Chapter 1 : Before the Encounter

Mulai dari awal
                                                  

Yoonesha melempar tasnya ke atas meja yang dipenuhi tumpukan buku. Gadis itu mengikat rambutnya dan mengganti kemejanya dengan tanktop hitam. Ia menghempaskan tubuh ke ranjang. Erangan lirih terdengar saat kepalanya terantuk sesuatu yang keras. Yoonesha meringis sembali bangkit untuk duduk, tangannya menyingkap selimut dan mendapati sebuah pistol hitam tergeletak di sana.

Gadis itu berdecak dan meraih pistol tersebut. Sudah lebih dari dua bulan ia tak berlatih. Namun, ia sama sekali tak lupa cara untuk menggunakan benda mematikan tersebut. Jangan tanya bagaimana gadis berusia 18 tahun itu bisa mengoperasikan senjata.

Enam tahun lalu, ia hanya seorang bocah manja yang kehilangan ayahnya dengan tragis. Ia hanya gadis lemah yang meringkuk di tepian jalan suram setelah berhasil lolos dari para pembunuh dengan sedikit keberuntungan. Segalanya takkan berubah dan ia tak mungkin bisa berdiri dengan tegak seperti sekarang jika tanpa bantuan Mr. Jannivarsh.

Pria itu yang memungutnya dari jalanan. Memberinya tepukan hangat dan kalimat lembut yang menenangkan. Ia berjanji pada gadis itu untuk membantunya mendapatkan keadilan atas kematian sang ayah. Yoonesha pun dibawa ke Inggris. Ia menempuh pendidikan berbasis militer dan menjadi bagian dari ISA atau Internasional Secret Agency.

Bukan tanpa alasan ia terjun begitu jauh hanya untuk mendapatkan keadilan bagi sang ayah. Tetapi, pembunuh sang ayah bukanlah kriminal biasa. Ia harus bernasib sial karena berurusan dengan pemimpin oraganisasi kejahatan skala internasional. Sampai saat ini, Yoonesha masih tak mengerti, kesalahan apa yang ayahnya perbuat hingga harus berurusan dengan penjahat itu.

Setelah menyelesaikan masa magangnya selama dua tahun, akhirnya tiba bagi Yoonesha untuk mengambil misi yang telah menjadi tujuan hidupnya selama ini. Bajingan bernama Qasim Al-Azhar itu akan menerima penghukuman atas seluruh kejahatan yang ia perbuat selama ini. Termasuk pembunuhan keji yang dilakukannya pada sang ayah.

Tetapi, Yoonesha tetap takkan mampu jika bergerak sendirian. Mr. Jannivarsh telah menyiapkan seorang agen profesional yang akan membantunya menjalankan misi. Kini, Yoonesha hanya tinggal menunggu panggilan dari kantor pusat. Sembari menunggu itulah yang membuat Mr. Jannivarsh menyekolahkannya.

Yoonesha menyimpan kembali pistol hitam di tangannya ke balik bantal. Ia menjatuhkan diri ke ranjang empuk seraya memandang langit-langit kamar. "Kapan Mr. Jannivarsh akan mengirimkan agen itu, waktuku semakin banyak terbuang."

Pikirannya melanglang buana. Menerka, hal seperti apa yang akan ia lalaui saat misi benar-benar dimulai. Tanpa sadar, ada gejolak semangat dalam dirinya begitu memikirkan misi tersebut. Darahnya haus akan tantangan, enam tahun bergabung dengan militer dan dunia intelijen membuatnya lebih membuka mata. Hidup sangatlah singkat, akan sia-sia bila masalah yang kau temui tak dapat terselesaikan hingga tuntas. Yoonesha hanya ingin keadilan untuk sang ayah, setelah hal itu tercapai, mungkin ia akan mencoba untuk menikmati dunia.

***

"Sir, Mr

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Sir, Mr. Jannivarsh meminta Nona Ariesha untuk bersekolah sembari menunggu Anda." seorang pria bersetelan jas rapi membungkuk hormat sembari berujar. Sang tuan tampak diam dengan sorot kosong, memandang hamparan daratan yang terlihat begitu jauh dari jendela pesawat. Ia mendongak, menatap tangan kanannya sesaat sebelum mengangguk kecil.

"Ayah sangat menyayanginya ternyata," pria itu menggumam, ia menilik jam tangan mewah yang melingkar di pergelangannya sebelum mendesah pelan, "semuanya akan segera dimulai, ya?"

"Ya. Ada yang bisa saya lakukan untuk, Anda, Sir?"

"Terimakasih, kau bisa kembali, Andrew." pria bernama Andrew itu membungkuk dan pamit untuk kembali duduk di tempatnya. Sementara itu, sang tuan tampak hanyut dalam pemikirannya. Kelereng keemasannya beradu dengan warna hijau sejuk, membentuk perpaduan cantik yang memesona. Kelopaknya terpejam perlahan, berusaha mengistirahatkan diri walau hanya sesaat.

Rangkaian kegiatan dalam misi cukup menguras tenaga dan pikirannya selama empat bulan terakhir. Ia hanya tidur jika benar-benar telah mencapai ambang batas lelahnya. Selanjutnya, ia akan kembali disibukkan dengan misi. Semenjak ia keluar dari militer dan bergabung dengan intelijen internasional, pekerjaan menjadi semakin banyak. Baru siang tadi, ia menyerahkan laporan misinya, dan sekarang ia harus terbang ke Asia untuk mengambil semua berkas untuk misi selanjutnya.

Hanya setengah jam berlalu saat sang tuan terlelap, Andrew tampak tergopoh-gopoh menghampirinya. Ia menepuk bahu sang tuan dengan perlahan. Berusaha membangunkannya. Beginilah yang sering terjadi saat sang tuan berusaha untuk tidur. Sesuatu yang mengerikan selalu mengusik tidurnya, Andrew tahu pasti apa yang menimpa sang tuan hingga membuatnya demikian. Namun, ia tak mampu berbuat apupun.

Napas pria itu tersengal hebat, keringat dingin mengalir membasahi pelipisnya yang pucat. Bibirnya sedikit terbuka dan meracau tak jelas. Wajahnya semakin pucat dengan gurat lelah yang cukup jelas.

"Sir, Sir, Anda baik-baik saja?" tanya Andrew luar biasa khawatir. Ditatapnya sang tuan muda yang kini tengah meraup udara sebanyak-banyaknya. Pria itu menggeleng pelan dan menarik kedua kakinya. Memeluknya dengan tangan gemetar.

"Tinggalkan aku, Drew."

Andrew hanya bisa menghela napas dan menurut. Ia pun beranjak pergi, meninggalkan tuannya yang meringkuk sendirian di kursi pesawat. Untunglah, mereka selalu memakai pesawat pribadi. Dimana sang tuan tidak perlu berbagi ruang dengan orang asing.

Pria beriris keemasan itu menunduk, berusaha keras mengendalikan gemetar dalam dirinya. Ia selalu saja berakhir mimpi buruk saat mencoba terlelap. Mimpi itu mengulang rangkaian kejadian mengerikan yang selalu sukses mengusiknya. Ia tak tahu, sampai kapan hal ini akan terus berlangsung. Ia bahkan tak ingat, kapan terakhir kali ia bisa tidur lelap tanpa mimpi.

***

Agents : The Price of DutyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang