Terkepung

2.6K 361 2

Aku terbaring di tempat tidur sambil menatap langir-langit yang kecoklatan dengan aroma dedaunan dan pohon yang samar-samar. Suasananya begitu tenang diantara kegundahan hatiku. Rumah ini begitu sunyi semenjak Kenzie pergi ke Istana. Entah apa yang akan dia lakukan disana. Pikiran-pikiran yang saling berkelebat dikepalaku membuat kegundahan semakin menggelayutiku seperti kapas basah.

Aku mengamati kedua tanganku. Kulitku benar-benar pucat seperti tidak ada darah yang mengalir didalamnya. Jujur, aku sedikit penasaran dengan wajah dan penampilanku dalam versi Una, tapi sayangnya tidak ada cermin di rumah ini. Aku pernah melihat bayangan diriku di air tidak jauh berbeda dengan diriku dalam wujud Manusia itupun begitu samar. Aku tidak tahu harus berbuat apa, sampai saat ini aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku merasa jenuh dan bosan tapi Kenzie melarangku untuk keluar rumah.

Aku terbangun saat aku mendengar suara pintu diketuk. Aku terdiam sejenak dan berharap ada suara seseorang diluar sana agar aku bisa tahu siapa yang mengetuk pintu. Aku manajamkan pendengaranku dan pintu kembali sunyi, tapi tak lama setelah itu aku mendengar suara pintu di dobrak paksa. Aku melonjak dan mengintip dari atas tangga untuk mengetahui siapa orang yang berani masuk dengan cara yang tidak sopan seperti itu. Aku terpaku saat mataku berpas-pasan dengan matanya.

"Axcel," gumamku.

"Ririn Allyson." Axcel tersenyum miring dan menatap tajam. "Akhirnya aku menemukanmu."

Aku terpaku saat melihatnya dalam wujud Una. Dia—jauh lebih imut dari yang pertama saat aku bertemu dengannya. Aku mengaguminya tapi aku juga takut padanya. Peristiwa saat ia menghujamku melekat terlalu kuat dalm ingatanku.

Aku menuruni tangga dengan ragu sementara ia memperhatikanku dengan tatapan intens. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya tentangku. Meskipun aku berniat ingin menolongnya tapi aku juga harus waspada dengannya.

"Kau?" Axcel menyipitkan matanya. "Kukira kau Manusia biasa seperti yang lain."

"Aku tidak perduli dengan apa yang kau pikirkan tentangku. Tapi--" Aku menginjak undakan terakhir. "Aku benar-benar ingin membantumu."

"Apa itu tanda penyesalanmu setelah memberitahu namaku pada Dendez?"

"Iya, aku menyesal." Kini aku sudah berdiri dihadapanya. "Aku menyesal atas kebodohanku dan menyesal atas dirimu yang tidak memberitahukan siapa dirimu padaku. Kau menyembunyikan semuanya dari siapapun agar kau tetap aman. Aku mengerti itu."

Axcel mendengus dan tersenyum miring. "Memangnya apa yang bisa kau lakukan untuk membantuku? Haruskah aku mempercayaimu?"

"Mempercayaiku atau tidak itu terserah padamu. Yang jelas aku tidak ingin melukai ayahmu dengan membiarkan putrinya dilenyapkan."

"Begitu?" Axcel melipat kedua tangannya.

"Bagaimana kau bisa tahu aku ada disini?"

"Setelah kehadiranmu mengancam hidupku kau pikir aku akan melepaskanmu begitu saja. Aku mengawasimu dan ternyata kau bekerjasama dengan putra Dendez. Itukah yang kau sebut dengan bantuan?"

Aku menyeringai. Tapi aku merasa bahwa ini bukanlah diriku yang sesungguhnya. Sifat Karin mulai merambah pada diriku sesaat karena menyeringai bukanlah gayaku. "Mungkin saat ini aku belum melakukan apa-apa untukmu. Tapi suatu saat nanti kau akan berterimakasih padaku."

"Oh, begitukah? Kau sombong sekali." Axcel melangkah satu kali lebih dekat. "Kalau begitu buktikan ucapan sombongmu itu."

"Baiklah suatu saat nanti aku akan membuktikannya. Ngomong-nomong ada perlu apa kau kemari? Ingin menghujamku lagi?"

Axcel mendengus tertawa. "Aku bahkan berniat lebih dari itu. Tapi sebelum itu ada yang ingin aku bicarakan denganmu."

"Oh kebetulan sekali. Aku juga ingin berbicara denganmu. Bisakah kita bicara sambil duduk?"

Loizh III : ReinkarnasiBaca cerita ini secara GRATIS!