BAB 25

2.5K 203 13

BAB 25


Hari ini adalah hari pertama Aya kembali menginjakkan kaki di rumahsakit tempatnya berkerja setelah selama dua tahun dia mengisolasi dirinya di sebuah kota kabupaten di pinggiran Jogja. Bahkan selama enam bulan lebih dia menngurunng dirinya di dalam rumah. Karena dukungan ibu dan kakak laki-lakinya akhirnya Aryani memutuskan untuk kembali ke rumahsakit itu, kembali berpraktek sebagai dokter gigi tetap di rumahsakit itu.

Aryani baru saja berjalan menuju pintu utama ketika segerombolan wartawan datang berbondong-bondong, bahkan mereka lansung menuju sebuah ruangan khusus yang di siapkan untuk konfrennsi pers.

"Ada apa?" Aya bertanya pada seorang perawat saat dia berpapasan dengannya, tapi perawat itu menggeleng dan mengatakan bahwa dirinya tidak tahu. Aya mengangkat bahunya lalu berjalan meninggalkan lobby utama menuju ruang prakteknya. Semua masih sama, kecuali beberapa fasilitas baru di dalam ruanganya.

Kali ini Nina sudah tidak membantunya lagi, diganti dengan Amanda Prawestri, perawat muda jebolan sekolah perawat dari Jogja. Entah mengapa tapi bekerja bersama gadis muda energic itu membuat Aya bersemagat di hari pertamanya.


(AYA POV ~ Point of View)

"Selamat pagi Dok." Sapa gadis muda berseragam perawat di hadapanku.


"Selamat pagi" Aku tersenyum seramah yang aku bisa.


"Saya Amanda Prawestri, perawat baru yang akan bantu dokter di sini."


"Saya juga baru kok Manda." Aku memanggilnya Manda, karena itu terdengar imut.


"Tapi Dokter kan sudah lama pernah berpraktek di sini." Dia tersenyum manis, meski begitu kalimatnya justru membuat hatiku kecut, aku mengingat semua kejadian itu dua tahun lalu. Pria itu, mengantri di bangku pasien, Jonathan Saragih. Oh tidak, men1gapa aku mengingatnya sekarang.


Dan dengan bodoh aku masih berharap bahwa hari ini, kejadian itu akan terulang kembali, dia masuk kedalam ruanganku dengan keluhan sakit gigi. Dan kami akan mengulangi semuanya, sampai pada hari itu. Hari dimana aku menuruti egoku untuk meninggalkannya dan memilih Mas Bagus, aku ingin mengulangi hari itu dan mengatakan bahwa aku akan bertahan bersamanya sampai kami bisa melewati semuanya, dan aku bisa menjadi seseorang yanng dia panggil "isteri"


"Dok, kok melamun." Manda menepuk pundakku, menarikku dengan kejam dari lamunanku.


"Eh... iya. Tolong panggil pasien pertamanya."Aku tersenyum pada Manda, agar aku terlihat lebih relax. Manda mengagguk lalu membuka pintu sedikit, kepalanya menyembul keluar, sementara sebagia badannya masih di dalam ruangan "Jonathan Saragih." Nama itu begitu jelas di ucapkan oleh Manda, dan aku hampir saja terlempar dari kursiku. Jantungnku berdetak, bertalu-talu, apakah mimpiku jadi kenyataan? Aku sangat gugup ketika Manda masuk dan diikuti seorang pria, pria muda, sangat muda, kecil, oh kurasa dia baru berusia sekitar tiga atau empat tahun, dibelakanngya diikuti ibunya.


Hufttttt, aku menarik nafas lega.


"Selamat pagi." Aku menyapanya ramah, tapi dalam hatiku berisik, "Nak, jika kau besar nanti kumohon carilah Aryanimu dan perjuangkan dia, jangan pernah lepaskan, karena rasanya sakit, dan sekarang yang tersisa hanya penyesalan."


"Selamat pagi dokter." Aksen ibu ini mengingatkanku pada mamak. Bulukudukku rasanya berdiri. Oh sudah lama sekali sejak terakhir kali aku mendengar aksen seperti ini. Di kampung semua orang berbicara dengan aksen "MEDOK" khas jawa.


"Saya periksa dulu ya bu puteranya."


Aku mulai dengan memintanya membuka mulut, lalu mencari sumber sakit. Rupanya sebuah gigi berlubang, ada sedikit infeksi.

JBS (Ready on Google Playbook - Venom Publisher)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang