Fana

1.1K 91 0

Jika dibandingkan dengan pernikahan Gangga dan Drupadi, pernikahanku kali ini bisa dibilang tidak ada apa-apanya. Persiapan pernikahan hanya dilakukan keluarga Karna, dibantu oleh penduduk desa yang dekat dengan Adirata. Hanya ada sebuah tempat pemujaan, dan sebuah tempat lapang yang nantinya dipergunakan untuk perayaan kecil.

Radha mengeluarkan sari merah yang pernah dia pakai di hari pernikahannya. Dia menambahkan perhiasan-perhiasan perak, gelang-gelang kaca, kalung sederhana, juga anting-anting berantai yang menyatu dengan hiasan kepala. Aku menatap mehndi di tanganku, ingatanku kembali kepada Drupadi. Tak heran, dia begitu riang di pernikahannya. Hari ini, aku baru merasakan, betapa manis sebuah ikatan cinta yang dikukuhkan.

Ketika sebagian sari dikerudungkan di kepalaku, aku merasa gugup hingga tanganku terasa membeku. Jantungku berdebar semakin cepat saat aku melihat rombongan pengantin pria menjemput pengantin wanita.

Karna tampak tampan dalam dhoti (Kain yang dililitkan membentuk celana panjang)

 merah dan kain berbordir yang disampirkan di dada dan lengannya. Kebahagiaan jelas terlihat di wajah Karna saat orang-orang mulai memainkan lagu dan musik. Pendeta mengikatkan ujung kainnya dengan ujung sariku. Duniaku terasa jungkir balik ketika aku mengelilingi api suci, meninggalkan masa laluku semakin jauh.

Anggur diedarkan dan orang-orang mulai berpesta dengan gembira. Mereka membuat sebuah api unggun, lalu menari dan menyanyi di dekatnya. Aku dipaksa ikut menari bersama mereka. Mengikuti irama lagu yang dinyanyikan dalam nada-nada ceria:

Cinta membutakan setiap mata,

Cinta menghadirkan surga di atas dunia,

Banyak yang menceritakan tentang cinta,

Sebagian mengatakan cinta mendatangkan air mata,

Sebagian mengatakan cinta adalah pilar kebahagiaan.

Oh, cinta.

Asmara bak anggur yang memabukkan...

Orang-orang kini berpegangan tangan. Aku tertawa, merasakan seluruh dunia menghilang ketika lingkaran manusia berputar-putar di sekeliling api unggun itu. Tangan Karna menggenggam erat tanganku. Seakan-akan mengajakku melewati kehidupan kami yang akan memasuki babak terindah.

***

Vrishasena lahir setahun kemudian. Dia anak yang keras kepala, sama seperti ayahnya. Bagi Karna, kehadiran Vrishasena menjadi sebuah hiburan tersendiri. Sementara senyuman anak itu adalah anugerah bagi Adirata dan Radha.

Putra kedua kami bernama Vrishaketu. Dibandingkan kakaknya, Vrishaketu lebih pendiam. Dia lebih suka menyendiri, lalu bermain bersama binatang-binatang di dalam hutan.

Keramaian di keluarga kami sempat membuat Karna lebih bergembira. Dia senang bermain bersama anak-anaknya, berlari-lari, lalu sesekali mengajarkan anaknya memanah.

Aku sempat berharap, kehidupan kami akan membaik karena kehadiran putra-putra kami. Namun badai mulai datang ketika aku sedang mengandung anak keempat.

Saat itu, Vrishaketu sedang mengejar kelinci. Dia datang kembali ke rumah, mengadu kalau kelincinya berlari ketakutan ketika melihat iring-iringan kerajaan melintas di dekat rumah kami.

Karna terpana melihat bendera Hastinapura. Ada banyak prajurit dan dayang, mengawal sebuah tandu di belakangnya.

Duryodhana turun dari kuda, menghampiri Karna dan langsung memeluknya tanpa bersuara. Untuk pertama kalinya, aku melihat Raja Hastinapura itu bersama pakaian kebesarannya yang terlihat angkuh.

"Kawanku Karna," dia berkata, "Mengapa lama sekali kau meninggalkan aku?"

Karna melepaskan pelukan Duryodhana, lalu memanggilku dan ketiga anaknya.

"Perkenalkan keluargaku, Yang Mulia," dia menunjuk kami dan meminta kami memberi salam. Duryodhana tampak takjub. Terlebih saat Vrishasena menyeringai jail kepadanya.

"Astaga! Kenapa kau tidak pernah mengatakan kalau kau menikah? Seharusnya aku membantumu membuat pesta yang megah! Atau setidaknya, memberikan hadiah."

"Istri saya lebih suka suasana yang tenang," Karna tersenyum, "Lagipula, saya tak berani mengganggu kesibukan Yang Mulia di Hastinapura."

"Karna! Karna! Kau boleh melupakan Angga. Kau boleh melupakan Hastinapura. Tapi bagaimana kau bisa melupakan temanmu?" dia menepuk pundak Karna hingga bahu kawannya itu berguncang.

"Aku mungkin pernah marah kepadamu. Namun itu hanya kemarahan."

"Saya memang salah meninggalkan tanggung jawab."

"Sudahlah, Kawan..." Duryodhana menghela napas, lalu memandang kami bergantian.

"Bagaimana kalau kau mengajak istri dan anak-anakmu pergi bersama kita?"

Karna mengernyitkan alis.

"Begini, Kawan... kali ini aku ingin mengunjungi saudara-saudaraku di Indraprasta. Ada Bibi Kunti juga di sana," dia menunjuk tandu di belakang, "Kupikir, dia pasti merindukan anak-anaknya. Jadi sekalian kuajak."

"Anda berkunjung ke Indraprasta?"

Duryodhana mengangguk, "Aku penasaran tentang kemajuan yang konon diberkati para dewa itu," Duryodhana menggunakan nada membujuk, "Tidakkah kau ingin ikut? Kau tahu, para Pandawa itu akan mencari cara untuk menentangku. Dan mungkin, Vrushali bisa menemani bibi di sepanjang perjalanan."

Karna diam, mempertimbangkan permintaan sahabatnya itu. Dia memandang rombongan yang masih menanti. Kunti terlihat menyibakkan tirai tandunya. Raut kesepian terlihat di wajah Ratu yang semakin tua itu.

"Baiklah, aku akan pergi," ada nada ragu dalam suara Karna. Namun dia segera menerima mahkota dan pakaian kebesaran yang telah disiapkan Duryodhana.

#StopPlagiarism

Author Putfel

Legenda Negeri Bharata [ COMPLETED ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang