaan aku sudah mulai gerah dengan tingkah lakunya, aku tahu kalau aku sudah mengatakan putus padanya, tapi bukan seperti ini yang aku maksud. Pada akhirnya aku menuliskan sebuah pesan singkat untuknya, melalui akun media sosial baruku yang tidak ia blokir. "Tak bisa kah kita bertemu? Aku merindukanmu, jika hubungan kita harus berakhir, aku ingin bertemu denganmu untuk melepas rindu saja, lalu kita akhiri semua dengan baik?"
Dua hari pun terlewati, dan hari ini adalah hari minggu. Seperti biasa, rumahku selalu sepi, ibu, ayah, dan kedua adik perempuanku selalu keluar mengunjungi rumah nenekku pada hari minggu. Kebetulan hari ini kakakku sedang berlibur dengan temannya, jadi aku memilih untuk menghabiskan waktuku dengan menangis dipojok kamar tidur, bahkan sudah beberapa hari belakangan aku menjadi tidak nafsu untuk melahap makanan. Aku tahu ini sia-sia, aku hanya butuh balasan pesan singkat yang kukirim beberapa hari yang lalu untuk Afsyah.
Aku mendengar suara bel rumahku berbunyi pukul 12.30. Lalu aku mencoba mengintip dari jendela kamarku, ya itu Afsyah. Aku sangat kehilangan pikiran saat itu, aku langsung lari untuk membukakan pintu untuknya, padahal pada saat itu aku hanya menggunakan kaos oblong tanpa lengan dan celana pendek yang mungkin semua pakaian yang kupakai saat itu sudah usang, terlebih lagi rambutku yang acak-acakan.
Aku langsung memeluknya erat, dan dia membalas pelukanku tersebut. Saat Afsyah melepaskan pelukannya, Afsyah langsung menatap dalam mataku dan berbicara "maaf kan aku telah menghilang darimu beberapa hari kemarin, setelah aku membaca pesan darimu aku sekarang ingin memberimu kepastian. Mungkin kita sudah tidak bisa bersama lagi, kalaupun kita jodoh, pasti banyak cara tuhan untuk menyatukan kita lagi dikedepannya".
Aku memeluknya lagi ditemani dengan tangisan kesedihanku. Lagi-lagi dia melepaskan pelukan, dia memegang kedua pipiku dengan kedua tangannya sambil berkata "dengerin aku, kalau kita seperti ini, kamu akan lebih sering terluka kedepannya, bukan kamu saja! Aku juga. Kamu kan udah pernah baik-baik saja sebelumnya tanpa aku? Aku mau balik kekotaku lagi sekarang, mungkin ini yang terbaik untuk kita saat ini. Bukankah kamu sendiri yang berkata ingin bertemu denganku untuk melepas rindu saja? Aku sayang kamu, aku pergi sekarang". Aku melihatnya! Dia menahan air matanya saat berkata itu padaku. Dia mengecup keningku sekilas, lalu langsung pergi tepat dihadapanku, dan aku yang sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi dengan kakiku yang lemas, aku langsung terduduk dilantai teras rumahku sambil menangis melepas kepergiannya.
-end-
