Chapter 5: You are the worst

2K 177 10

"Anda memanggil saya, Pak?" Tanya Ha Jin saat memasuki ruangan Joon So.

"Ini hari pertamamu kerja, tugas mu hari ini menyembunyikan luka di wajahku. Aku memiliki pertemuan penting malam ini.

"Baik, pak. Saya akan mempersiapkan alatnya terlebih dahulu. Saya permisi."

Pikiran Joon So langsung melayang ketika Ha Jin meninggalkan ruangannya. Saat dirinya masih di Amerika, saat dirinya harus menjadi seorang anak yang mengemis dan dipukul orang-orang tidak berperasaan. Saat ia dipukuli dia hanya memikirkan satu kata, balas dendam. Pun ketika saat menempuh bangku kuliah, ia menemukan sosok ibu yang selama ini di rindukannya, kata itu tak pernah hilang dari pikirannya, balas dendam. Jika ia tidak pernah menerima uluran tangan seorang baik hati yang mengetahui kecerdasan nya dan mau membiayai sekolahnya, Joon So tak pernah berpikir bisa menjadi seperti orang yang sekarang. Mungkin ia hanya menjadi preman jalan di Amerika sana yang bergantian memukul anak-anak yang tidak berdosa.

"Pak." Suara Ha Jin menyadarkan Joon So. "maaf pak, saya sudah mengetuk pintu dan saya langsung masuk."

Joon so mengangguk, "mendekatlah."

Ha Jin menurut dan mempersiapkan make up untuk mengaplikasikannya kepada wajah Joon So. Ketika ia sudah berhadapan dengan Joon So, pikiran Ha Jin tiba-tiba mengingat pada Wang So, pangeran yang putus asa karena dibenci rakyatnya saat menjadi wakil pemanggil hujan. Ha Jin berusaha mengendalikan dirinya, ia menggeleng berusaha menghilangkan bayangannya.

"Wae? Kau mengingat seseorang yang mirip denganku lagi kan? Aku menjadi penasaran. Aku yakin ia seseorang yang sangat dekat denganmu. Biar kutebak, namja chinggu? Apakah dia meninggal dan kamu tidak bisa melupakannya?"

Ha Jin menatap mata Joon So sekilas, dan segera melepaskan pandanganya. Ia diam dan tak menjawab. "Tolong pejamkan mata anda." Ujar Ha Jin mengalihkan pembicaraan.

Joon So menurut dan memejamkan matanya, ia mulai merasakan wajah Ha Jin mendekat padanya. Nafas Ha Jin yang menyentuh wajahnya. Joon So perlahan membuka matanya dan memandang lekat Ha Jin, Ha Jin tidak terlalu menanggapi itu dan memilih fokus pada pekerjaannya. Joon So merasakan ada debaran aneh di dadanya. Cepat-cepat ia kembali menutup matanya.

@ @ @

Makan malam yang ramai, cukup ramai untuk disebut pesta tahunan. Joon So melenggang masuk ke dalam ruangan itu. Ruangan dengan banner bertuliskan "makan malam tahunan GP Grup". Begitu ia masuk, ia dikerubuti pemburu berita, Joon So memilih menjawab singkat dan melemparkan senyum nya. Ia lalu disambut seorang karyawan yang langsung mempersilahkan ia duduk di tempat yang telah disediakan.

Sambutan dari presiden, Jo Min Gi selaku presiden dari GP Grup. Saat orang lain menyimak dengan seksama. Joon So tersenyum meremehkan. Matanya mengkilat, seperti elang yang mendapat mangsa. Joon so lalu mengalihkan pandangannya pada sosok yang duduk tak jauh dari dirinya. Nyonya Park Ji Young, istri dari presiden GP Grup. Ia tak akan pernah melupakan nama dan wajah itu, bahkan sampai ia mati.

Sambutan selesai, presiden GP Grup berkeliling untuk menyambut para tamu, sampai tiba giliran Joon So. Ketika semua orang terlihat menjadi penjilat dan membungkuk 90 derajat dihadapan presiden GP Grup, berbeda dengan Joon So, ia hanya berdiri dan mengulurkan tangannya tanpa memberi hormat. Jo Min Gi yang menyadari itu lalu berkata, "anak muda memang berbeda. Selamat datang di makan malam tahunan GP Grup. Anda dari Gold Investment. Senang bisa mengenal anda, dan selamat datang di korea."

Joon So hanya tersenyum sinis, "selamat atas acaranya presiden GP Grup yang terhormat."

Agaknya tak suka dengan ketidaksopanan Joon So, Min Gi pun menanggapi, "anak muda yang sombong. Kau tidak akan bertahan lama disini. Aku menghormatimu sebagai seorang pebisnis bertangan dingin yang sukses. Tapi aku tak menyukai sikapmu."

"Simpan pujian dan tidak sukamu. Tak akan lama lagi GP Grup akan mengemis meminta bantuan Gold Investment."

Min Gi semakin Manahan emosinya, ia berniat pergi, "bersenang-senanglah." Ucapnya terkahir kali, sampai Joon So menahan tangannya. "Lihat aku, tidak kah aku mengingatkanmu pada seseorang?" Min Gi urung melangkahkan kakinya dan menatap wajah Joon So. "seorang pemuda sombong yang bahkan tak akan bisa menyentuh bisnisku." Ujarnya ikut sinis. "kau bahkan tak bisa disejajarkan dengan salah satu putraku. Kau mungkin boleh kaya tapi kau tidak memiliki sikap yang sopan." Min Gi lalu pergi dan melepas paksa pegangan Joon So.

Joon So bergetar, ego tinggi yang sudah ia bangun dengan susah payah bagai sebuah benteng kokoh, kini hancur. Ia sadar bentengnya hanya terbuat dari pasir yang langsung hilang ketika di sapu ombak. Ia segera berusaha mengembalikan dirinya lagi. Ia lalu berpapasan dengan istri Min Gi, Park Ji Young. Perlahan ia membisikkan sebuah kalimat, "aku pasti akan membuatmu berlutut." Ia lalu meninggalkan ruangan megah itu. Park Ji Young kaget dan melihat arah suara, namun ia hanya melihat punggung Joon So yang menjauh. Mungkin ia salah dengar pikirnya.

@ @ @

Tak ada tempat yang yang bisa dituju. Ketika orang lain lebih suka mabuk untuk melupakan masalah tidak bagi Joon So. Ia terbisaa untuk waspada dan meninggalkan hal-hal yang menurutnya tidak penting. Ia tak pernah mabuk dan tak bisa minum. Ia memacukan Ferrari merahnya dengan kecepatan maksimal, jalanan yang sepi membuat Joon So semakin kencang menekan gas mobilnya. Disinilah dia sebuah kantor kosmetik, ia enggan pulang ke rumah karena ia tidak mau sendiri, ia lalu memutuskan untuk bekerja saja mala mini.

Joon So lalu naik dan masuk ke kantornya, saat ia melihat lampu ruangannya masih menyala. Ia segera masuk, dan Joon So melihat Ha Jin tengah sibuk di ruangan sekretaris. Ha Jin yang menyadari kehadiran Joon So langsung berdiri dan membungkuk, "maaf pak, saya tanpa izin masih berada di kantor. Saya belum terbisaa bekerja di kantor jadi saya ingin mengejar ketertinggalan saya dengan mebaca laporan keungan dan perkembangan perusahaan ini dari tahun-tahun sebelumnya." Ha Jin berbicara panjang lebar, tapi tidak ada yang masuk kedalam telinga Joon So. Joon So setengah berlari menghampiri Ha Jin dan memeluknya. Ha Jin kaget dan hendak melepaskan pelukan itu sampai Joon So berkata, "biarkan lima menit, berikan aku waktu lima menit." Ha Jin akhirnya pasrah dan menepuk-nepuk pundak Joon So.

Lima menit berlalu, Joon So lalu melepas pelukannya. Ia memandang Ha Jin dan berkata, "jadilah wanitaku."

NB: mimin lagi semangat update biar bisa selisih cuman satu chapter sama yang di blog, hehe.. tolong vote dan komen yaa.. ^^

Moon Lovers Scarlet Heart Ryeo (Seoul) Season 2 (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang