Chapter 6: My Past

1.7K 166 19

Joon So kecil melambai menyambut sang ibu di seberang jalan yang ikut melambai menyadari kehadiran anaknya. sang ibu menyebrang dengan senyuman tersungging di bibir. Saat sebuah mobil berkecepatan tinggi tiba-tiba menyambar tubuh sang ibu.

"Ibu...!" Joon So kecil belari menghampiri ibunya yang berlumuran darah. Belum sempat ia sampai dimana ibunya terbaring. Dua pasang tangan besar mengangkatnya menjauh. Ia meronta, berteriak sebisanya. Namun apa daya tubuh kecilnya tak bisa melawan tangan kekar yang mengangkatnya. Ia hanya bisa menangis.

Dan disinilah ia, sebuah ruang mewah. Lampu-lampu Kristal bergelantungan, sangat berbeda dengan rumah sederhanya dengan lampu temaram. Seorang wanita seusia hampir sama dengan ibunya masuk. Joon So menatap wajahnya dengan ketakutan. Wanita itu tersenyum.

"Siapa namamu?"

"Joon So." Jawab Joon So ketakutan.

"Kau mau ibumu sembuh kan?"

Joon So langsung menatap lekat dan menunjukkan air matanya yang kembali jatuh.

"turuti kata ahjuma."

Joon So mengangguk mantap dan menunjukkan keseriusannya untuk menuruti apa yang dikatakan ahjuma di depannya.

"Jika kau ingin ibu mu sehat dan selamat, berpisahlah dengannya."

Joon So tak begitu mengerti. Pikiran seorang anak 7 tahun tidak terlalu bisa mencerna kata yang disampaikan ahjuma di depannya.

"Aku berjanji akan menyelamatkan ibumu. Tapi pergilah ke Amerika."

"Mengapa aku harus berpisah dengan ibuku?" Tanya Joon So sedikit takut.

"Itu adalah kemauan Ahjuma satu-satunya. Kalau kau tidak mau menuruti perintah ahjuma, aku tidak akan menyelamatkan ibu mu."

Buru-buru Joon So berlutut dan menangis sambil memegang lutut ahjuma yang di depannya. "Aku pergi, aku akan pergi tapi tolong selamatkan ibuku."

Ahjuma didepannya tersenyum senang dan menyuruh anak buahnya untuk segera mengirim Joon So pergi.

"Biarkan aku bertemu dengan ibuku dulu."

Ahjuma didepannya menggeleng dan Joon so kembali diseret kasar keluar dari ruangan itu.

@ @ @

Di sebuah tempat nan megah, di Amerika Joon So kecil keluar dari sebuah bandara. Dikawal oleh dua orang tegap. Dimasukkan ke dalam mobil dan entah dibawa kemana. Lama perjalanan membuat Joon So kecil tertidur. Tak berapa lama, Joon So dibangunkan dan disuruh keluar dari mobil, diseret dan dijatuhkan dan langsung ditinggalkan oleh mobil tersebut. Joon berlari mengejar mobil tersebut tapi apa daya kakinya yang kecil tak sanggup mengejar mobil yang berjalan dengan kecepatan tinggi. Joon So terjerembab dan jatuh. Ia ingin menangis tapi ia ingat kata ibunya bahwa laki-laki tidak boleh mudah menangis. Ia berdiri, darah segar mengucur dari lututnya. Ia merogoh saku celananya dan ia tak menemukan apapun selain dua buah permen, dan sebuah koin keberuntungan yang ia dapat dari ibunya. Air mata yang sedari tadi ditahannya mengalir juga, ia tiba-tiba merasa rindu dengan ibunya dengan pelukan ibunya. Dan air mata pun jatuh dibarengi dengan air hujan yang jatuh membasahi badannya. "Ibu.." rintih hatinya.

Joon So berteduh disebuah halaman toko, sambil memeluk lututnya. Ia mengerluarkan permen yang ada disakunya. Tangannya yang bergetar menahan dingin berusaha membuka permen tersebut. Ia lalu melahap permen itu dengan teburu-buru.

Empat orang pemuda berpenampilan beringas, dengan tato-tato ditangannya dan anting-anting besar menghampiri Joon So. Joon So menyadari sesuatu yang tidak beres akan terjadi. Ia berdiri bersiap pergi, saat seseorang diantara mereka memukul Joon So tepat di tengkukknya dan ia pun pingsan.

Joon So terbangun saat air menghempas wajahnya. Ia kaget dan terlonjak. Ia mengucek matanya, dan ia mendapati dirinya berada di sebuah ruangan besar yang mirip dengan sebuah gudang. Dan disana banyak sekali anak-anak seperti dirinya. Beberapa anak berdiri berbaris, dan beberapa lagi terduduk sama seperti dirinya dan melihat sekeliling mempelajari situasi. Anak-anak yang berbaris, satu demi satu memberikan uang pada laki-laki dewasa yang sepertinya boss mereka. Ketika ada anak yang memberikan uang yang banyak ia lalu memberikan sepotong roti dan air, namun ketika ada anak yang hanya memberikan sedikit atau tidak memberikan uang, maka anak tersebut dipukul sampai terjerembab dan ia tidak diberikan makan. Joon So melihat kejadian itu dengan pandangan iba. Namun ia tahu sesuatu bahwa dirinya juga akan diperlakukan sama tidak lama lagi.

@ @ @

"Jadilah wanitaku." Joon So memandang Ha Jin lekat.

Ha Jin buru-buru melepas pelukannya. Dan disambut gerakannya tangan Joon So yang semakin mendekatkan dirinya dengan Ha Jin. Ha Jin masih berusaha untuk melepaskan dirinya dari dekapan Joon So.

"Lihat aku. Aku tahu, aku mirip dengan kakak atau kekasihmu. Tidak bisakah aku menjadi pria mu?"

Ha Jin menatap Joon So, dan lagi-lagi ia melihat Wang So ada disana. Dengan sekuat tenaga di berusaha melepaskan dekapan Joon So, "Lepaskan aku, ku mohon."

Joon So malah semakin mendekap Ha Jin dan segera mencoba mencium Ha Jin. Ha Jin memalingkan mukanya. Joon So lalu melepaskan dekapannya. "Aku Joon So, aku akan membuat kau menjadi milikku."

Begitu Joon So melepas dekapannya. Ha Jin mundur dan segera keluar dari ruangan itu. Joon So kembali sendiri, ia benci sendiri. Joon So lalu berlari mengejar Ha Jin. Ia memegang Ha Jin. "temani aku, aku tidak mau sendiri. Aku berjanji aku tak akan melakukan hal tidak sopan padamu."

Ha Jin menghempaskan tangan Joon So, ia hendak berjalan menjauh saat Joon So berkata setengah berteriak, "Ku mohon.". Ha Jin terdiam dari langkahnya ia berbalik, dan melihat wajah Joon So, ia kembali teringat wajah Wang So saat ia tidak mau ditinggalkan pada waktu penobatannya jadi raja. Ha Jin menyadari bahwa Joon So kesepian, sama dengan kesepian Wang So. Ha Jin kembali mendekati Joon So yang kini menangis seperti anak kecil. "Jangan tinggalkan aku. Aku benci sendirian. Aku tidak suka sendirian."

to be continued

NB: silahkan tinggalkan jejak dan komentar, jangan lupa vote yaa... makasih.. ^^

Moon Lovers Scarlet Heart Ryeo (Seoul) Season 2 (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang