20 - Jalan Masuk

Mulai dari awal

"Kami bisa membuatnya lebih mudah agar anda bisa mengerti," ujar laki-laki itu."Ini adalah perintah dari wali Nona. Anda tidak memiliki kapasitas untuk ikut campur akan hal ini. Anda hanya orang luar. Dan kami memiliki banyak cara untuk membuat orang luar tetap berdiri di tempatnya."

Dua orang yang berdiri di sisi pintu tiba-tiba maju selangkah. Berjejer sama dengan kepala pengawal. Jika mereka berpikir Raga takut, mereka tentu salah besar.

Suasana lorong untuk kamar VVIP itu terbilang sepi. Hanya ada 5 kamar di lantai ini dan hal tersebut menjadikan adu mulut mereka tidak tercium khalayak.

Tapi bukan berarti, Raga bebas melemparkan emosinya.

Tinju mengajarkan bukan hanya cara menumbangkan lawan, tapi bagaimana ia mengontrol emosi.

Raga sedikit banyak mengenal sifat orang macam ini. Papanya sering menyewa jasa pengawal untuk suatu acara bisnis tertentu yang biasanya bernilai ratusan miliyar. Dan seperti inilah mereka bekerja.

Raga menenggelamkan tangannya yang bebas di dalam saku karena tangan yang lain memegang plastik berisi buah.

"Saya kekasihnya," ucap Raga santai."Apa itu sudah cukup menjelaskan keinginan saya menemui Metta sekarang?"

Raga melihat jika kalimatnya barusan membuat kebingungan pada tiga kepala di hadapannya. Dari arah lift muncul seorang dokter dengan suster mengikuti di belakang. Mereka berjalan mendekat dan hanya mengangguk seraya menyapa ringan sebelum masuk ke dalam kamar sebelah.

"Kami tidak mengetahui kalau Nona memiliki kekasih,"

"Kalian mengetahuinya sekarang," Raga kemudian beranjak maju melewati kepala pengawal dan langsung menutup pintu ketika sudah berada di dalam.

Saat berbalik, apa yang tengah dilihatnya membuat mata Raga membulat sempurna.

"Ngapain lo?!" Teriaknya.

Mendengar itu membuat Metta menoleh dan melepaskan gorden kamar rumah sakit yang sudah berhasil ia tarik hingga jatuh di lantai. Melihat Raga mendekat membuatnya tersenyum lebar. Cowok itu meletakkan plastik secara asal di tempat tidur sebelum mendelik ke arah Metta.

"Lo lagi berusaha jadi kriminal rumah sakit? Atau lagi berencana digeret sama infus keluar dari sini?" Tanya Raga. "Turun!"

"Mana bisa ngerubuhan gorden rumah sakit dibilang kriminal," Metta yang berdiri di atas nakas melipat tangannya. "Gue gak suka gordennya. Warnanya kaya banci,"

"Turun!" Alasan cewek itu sungguh di luar akal sehatnya. Raga hendak meraih Metta untuk turun namun cewek itu mengelak.

"Ih tunggu dulu. Nanggung ini. Satu lagi, yang itu, di ujung sebelah sana pengaitnya. Gak nyampe dari tadi," tunjuknya pada satu gorden lagi yang masih terpasang. Membuat pijakan kaki Metta sangat rawan di ujung tepi nakas.

Raga hampir selalu melupakan pengendalian emosinya jika bersama Metta.

"Gue yang lepas entar," ujarnya. "Sekarang turun atau mau gue jatohin sekalian?"

"Beneran?!" Sahut cewek itu girang. Gerakan cewek itu membuat nakas bergoyang. Melihat itu membuatnya sangat ingin menjitak kepala Metta. Dengan cepat Raga meraih pinggang cewek itu sedangkan Metta berpegangan di bahunya. Mengangkat cewek itu turun lalu berpijak di atas lantai.

"Harusnya rumah sakit ini waspada sekarang, karena mereka punya pasien sakit jiwa yang lagi sekarat disini."

Metta tertawa. Ia lalu duduk di atas tempat tidur dengan bersila. "Ah, abang Aga mahh gitu. Itu cuma gorden. Mereka gak berani marahin pasien VVIP juga."

SIN [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang