Malu

1.1K 98 5

Indraprasta dulunya adalah sebuah padang gersang yang disebut Kandawaprasta. Padang ini diberikan Drestarasta karena menganggap Pandawa tak akan sanggup menggarapnya. Ada banyak kisah tentang padang ini. Termasuk adanya Raja Suku Ular, Takshak yang kemudian dikalahkan oleh Arjuna.

Siapa yang menyangka, dengan usaha keras dan bantuan besar dari para dewa, Indraprasta tumbuh menjadi sebuah kerajaan yang besar dan makmur. Dewa Indra sendiri mengutus Wiswakarman, arsitek para dewa untuk membantu mereka membangun kerajaan. Seiring berlalunya waktu, Indraprasta kemudian tumbuh menjadi kerajaan yang sejahtera dan makmur. Jauh lebih maju daripada Hastinapura yang dipimpin oleh Drestarasta.

Istana Indraprasta berlapis emas. Ada taman raksasa di depannya. Sementara jalan membentang di depannya terbuat dari bata merah yang berkilau. Bunga-bunga indah membentang dengan danau kecil buatan. Sementara beberapa rusa-rusa emas berlarian di antara rerumputan.

Pandawa tampak senang menyambut ibunya yang lama tertahan di Hastinapura. Aku melihat Bima menyusut air mata, sementara pangeran-pangeran yang lain menyentuh kaki Kunti.

Drupadi tampak terkejut melihatku. Beberapa kali dia keliru memanggilku sebagai Supriya. Karna tampak kesal melihat sikap Drupadi. Dia menatapku, meremas tanganku sambil berbisik, "Mengatakan istri raja mirip seorang pelayan, itu adalah sebuah penghinaan."

Sebenarnya, aku tidak terlalu memedulikan hal itu, namun raut wajah Karna kian mengeras oleh sikap Drupadi. Aku tak tahu, ini akan menjadi duri di dalam hati yang akan mendorongnya melakukan sebuah tindakan kejam.

Perjamuan besar diadakan menyambut kami. Ada tari-tarian dan nyanyian mengiringi makanan dan minuman yang terus menerus datang ketika sajian di atas meja telah habis.

Duryodhana betul-betul syok melihat perubahan yang terjadi di Indraprasta. Dia memandang interior istana yang begitu megah. Berkali-kali mengepalkan tangan, menahan rasa iri di dalam hatinya. Dia telah melakukan apa pun untuk menahan langkah Pandawa. Dia bahkan menahan Bisma, Widura, orang-orang yang paling bijak di Hastinapura. Dia menahan Kunti agar Pandawa tidak menuntut Hastinapura dengan jalan kekerasan. Namun Pandawa kembali berhasil mengalahkannya.

Kali ini, bahkan mengalahkan Hastinapura, calon kerajaannya.

Di tengah pesta yang semakin meriah, Duryodhana bangkit dari tempat duduk. Aku melihat pengeran itu berjalan sedikit oleng karena mabuk. Beberapa kali dia menepis bantuan para pengawal, termasuk Karna yang hendak membantu.

"Apa kalian pikir, aku tidak bisa melakukan apa-apa?" teriaknya marah, "Bahkan berjalan saja, kalian ingin membantuku?!"

Namun belum genap langkahnya menuju ke luar balairung, kaki Duryodhana terpeleset hingga kemudian dia terjatuh ke sebuah kolam di sisi-sisi luar jalan yang dia lewati. Suara tercebur membuat semua orang seketika mengalihkan pandangan. Dalam sekejap, Duryodhana menjadi pusat perhatian pesta itu.

"Ternyata anak orang buta memang tidak bisa melihat."

Drupadi yang mengatakan hal itu. Aku tidak tahu, apakah Drupadi mengutarakan kalimat itu dengan rasa permusuhan, atau hanya sekadar bercanda. Yang jelas, tidak ada yang tertawa mendengarnya. Mereka hanya memandang Duryodhana dengan campuran antara rasa geli dan kasihan.

Mereka tidak tahu, di antara orang-orang yang terdiam saat itu... ada seseorang yang memandang Drupadi dengan sorot penuh benci. Dursasana mengepalkan tangan, rahangnya mengeras menahan kata-kata makian kepada Sang Maharani Indraprasta.

***

"Apa kau sedang mencoba menertawakanku?"

Aku menggeleng, masih menggenggam kain di tanganku, "Anda adalah sahabat suami saya, Yang Mulia. Saya hanya ingin anda mengeringkan badan. Sekarang menjelang musim dingin. Nanti anda sakit."

Tanpa mahkotanya yang menjulang, Duryodhana terlihat jauh berbeda dengan sosok jahat yang dikatakan semua orang. Wajahnya yang keras kini melunak oleh rasa malu dan kepedihan, terbingkai rambut ikal yang sekarang basah dan lepek.

Meski mencoba menyembunyikan, kilat tak berdaya itu sempat terlihat di mata Duryodhana. Tanpa bicara, dia mengambil kain dari tanganku, lalu menggosokkannya ke rambut.

"Di mana Karna?"

"Dia sedang menemani Pangeran Dursasana, Yang Mulia."

Duryodhana menghela napas, kemudian duduk di sebuah kursi yang disiapkan pelayan. Pesta itu sudah tidak menarik lagi baginya.

"Bagaimana kau bisa membuat Karna meninggalkan kerajaan?"

Aku terkejut mendengar pertanyaan itu.

"Dia bercerita, sejak kecil dia bermimpi menjadi seorang ksatria. Kau pasti memiliki sesuatu hingga dia melupakan mimpi itu."

Aku terdiam, bingung harus menjawab apa.

Duryodhana menghela napas lagi, "Aku juga memiliki sebuah mimpi," dia akhirnya bercerita, "Mimpi itu dibuatkan oleh ayahku. Ketika aku kecil, diam-diam, di malam hari... ketika tidak ada seorang pun di balairung, ayah mendudukkan aku ke atas singgasana. Dia mengatakan kalau suatu saat aku harus menjadi raja yang hebat."

Hatiku tercubit mendengar ucapan Duryodhana itu.

"Kau pasti tahu julukan yang diberikan semua orang kepadaku," Duryodhana menyeringai, "Bahkan Dursala—satu-satunya adik perempuanku, selalu menangis jika aku mendekatinya," Duryodhana mengibaskan tangan dengan sikap enggan, "Dia lebih suka bergaul dengan para Pandawa. Ya, siapa yang tak suka akrab dengan putra-putra dewa? Siapa yang suka akrab dengan akar kejahatan?"

"Setidaknya, anda harus mengingat seseorang yang selalu berdiri di sebelah anda, Yang Mulia," aku menunjuk Karna dengan pandangan. Perkataanku membuat Duryodhana seketika tertawa.

"Ah, kawanku Karna," ada rasa bersalah yang tersirat dalam nada suaranya, seakan-akan... dia menyesalkan sesuatu yang jahat di masa lalu.

#StopPlagiarism

Author Putfel

Legenda Negeri Bharata [ COMPLETED ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang