Dia, Sebongkah Kisahku

16 3 0
                                                  

Aku berdiri disini, nyaris di hadapannya. Dengan deru detak jantung yang nyaris menandingi kecepatan motor Casey Stoner. Mataku seakan tak pernah mau berhenti memandangnya. Dia manis, seperti biasa. Hanya saja, untuk kali ini aku bisa melihat senyumnya lebih lama beberapa detik. Bukan tersenyum kepadaku memang. Tapi, setidaknya senyuman itu yang pernah membuatku sulit terlelap pada saat jam pelajaran berlangsung.

Kedua tangannya tertaut di depan. Sorot matanya yang tajam itu, nampak intens menatap guru olahraga kami yang sedang memberikan instruksi. Rahangnya yang terlihat kokoh dengan rambut cepak yang rapi tanpa perlu disisir. Itulah yang dapat kutangkap dari penglihatanku kali ini.

"Eh, Dev!" Itu suara temanku, Zara. Tak ayal mengganggu kesenanganku pagi ini karena tiba-tiba dia memanggil namaku. Dan mau tidak mau, aku harus menjeda kegiatan mem'perhatikan' laki-laki itu.

"Apaan?" Tanyaku sambil menoleh ke samping kanan.

Yang ditanya malah senyum-senyum tidak jelas. Membuatku jengkel setengah mati saja. Aku pun mau tidak mau hanya menunggu sampai dia kembali dari alam bawah sadarnya itu.

"Liat noh, pacar gue yang paling depan. Asli mah ya makin bisa ngeliatin." Ujarnya sambil menunjuk seorang laki-laki dengan arah iris matanya.

Aku hanya mengedikkan bahu sambil menanggapi seolah-olah aku mulai bosan. Temanku ini pasti akan menanggapi bahwa aku hanya menampakkan ekspresi 'seolah-olah' bosan. Padahal realita yang ada di hatiku memang menyuarakan kebosanan yang sama. Bukan hanya bosan memang. Tapi sesak, sakit, dan pilu.

Muncul beberapa penyesalan dalam diriku.

Tentang kenapa harus laki-laki itu yang diam-diam kukagumi? Tidakkah ada orang lain lagi yang lebih pantas kukagumi selain dia? Haruskah aku selalu memasang wajah 'sok' bahagia ini di depan temanku, Zara? Tapi, setiap kali aku tersenyum mengingat laki-laki itu, ada sekelebat perasaan bersalah pula yang selalu membuntutiku.

Ini menyesakkan memang.

"Iya lah percaya yang udah taken sejak kapan tau, gue aja sampek lupa." Aku tertawa entah terdengar bagaimana. Yang jelas tawa ini lah yang selalu menemaniku untuk menerima beberapa kenyataan pahit.

Kenyataan bahwa laki-laki yang aku ceritakan di atas adalah pacar dari teman dekatku, Zara.

Kenyataan bahwa laki-laki yang kini menjabat sebagai pacar Zara itu merupakan mantan pacarku.

Dan kenyataan bahwa mantan pacarku itu kini menjadi saudara tiriku.

Hanya kenyataan terakhir yang diketahui oleh Zara. Kenyataan-kenyataan yang lain, sama sekali tak berani ku ceritakan kepadanya. Anggap aku egois. Tapi memang itulah adanya.

~ Minggu, 19 Februari 2017

EndeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang