Istana

1.1K 87 11

Aku sempat bertengkar saat Karna memaksa membawaku ke Angga. Entah apa yang membutakan matanya saat itu. Rumah tidak lagi terlihat memuaskan baginya. Dan dengan tegas, dia mengatakan kalau istri dan putra-putranya harus mendapatkan penghormatan yang pantas.

Aku benci sari mewah dan semua perhiasan yang dihadiahkan Duryodhana. Ternyata, meski terlihat sangat indah, sari dan perhiasan-perhiasan itu sangat berat. Kepalaku seketika pusing dibebani tatanan rambut dan semua hiasan-hiasan emas bertabur permata tersebut.

Angga, kerajaan Karna terletak di barat laut, berdekatan dengan Maghada. Dibandingkan dengan Hastinapura dan Indraprasta, kerajaan ini menjadi sangat mungil. Karena itu, semua penduduknya akrab dan saling mengenal.

Ketika aku tiba di Angga, para penduduk menyambut dengan berlutut di tepi jalan. Putra-putra Karna tampak heran melihat rasa hormat itu. Terlebih ketika kemudian satu persatu dari mereka meletakkan barang-barang pangan sebagai 'hadiah pernikahan yang terlambat diberikan'.

Sosok suami dan ayah perlahan-lahan memudar dari diri Karna. Setelah kami kembali, bergantian para Korawa datang untuk memberitahukan rencana licik mereka menjatuhkan Pandawa. Tak ketinggalan, Sengkuni yang datang sambil mengingatkan Karna akan budi baik yang telah diterima Karna dari sahabatnya.

Pertama kalinya aku memerhatikan Sengkuni, aku begitu membenci sosoknya yang licik. Kakinya memang pincang, dan ada gangguan syaraf yang membuat salah satu matanya selalu berkedip. Belakangan, aku tahu kalau gangguan itu terjadi akibat luka di salah satu pertempuran.

Sengkuni, Raja Gandhara, menyimpan dendam atas Hastinapura semenjak Gandhari dilamar Drestarasta. Karena Gandhara saat itu berada di bawah kekuasaan Hastinapura, mau tidak mau, Gandhari harus menurut. Sementara Sengkuni sendiri terintimidasi oleh Bisma yang saat itu datang membawa lamaran.

Dendam Sengkuni terhadap Bisma dan Hastinapura dimulai saat itu. Ketika dia berada dalam posisi tak berdaya melawan kehendak Bisma yang perkasa. Hari demi hari, kejahatan semakin mengotori hatinya dengan hasrat membalas dendam.

Sengkuni ingin menggunakan kegemaran Yudhistira berjudi untuk menjatuhkannya. Dia tertawa-tawa saat mengatakan akan meminta Raja Drestarasta mengadakan sebuah pesta. Lalu di puncak perayaan itu, Sengkuni akan menantang Yudhistira bertaruh.

"Raja Drestarasta akan mengatakan kalau dia ingin Yudhistira meninjau gedung hiburan di istana," kata Sengkuni, "Lalu aku akan mengajaknya bermain dadu. Kau tahu kalau permainan daduku itu bak ular berkepala dua. Sekali melilit Yudhistira, maka akan sulit baginya melepaskan diri."

Karna diam, menyimak penjelasan Sengkuni sambil mengepalkan tangan.

"Saat itu, Raja Angga, kau harus berdiri di sana, di pihak Korawa," Sengkuni memamerkan giginya yang mulai menghitam, "Kau akan membuat para Pandawa itu tak berani berkutik."

"Setahu saya, para Pandawa itu meremehkan saya," jawab Karna dengan enggan.

Sengkuni langsung menggeleng-geleng sambil memamerkan senyuman liciknya, "Tidak, Raja Angga. Mereka sengaja merendahkanmu. Hanya agar kau menjadi rendah diri. Orang yang rendah diri tak mungkin bisa mengerahkan segala kemampuannya dalam bertarung."

Aku sengaja melintas hanya agar bisa melihat reaksi Karna. Aku sangat berharap, dia akan menolak. Aku tahu, hal ini akan jadi sebuah awal bencana lain.

Tapi aku telah kembali pada posisi tahu dan tak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya mampu merengek agar diajak ke Hastinapura. Itu pun karena Karna berniat istrinya dihargai orang lain.

#StopPlagiarism

Author Putfel

Legenda Negeri Bharata [ COMPLETED ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang