BAB 35

2.1K 241 47

BAB 35


Aku duduk termangu di posisiku, kalimat terakhir mba Arva seolah terngiang di telingaku. Entah sudah berapa jam aku duduk di posisi ini. Kurasa ini justru sudah hampir dini hari. Sementara aku terus berpikir tentang apa yang harus aku lakukan? Pernikahan kami kurang dari duabulan lagi dan mba Arva membatalkan semua mendadak. Yang lebih mengerikan lagi adalah dia tidak bisa melepaskan bang Jo untukku. Kalau aku jujur pada Bang Jo mungkin saja itu justru akan membuatnya berubah pikiran tentang rencana pernikahan kami. Mba Arva adalah wanita sempurna, meski statusnya sebagai single parent dia jauh lebih menarik dariku.


Dia punya waktu bertahun-tahun untuk kembali pada bang Jo, tapi kenapa sekarang, kenapa saat aku sudah bersama pria itu, saat hatiku sudah begitu mantab untuk menjadi isterinya.


Tiba-tiba ponselku bergetar kembali.


"Kesayangan memanggil."


Oh, please jangan sekarang. Ku biarkarkan panggilan itu berakhir tanpa jawaban. Tapi dia jelas pantang menyerah, aku yang menyerah pada akhirnya.


"Halo."


"Kamu belum tidur?"


"Belum."


"Buka pintunya dong, saya ada di depan pintu."


"Gimana kalau besok aja kita ketemu."


"Saya mau sekarang."


Kumatikan sambungan teleponku, aku berjalan gontai menuju pintu, kulihat bang Jo sudah berdiri di depan pintu masih degan kaos dan celana yang sama. Dia berjalan terburu-buru masuk, menutup pintu di belakangnya, lalu menyambarku dalam pelukannya.


"Abang kenapa?" dia tidak menjawab, hanya terus memelukku erat.


"Saya ngak bisa tidur, terus saya jalan keluar kamar, saya lihat Arva berdiri di depan pintu kamar kamu. " jelasnya.


"Apa?" aku memekik, membebaskan diriku dari pelukannya. "Kapan?"


"Belum lama." "Baru aja, pas dia lihat saya dia langsung pergi."


"Aneh," "Mbak Arva tadi juga telepon saya, dia membatalkan semua." Akhirnya aku berkata jujur.


"Apa dia ngancam kamu?"kulihat sorot mata bang Jo begitu khawatir, aku menggeleng, dan seketika dia terlihat lega "Saya ngrasa ada yang nga beres sama dia."Bang Jo berjalan ke arah sofa, sementara ku mengikuti langkahnya"Tapi kenapa mba Arva jadi seperti itu?"


"Saya nga tahu, tapi saya pasti cari tahu."Bang Jo mengangkat bahunya.


Saat ini aku merasa cemas sekaligus ketakutan "Terus pernikahan kita?"


"Kita cari WO lain, banyak WO yang bisa keja cepat dan hasilnya memuaskan kok, kamu jangan khawatir."Dia meraihku, memelukku.


"Tapi biayanya pasti jauh lebih mahal."dengan bodoh aku megungnkit soal biaya, bagaimana tidak, bang Jo sudah mengeluarkan ratusan juta untuk acara di Jakarta, belum lagi acara di Jogja dan Medan, demi menghormati dan membahagiakan ibunya dan calon ibu mertuanya.


"Aya, please jangan bicarakan soal biaya sekarang ini."


"e'hem."Aku mengangguk


Bang Jo menarik diri, memegangku di kedua lengannku, menatapku tajam, ini adalah pembicaraan serius diantara kami "Kamu harus hati-hati, Arva bisa saja nekat."


"Jangan matikan ponsel, dan jangan ketemu dia kalau kamu sendiri." Bang Jo masih menatapku serius, dan aku begitu ketakutan di bawah tatapannya "Kalau kamu ketemu dia pastikan kamu nga sendiri, atau tunggu kalau saya ada waktu."


"He'em."


Huftt apa lagi ini? Kalau mba Arva nga mau melepas bang Jo kenapa dia justru tidak mendekati bang Jo sama sekali? Dan bang Jo kenapa begitu khawatir padaku? kekhawatirannya yang berlebihan justru membuatku ketakutan sekarang ini.


"Ya udah kamu tidur gih, saya pulang." Dia mengusap rambutku, "Jangan takut, saya ada di sebelah kok." Aku megangguk cepat, dan dia mengecup keningku, ini pertama kalinya dan aku merasa bahwa laki-laki di hadapanku ini adalah laki-laki yang begitu mengayomi.


Aku mengantar dia keluar, dan setelah dia berada di luar dia memintaku menutup pintunya.


"Sekarang kamu istirahat" dia mengusap wajahku "jangan takut."


"He'em"


***


Aku sudah mengatakan satu bagian, tentang pembatalan mba Arva, tapi satu hal yang masih aku sembunyikan adalah kalimat mba Arva tentang ketidak relaannya melepas bang Jo untukku. Tapi kalimat itu sampai sekarang masih rancu. Apakah yang dimaksud tidak merelakan bang Jo untukku?

JBS (Ready on Google Playbook - Venom Publisher)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang