Reuni Tri Li li

89 2 0

"Yeaaach, hore! yes, yes, yeees!"

Andri berteriak kegirangan di pelataran parkir SMU Negeri 2 Suka Mundur. Dengan posisi jari terkepal, ia melompat mengacungkan tangan ke udara, menekuk kaki, kemudian menggerak-gerakkan tangan maju mundur seperti selebrasi pemain bola usai mencetak gol.

"Andri sering kesurupan seperti itu ya?" tanya Dita kepada Adit.

"Iya, pada jam-jam tertentu Andri memang suka kumat."

"Kamu kok gitu sama teman sendiri?"

"Habis pertanyaan kamu aneh."

"Apanya yang aneh?"

"Lima tahun lebih menyandang status jomblo, wajar dong ekspresi Andri lebay kayak gitu setelah jadian sama Putri."

Dita terpingkal. "Sebulan yang lalu waktu kita jadian, berarti kamu juga gila kayak gitu?"

"Dikit, tapi enggak separah itu."

Sejurus kemudian Adit dan Dita kompak tertawa.

Andri yang merasa terganggu mendengar suara ketawa sahabatnya, membalikkan badan, lalu melangkah mendekati Adit dan Dita.

"Kurang asem! Kalian pasti lagi ngomongin aku ya?"

"Ih, siapa juga yang ngomongin kamu? Pede banget sih jadi orang," balas Dita ketus.

"Mending kamu joget-joget lagi, Ndri. Aku sudah lama enggak menonton goyang asoy geboy in the hoy kayak kamu tadi," timpal Adit sambil tertawa.

"Tu kan benar, kalian ngomongin aku."

"Yee, diberitahu ngeyel. Sana-sana joget lagi! Ganggu orang pacaran aja." Dita berkata sembari mengibas-ngibaskan jari tangannya.

"Memangnya kalian aja yang bisa pacaran?" balas Andri sewot.

Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara perempuan.

"Jadi sekarang Andri sudah bisa pacaran?"

"Masih belajar," jawab Andri malu-malu, saat mengetahui perempuan yang ada di belakangnya ternyata Putri.

"Weeeeck!" Putri menjulurkan lidah ke arah Andri.

Acara reuni kali ini menjadi sangat spesial bagi Andri dan Putri. Selain bisa berkumpul bersama teman-teman yang sudah lama terpisah, ungkapan perasaan Andri yang digantung Putri selama bertahun-tahun, siang itu mendapat jawaban terindah alias diterima. Terang saja Andri girang bukan kepalang, setelah hampir lima tahun menanti kepastian. Ditambah alasan yang dikemukakan Putri kepadanya juga bisa diterima akal sehat. Putri menggantung ungkapan perasaan Andri waktu masih sekolah dulu bukan karena Putri tidak menyukai Andri, tetapi karena orang tua Putri belum mengizinkannya pacaran hingga dewasa dan punya pekerjaan.

"Ada yang baru jadian, tapi kok enggak ada acara makan-makan ya?" bisik Dita kepada Adit, tetapi suaranya sengaja dikeraskan agar Andri dan Putri ikut mendengar.

"Bisik macam apa itu?" Andri merengut, Adit, Dita, dan Putri sontak tertawa.

Kemudian Andri mengeluarkan uang pecahan dua ribu dari saku celananya. "Dasar tukang makan! Baiklah, semua aku traktir, tapi enggak boleh lebih dari dua ribu."

"Apa? dua ribu?" Dita melongo, Andri terpingkal-pingkal menyaksikan itu.

"Sudah, jangan bercanda melulu. Mumpung masih siang, kita ke rumah Dita yuk! Kangen sama pak Jara Kada nih," ucap Putri dengan mimik wajah serius.

Pak Jara Kada merupakan orang tua Dita yang juga mantan guru biologi di SMU Negeri 2 Suka Mundur. Ia terkenal sebagai guru paling tegas. Kalau versi siswa nakal, mereka bilang pak Jara Kada itu guru paling galak. Padahal galak dan tegas jelas berbeda. Waktu masih sekolah, Andri dan Adit tercatat sebagai siswa yang paling sering mendapat hukuman dari pak Jara Kada. Metode hukumannya cuma satu, yaitu berjemur di bawah tiang bendera dengan posisi hormat kepada sangsaka merah putih.

Jolang Versus Koruptor (NOVEL)Baca cerita ini secara GRATIS!