BAB 30

3.1K 261 70

BAB 30
Sudah dua bulan dia keluar dari rumahsakit, dia sudah beraktifitas seperti biasa, sibuk dengan dunianya, hukum, persidangan, dan aku. Karena aku adalah bagian dari dunianya saat ini. Hampir setiap hari kami bertemu meski hanya untuk waktu limabelas menit atau setengah jam, tapi kami selalu menyempatkan diri bertemu, tapi sudah satu minggu kami hanya berkomunikasi lewat telephone atau pesan singkat. Dia harus ke Medan karea ibunya sedang sakit. Entah sakit sungguhan atau sedang berencana memperkenalkannya pada wanita lain.
Tiba-tiba ponselku bergetar saat aku baru selesai mandi, di Jakarta saat ini pukul 19.25 WIB.
"Kesayangan Memanggil"
"Selamat malam kesayangan." Aku medengar suaranya ketika aku menggeser tombol terima di touch schreen-ku.
"Selamat malam kesayangan." Balasku. Begitu lucu ketika akhirnya dia menuruti permintaanku untuk memanggilku dengan sebutan "Kesayangan" meski dia selalu berdehem setelah memanggilku dengan sebutan itu.
"Saya sedang dalam perjalanan dari Bandara, sebelum pulang saya mau ketemu sama kamu dulu." Dia masih saja terus bersikap formal, meski aku memintanya untuk menjadi lebih fleksibel dan santai, sampai sekarang hasilnya masih nihil.
"Ok kesayangan, kebetulan saya juga masak hari ini."Akhirnya justru aku yang mengikuti gayanya.
"Limabelas menit lagi saya sampai."
"Hati-hati, saya tunggu di apartment."
"Ya." Jawabnya singkat.
***
Benar saja, sekitar limabelas sampai duapuluh menit pintu apartmentku diketuk, aku segera berlari keluar. Seorang pria bediri di depan pintu, tapi aku tak bisa melihat wajahnya, buket bunga super besar menutupi wajahnya.
Aku langsung tahu dia siapa ketika dia berdehem.
Dia menurunkan buket bunga superbesar itu dan menyodorkannya padaku, meski senyum diwajahnya terlihat dipaksakan dan dia justru terlihat begitu salah tingkah. Setelah aku menerima buket bunga darinya, kami masuk kedalam apartmentku, tapi langkahnya terhenti tepat di depan pintu, aku menoleh tepat saat dia mengulurkan tangannya. Aku tersenyum lalu memberikan pelukan singkat padanya "Kesayangan." Bisikku, dia hanya memejamkan matanya, nyengir, tidak yakin, tapi akhirnya mengatakannya, meski ragu "Ke-sayangan."
"Apa di luar turun salju?" Aku menggoda saat kami masuk kedalam ruangan, kuciumi bunga itu dan kurasakan keharuman merangsek masuk melalui hidungku, sampai ke pangkal otakku, dan ini sangat menenangkan.
"Indonesia mana ada salju?" Dia masuk dan melucuti jaketnya, meletakan di sofa depan.
"Kalau nga ada salju kenapa abang tiba-tiba bisa punya ide kasih saya bunga sebesar ini?" Aku mengangkat buket bunga di tanganku, dia tersenyum " Saya lagi bahagia." Jawabnya singkat.
"WOW..." aku pura-pura terkejut, tapi sebenarnya ini benar-benar kejutan. Buket bunga kedua yang kuterima dari pria kaku ini, pertama jika kalian ingat waktu itu dia memberiku buket bunga di rumahsakit, bahkan dia harus berbohong bahwa itu bukan bunga darinya. Entah kebahagiaan seperti apa yang dia rasakan sampai dengan percaya diri memberiku buket bunga ini.
"Nanti saya cerita, saya mau cuci muka dulu." Dia berjalan ketoilet. Selain kaku, dia juga orang yang rapih dan bersih, dia bahkan tidak pernah melupakan cucitangan, dan cuci muka ketika kami bertemu dan dia belum sempat mandi.
Aku segera meletakan buket bunga di dalam kamarku, lalu menyiapkan makan malam di meja makan. Saat dia keluar dari kamar mandi, dia menyusulku ke meja makan.
"Yuk, makan dulu." Aku mendongak menatapnya, dia segera menarik kursi di hadapanku lalu duduk. Aku menyodorkan piring berisi nasi padanya "Segini cukup?" dia mengangguk "Cukup."
"Lauknya?"
"Saya ambil sendiri." Dia mengambil piring nasi dari tanganku, lalu meletakan potongan ikan saus padang, dan cah sayuran. "Kamu nga makan?" Dia menatapku, aku tersenyum, "Saya sudah makan tadi, saya nga tahu kalau abang pulang hari ini." aku menuangkan air mineral dalam gelas lalu meletakan gelas itu di hadapannya.
Aku selalu terhipnotis ketika kami makan bersama, dia selalu menyempatkan diri mensyukuri setiap makanan dihadapannya pada Sang Pemberi Kehidupan "Terimakasih." Dia tersenyum lalu menyuapkan nasi dalam. Melihatnya makan masakan rumahan, hasil karya tanganku, dengan begitu lahap, dia juga tampak menikmati setiap suapan yang masuk kemulutnya, rasanya begitu luarbiasa bagiku.
"Gimana kondisi namboru?" Aku membuka pembicaraan.
"Sudah lebih baik, kemarin itu tekanan darahnya sempat tinggi." Jelasnya.
"Oh, sempet di rawat di rumahsakit?"
"Enggak, dirawat di rumah aja."Dia menjawab santai. Ya kuharap ini bukan bagian dari rencana ibunya untuk menjodohkannya dengan wanita lain. Meski aku tidak ingin mengatakannya langsung, aku benar-benar takut dia tersinggung.
"Oh, banyak pikiran mungkin." Tebakku.
"Kemarin mungkin ya, tapi sekarang harusnya sudah tidak lagi" Dia menjawab singkat, sambil mengunyah makananya.
"Oh ya, besok pagi ada acara outing karyawan kantor." Dia bicara saat makanan dalam mulutnya telah ditelan.
"Oh ya?"Aku mengerutkan alisku
"Iya." Dia justru tersenyum sambil menaikkan alisnya. Lalu dia tampak teringat sesuatu yang penting "Saya mau ajak kamu." Dia menatapku, aku tertegun memandangnya. "Tapi itu kan acara outing karyawan bukan?"
"Family gatherig." Dia mengkoreksi.
"Itu kan acara untuk keluarga." Aku merengut. Dia tampak meletakan alat makannya, meneguk air mineral dalam gelas, perlahan mengelap mulutnya dengan tissue, lalu meraih tanganku "Bukankah kita juga akan membangun keluarga?" pertanyaannya itu membuatku meleleh seperti icecream terkena panas.
Aku mengangguk "Suatu saat nanti." Jawabku. "Segera." Dia menimpali.
Untuk beberapa waktu kami menikmati keheningan diantara kami, hanya saling menatap, tidak bicara, aku menikmati melihat wajahny dari jarak dekat, kurasa dia juga sedang menatapku lekat-lekat.
"Jadi kamu mau kan?"Dia melepaskan tanganku
"Untuk?"Alisku bertaut
"Besok, family gathering?" Sekali lagi dia meneguk air mineral dari dalam gelas.
"Dimana?"
"Bandung."Jawabnya singkat
"Em.... berapa hari?"
"Sebenarnya acaranya tiga hari, tapi karena Senin kamu harus praktek pagi, minggu malam kita bisa kembali ke Jakarta."
Setelah berpikir sejenak akhirnya aku mengiyakan "Ok." Dia mengulas senyum setelah persetujuanku.
"Ok, terimakasih untuk makan malamnya, ini enak sekali, hanya sayurnya akan lebih pas jika di kurangi sedikit garamnya." Dia nyengir kearahku.
"Apa itu artinya keasinan?"Aku merengut.
"E'hem." Dia mengangguk, menaikkan alisnya. Dia bangkit dari tempatnya duduk lalu berjalan ke arah sofa depan. "Sebenarnya saya masih mau ngobrol banyak, tapi sudah malam, besok pagi kita harus berangkat pagi-pagi, takut macet." Dia meraih jaketnya dari sofa, berjalan mendekatiku.
"Besok saya jemput jam enam pagi ya." Aku mengangguk."Ok."
"Bawa pakaian secukupnya."Perintahnya, dan aku mengangguk.
Dia mengulurkan tangannya, dan aku berjalan kearahnya, kami berpelukan singkat. "Sebenarnya ada acara tukar kado, tapi ini udah malem banget, besok saja kita beli di jalan."
"Tukar kado?"Aku menautkan alisku, sedikit terkejut.
"Ehem. Yah acara ini kan melibatkan keluarga, banyak anak-anak, jadi yah anggap saja itu untuk hiburan."
"Kado seperti apa yang harus kita bawa?" Aku jadi sedikit panik, ini tentang anak-anak, tentu kami harus menyiapkan sesuatu yang special.
"Tidak usah panik, apa saja, batas minimal hargannya limapuluh ribu, tidak ada batas maksimum." Jelasnya "Besok kita cari di jalan ya, sekarang saya harus pulang."
"Oke."
Akhirnya aku harus merelakan dia keluar dari apartmentmu, aku mengantarnya sampai kedepan pintu.
***
Benar saja pagi ini aku sudah siap sejak setengah enam, dan tepat pukul enam dia sudah berdiri di depan pintuku.
"Siap?"
"Ya." Aku mengangguk.
Kami segera turun tanpa berlama-lama dan sekarang mobil sudah melaju menembus jalan tol menuju Bandung.
"Kita pergi dengan mobil, karena kita harus kembali ke Jakarta sebelum acara selesai." Bang Jo menjelaskan, kali ini dia sendiri menyetir mobilnya.
"Pak Udin kemana?"
"Dia dan keluarganya naik bus bersama rombongan."
***
Kami tiba di Sheraton Bandung sekitar pukul sebelas lebih, macet parah karena ini weekend dan langsung di sambut dengan makan siang. Kami berbaur dengan keluarga dan karyawan, tanpa membedakan kedudukan.
Bahkan kami saat ini makan bersama pak Kasmin dan bu Kusrini juga ketiga puteranya. Pak Kasmin adalah OB di kantor bang Jo, sementara di meja sebelah kami tampak Pak Pio dan isterinya, seorang puterinya yang usianya sekitar belasan tahun dan puteranya yang mungkin juga berusia belasan tahun, duduk bergabung dengan pak Udin dan isterinya juga Ujang dan Deden, putera pak Udin.
"Pak Kasmin, ayo tambah lagi, jangan sungkan." Bang Jo terlihat sangat ramah dan santai justru. Meski pak Kasmin dan bu Kusrini terlihat malu.
Setelah hampir semua menyelesaikan makan siangnya kami di beri waktu bebas sampai nanti malam jam tujuh malam, untuk acara malam minggu keluarga. Ya semua sudah di bagikan jadwal, dan bang Jo mendapat forward email dari panitia penyelenggara yang adalah karyawannya sendiri.
"Saya mau ajak kamu ke suatu tempat." Bisiknya.
"Kemana?"Aku menautkan alisku, sementara pak Kusnni dan bu Kusrini tampak mencuri pandang kearah kami, lalu tersenyum.
"Nanti juga kamu tahu"
"Ok."aku mengangguk pasrah.
Benar saja, kami menembus jalanan kota bandung, menuju ke pinggiran. Aku tidak tahu persis arahnya kemana, tapi kami juga harus menembus kemacetan kota ini berjam-jam. Mobil kami bahkan harus menanjak, sangat jauh ke pinggiran Bandung.
Meski sebelum itu kami sempat mampir ke toko boneka. Membeli boneka lalu membunngkusnya dalam sebuah kotak besar. Itu kadoku, tapi aku tidak melihat kadonya. Entahlah, apakah karena dia boss-nya maka dia tidak perlu membawa kado atau apa. Tapi aku tidak melihat apapun dalam mobil kami sejak kami berangkat, bahkan di bagasi.
"Dulu saya ke sini jaman saya kuliah, teman saya ada yang asli orang Bandung." Jelasnya.
"Harusnya kita naik motor tadi, lebih cepat, lebih kuat juga buat nanjak." Dia menatapku.
"Abang bisa naik motor?"
"Bisalah."Dia tersenyum padaku.
"Kalau gitu harusnya tadi kita naik motor." Aku melebarkan mataku padanya, dan dia tersenyum. "Nanti kamu kepanasan."
"Enggak, saya dari kampung, sudah biasa panas-panasan."jawabku. Dia tersenyum "Kelihatan kok."
Mobil menepi di suatu tempat, di pinggir jalanm dan kami naik ke tempat itu, semacam saung-saung dari bambu. Dia mengajakku masuk ke dalam. Hari sudah mulai gelap saat kami sampai.
"Caringin tilu." Bang Jo menatapku, saat kami tiba di pinggir tebing itu, entah tebing atau gunung atau apa, tapi view di bawah begitu menakjubkan. Lampu-lampu kota bandung menyala berkerlap-kerlip.

JBS (Ready on Google Playbook - Venom Publisher)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang