BAB 23

2.3K 195 17

BAB 23


Empat hari setelah kejadian itu, akhirnya Jo bisa keluar dari rumahsakit. Mamak menjemputnya, tentu saja dengan driver setia Jo, yang tidak lain adalah pak Udin.


"Jo, kau masuk dulu lah kedalam mobil, mamak mau ke toilet sebentar." Mamak tampak menahan buang air kecil sedari tadi.


"Iya mak." Jo berjalan gontai keluar dari rumahsakit, didampingi oleh pak Udin. Dia berjalan keluar dari lobby rumahsakit menuju parkiran, karena Jo sengaja tidak meminta pak Udin membawa mobilnya ke area pintu utama rumah sakit.


"Bapak tunggu sini saja, saya ambil mobil."Pak Udin menatap Jo, sementara pria mudah itu tampak gusar, tatapannya juga berkeliaran, liar tak terarah, seperti mencari-cari sesuatu atau seseorang, tapi tidak dia temukan pada akhirnya."Nga usah, saya jalan aja ke tempat parkir." Mungkin saja dia berharap bisa melihat, atau bahkan bertemu seseorang.


Saat Jo sudah duduk di kabin penumpang, tiba-tiba seorang wanita muda tampak sedang menelepon, menuju kearah sebuah mobil. "Dokter Aya pak." Pak Udin menoleh ke arah Jo, ketika melihat pemandangan yang sama dengan Jo.


Sementara Jo hanya berdehem, berpura-pura tidak peduli. "Bapak yakin nga mau ketemu dokter Aya? Mumpung nyonya besar belum datang." Tak menjawab pak Udin, Jo segera menghambur keluar dari mobil dan mengejar Aya. Aya sedang sibuk mencari kunci mobil di dalam tas sambil menelepon. Dia bahkan tidak menyadari kehadiran Jo di depannya. Saat tangannya menemukan kunci mobil, tatapannya beralih ke pintu mobil, dan dia melihat sepasang sepatu pantofel pria tertangkap oleh matanya. Dia mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobil, menoleh ke arah pria itu, dan mulutnya seketika ternganga, matanya terbelalak, dia bahkan melupakan bahwa seseorang sedang berbicara dengannya di seberang telepon.


Jo tersenyum, meski matanya tidak " Hai." Dia menyapa Aya formal, dengan mengulurkann tangannya. Sementara itu Aya masih butuh beberapa detik untuk kemudian tersadar. "Sebentar ya, nanti saya telepon balik." Aya meminta ijin pada seseorang di seberang telepon.


Setelah memutus sambungan teleponnya, dia segera memasukan ponselnya kedalam tas, juga kunci mobilnya. Jo yang sedari tadi mengulurkan tangannya, dia begitu ingin menyentuh Aya dengan segala cara, termasuk sebuah jabat tangan. Dia begitu merindukan gadis Jawa itu. "Hai." Aya mejabat tangan Jo formal. Mereka jelas terlihat kaku.


"Kamu apa kabar?" Jo memberanikan diri bertanya, meski dia tidak yakin Aya akan menjawab pertanyaannya. "Baik." Aya menjawab singkat.


Aya juga sangat merindukan pria Batak ini, setelah beebrapa hari mereka sama sekali tidak berkomunikasi secara langsung. "Abang udah sehat?" Aya menjaga agar ekspresinya tidak terlihat berlebihan. Sementar Jo hanya mengangguk.


Bagi Aya, mengetahui keadaan Jo setiap detik merupakan sesuatu yang berharga. Dia bahkan rela kongkalikong dengan perawat yang menjaga Jo demi tahu perkembangan Jo setiap dua atau tiga jam sekali. Dan untung saja perawat itu begitu kooperatif.


Tak beda degan Jo, dia juga harus melakukan kerjasama dibawah tangan dengan Nina, perawat yang selalu membantu Aya setiap kali praktek, demi menndapat kabar tentang Aya dan beberapa foto Aya yang sengaja diambil secara diam-diam oleh Nina. Tidak semudah urusan Aya dengan perawat ruang Orchid. Jo harus bersusah payah meyakinkan Nina, bahkan dengan bantuan pak Udin.


Pak udin sengaja ditugaskan untuk mengantri di tempat tunggu pasien sebelum jam praktek Aya di mulai. Dan seperti biasa perawat akan datang dan mempersiapkan segalanya, sebelum akhirnya dokter datang. Saat itulah dia mendekati Nina.


"Suster."Pak Udin mendekati Nina


"Ya pak."Nina menoleh sebelum masuk ke ruang praktek Dokter.


"Suster yang bernama Nina?" Pak Udin bertanya sopan sementara Nina hanya mengangguk "Iya."Jawab Nina singkat.


"Suster kenal sama pak Jonathan Saragih?" Pak Udin menunjukan sebuah foto di layar ponselnya. Nina melihat wajah pria itu dalam foto dan mengangguk. "Sebentar ya sus." Pak udin segera sibuk dengan ponselnya dan kemudian dia tersambung dengan Jo.


"Pak, ini suster Nina."Pak Udin melapor.


"Tolong kasih ponselnya ke Nina." Pinta Jo.


"Halo." Nina berbicara pada Jo meski dia jelas terlihat bingung waktu itu.


"Suster, saya sedang di rawat di ruang Orchid nomor 12. Bisakah anda datang, saya perlu bantuan."


"Pak Jo, anda bisa meminta perawat yang sedang bertugas untuk membantu bapak. Tidak perlu saya pak, atau saya bantu panggil perawat yang bertugas ya." Nina dengan sabar menjelaskan.


"Ini soal Aryani, dokter Aryani, saya perlu bantuan anda."


Mata Nina terbelalak ketika Jo menyembut nama itu. Akhirnya dia mengiyakan dan segera menuju ruang perawatan Jo. Di sana Jo menjelaskan duduk perkara secara garise besar, dan akhirnya Nina setuju untuk membantu Jo memberikan informasi tentang Aya, mulai dari memberi tahu kabar tentang Aya, sampai mengambil foto diam-diam, atau bahkan vidio.


Jadi sikap kaku mereka berdua saat bertemu di tempat parkir saat ini adalah kebohongan belaka. Masing-masing dari mereka masih tidak rela untuk saling melepaskan, tapi mereka bertindak sebaliknya.


Kembali pada Jo dan Aya, di tempat parkir. "Maaf ya, saya harus buru-buru ke bandara." Aya berpamitan, tapi Jo tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya "Kamu mau kemana?"


"Jogja" jawab Aya singkat.


"Ibu kamu sakit?"Jo terlihat panik, sementara Aya hanya tersenyum lalu menggeleng "Enggak."


"Oh, ada acara apa?"Jo masih berusaha mengulur waktu.


"Saya.... terima lamaran Mas Bagus akhirnya." Aya menunduk, sementara rahang Jo mengeras mendengar berita itu. Dia jelas terguncang. Tapi wanita malang di hadapannya jelas berhak bahagia meski dengan pria lain. Jo tidak ingin menggunakan egonya untuk memenangkan wanita ini, jika jalan menuju kesana mungkin saja membuat wanita ini harus meneteskan berliter-liter air matanya. Lebih baik melepaskannya pada pria lain daripada mendekapnya, sementara tubuhnya dipenuhi duri yang siap mencabik-cabik tubuh wanita malang di hadapannya itu. Wanita yang bisa memenangkan cintanya dalam hitungan hari setelah Christina.


"Selamat ya." Jo akhirnya bisa berkata-kata setelah sempat tertegun beberapa saat. Dia juga mengumbar senyum palsu, begitu juga dengan Aya. Meski ucapan selamat dari Jo seperti belati yang di tusukan langsung ke jantungnya, tapi dia tetap tersenyum, meski hatinya menjerit, dan setiap sel dalam tubuhnya berteriak, memberontak.


"Boleh saya peluk kamu untuk yang terakhir?" Jo menelan ludah, dia benar-benar kehilangan kendali atas dirinya. Dia ingin menarik wanita malang yang berdiri goyah dihadapannya itu kedalam pelukannya dan tidak membiarkan pria lain, siapapun, menyentuh apalagi memeluknya.


Aya sempat menarik nafas panjang, lalu menatap nanar pada Jo, tatapan mereka adalah tatapan penuh kerinduan satu sama lain, sepertinya benar, sel-sel tubuh mereka, sampai ke mikro sel, semua berteriak bersahut-sahutann, saling mengagungkan. Jo hampir yakin bahwa Aya tidak akan menjawab, tapi langsung menghambur ke pelukannya.


Dia bahkan berhitung dalam hatinya, satu, dua, tiga,dan benar saja, Aya menatapnya, tersenyum, lalu dia menggeleng. "Maaf." Satu kata itu, dan seketika harapan Jo hancur lebur. Aya meraih kuninya lagi dari dalam tas, lalu membuka pintu mobilnya dan segera menutupnya ketika dia sudah duduk di belakang kemudi.


Perlahan mesin mobil menyala, dan mobil maju perlahan. Seiring dengan melajunya mobil, meninggalkan Jo yang berdiri mematung meantap kearah mobil itu, air mata Aya juga perlahan turun. Semakin deras, dan akhirnya dia terisak.


Sementara Jo tertunduk, ini kali pertama dia merasa hancur, lebih hancur daripada ketika dia harus melihat Christina bersama pria lain.


Mamak yang sedaritadi melihat mereka berdua dari kejauhan akhirnya mendekat. "Nak,....Ayolah kita pulang." Jo mengangguk, mengikuti langkah mamak menuju mobil. Dan akhirnya mobil Jo juga melaju pelan keluar dari parkiran.


JBS (Ready on Google Playbook - Venom Publisher)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang