BAB 39

3.2K 287 19

BAB 39


Hari pernikahan kami sudah sangat dekat, tinggal menghitung hari. Dan bang Jo sudah menempati rumahnya kembali sejak lima hari yang lalu. Terasa berbeda ketika kami tidak tinggal berdekatan lagi. Intensitas pertemuan kami yang semakin jarang akhir-akhir ini juga membuat rindu begitu membara diantara kami. Disela-sela kesibukan kami masing-masing, kami berusaha tetap saling terhubung melalui berbagai media, telephone, chat, dan pesan singkat.

"Pagi kesayangan." Kudengar suara "kesayanganku" sesaat setelah aku masuk ke ruanganku.

"Pagi." Jawabku, aku jelas tidak mungkin menelepon dengan gaya ABG kasmaran ketika Manda, perawat yang membantuku sedang menatapku dengan senyum menggoda.

Sepertinya bang Jo menyadari kondisiku. "Ada Manda ya?"

"Iya." Jawabku singkat. "Abang udah sampai?"

"Belum. Masih di jalan."

"Ada pak Udin dong?"aku nyengir membayangkan pak Udin mendengar bosnya memanggil seseorang dengan panggilan super unyu di telepon "kesayangan" mungkin saja pak udin akan tertawa sampai guling-guling terus salto sambil koprol di jalan raya.

"Iya, saya suruh pak Udin pakai handsfree sebentar, selagi saya telepon. Saya bilang ini telepon rahasia." Jelasnya, kontan aku tertawa.

"Serius?"Aku hampir saja tertawa.

"Iya." Dia berdehem "Kamu pikir saya nyaman panggil kamu seperti itu saat pak Udin nguping pembicaraan kita?"aku membayangkan ekspresi alisnya berkerut saat dia mengatakan kalimat itu.

Aku masih tertawa kecil " iya.. iya saya ngerti."

"Oh ya, nanti sore jangan lupa abang harus fitting jas pengantinnya." Aku mengingatkannya.

"Iya saya ingat kok." Jawabnya singkat.

"Ada lagi yang mau di obrolin?" Aku sudah harus bersiap untuk praktek.


Kudengar dia sedikit batuk "Nanti malam jam tujuh saya jemput di apartment, ada acara ulang tahun pernikahan senior pengacara di Hotel Mulia."

Aku begitu terkejut mendengar ajakannya. "Lho bukannya kita udah sepakat nga akan ketemu selama satu minggu ini ya?"

"Terus kamu mau saya datang sendiri ke acara itu?"sekali lagi wajah merengutnya terbayang di mataku. Aku bergidik. "Ya enggak sih." Tapi pertemuan sebelum hari pernikahan sedangkan aku masih begitu percaya dengan acara "Pingitan" Sekilas aku teringat kejadian malam pengantin itu, mas Bagus, oh lagi-lagi. Bang Jo begitu ngotot untuk kami bertemu dan itu membuatku takut, aku benar-benar trauma dengan kejadian itu.

"Saya bukan Mas Bagus-mu, saya tahu bagaimana menjaga diri saya. Karena buat saya hari itu juga sangat penting." Rupanya bang Jo bisa mengartikan diamku sebagai sebuah ketakutan, dan memang aku sedang mengalami ketakutan itu saat ini. Saat dimana hari pernikahan kami semakin dekat.


"Em...ma-" aku tidak bisa melanjutkan kalimatku.

Dia memotong kalimatku "Semi formal, saya akan pakai kemeja batik warna merah. Kamu menyesuaikan saja." Lanjutnya, dan itu lebih terdengar sebagai perintah di telingaku.

"Ok." Akhirnya aku mengiyakan.

"Oke, saya tutup ya teleponnya, kasihan pak Udin kelamaan pakai handsfree."

"Iya."jawabku singkat.

"Saya sayang sama kamu." Dia memelankan suaranya, tapi aku masih bisa mendengarnya."Sampai ketemu nanti malam."

Aku menarik nafas dalam "Ok."

Mendadak kengerian menyeruak di dalam hati dan pikiranku. Semakin mendekati hari bahagia itu, semakin membuatku ketakutan. Tiga hari lagi ibuku dan calon ibu mertuaku juga beberapa sanak keluarga akan bertandang ke Jakarta untuk hari bahagia kami. Semoga ini akan berakhir sebagai hari bahagia, bukan hari yang tragis seperti yang pernah kualami itu.

JBS (Ready on Google Playbook - Venom Publisher)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang