BAB 21

2.5K 211 10

BAB 21


Jo mengusap rambut Aya "Saya nga mau kehilangan kamu." Aya mengangguk dalam pelukan Jo, tapi dia segera menarik diri "Auw.." Jo menarik tangannya "Aduh maaf." Selang infuse menyangkut, dan jarum infusenya terlepas. Jo dan Aya saling menatap, lalu tertawa, "Kamu tahu? Selang infuse aja nga mau pisah sama kamu, apalagi saya." Jo tersennyum, sementara Aya terlihat panik karena darah keluar dari bekas jarum infuse yang tercabut. Aya segera memanggil perawat, tak lama perawat itu datang.


"Pak Jonathan, ini diapain kok bisa lepas?" Perawat menatap Jo penuh selidik, meski tangan terampilnya sedang memplester bekas luka Jo.


Jo berdehem "Tadi saya tidur, terus nga sengaja bergerak, kesangkut sama selimut." Jo berbohong, perawat menoleh pada Aya, Aya menahan senyum, tapi dia manggut-manggut mendukung kebohongan Jo.


"Hati-hati ya pak, ini pembuluh darah arteri, kalau tercabut ada kemungkinan pembuluh darahnya robek, dan itu bisa menimbulkan pendarahan."Suster mengomel sambil memasang infuse baru di lengan kiri Jo.


"Iya." Jo melirik kearah Aya, sementara Aya menggodanya dengan menjulurkan lidah.


"Sudah ya pak."Perawat menatap Jo, kemudian beralih pada Aya "Dokter Aryani, tolong di perhatikan ya selang infusenya. Jagan biarkan pasien bergerak terlalu banyak." Aya mengangguk, dan perawat itu meninggalkan ruangan.


Jo berdehem lagi setelah perawat itu keluar " Jagan peluk saya lagi, saya takut sama perawatnya. Galak." Jo menggoda Aya, sementara Aya melipat tangannya di dada "Abang yang jangan kegennitann sama saya, jadi rusak deh tu infusenya."Aya berjalan mendekat.


"Sakit ya?" Aya meraba bekas infuse yang tercabut. Jo menantapnya "Enggak lah."


"Bilang sakit gitu kek, jangan pura-pura kuat."Aya menepuk bekas infusan itu, dan Jo mengerag "Auuuw"Jo meringis menahan sakit, tapi Aya justru tersenyum. Sini, Aya meraih tangan Jo, lalu dengan lembut menciumnya, "Kaya gini pasti nga sakit lagi." Mata Jo awalnya membulat, terkejut, tapi sejurus kemudian melembut. "Masih sakit kok, coba ulangi sekali lagi." Jo menunggu Aya melakukannya sekali lagi "Apa? Mukulnya?" Aya justru menggoda. "Nga jadi lah kalau gitu." Jo menarik lengannya, tapi Aya mempertahankanya, sekali lagi menciumnya lalu berbicara pada tangan itu " Kamu harus tetap kuat ya, karena saya butuh kamu untuk selalu melindungi saya." Jo menahan senyumnya. "Saya bicara sama tangan abang, bukan abang."


"Aryani, kamu tu menggemaskan."


"Emang."


"Saya jadi nga bisa jauh-jauh dari kamu."


"Oh ya, tadi pas saya makan saya ketemu Dosma."


"Dosma?"Mata Jo membulat, semetara Aya mengangguk "Iya, saya bicara sama dia, makanya saya lama tinggalin Abang."Jo menatap Aya dengan khawatir "Apa yang dia bilang sama kamu?"Aya menarik nafas dalam, sebelum akhirnya menjelaskan "Dokter Emil sudah kembali dari pendidikan singkat di Singapura, kemarin sih tepatnya. Sepertinya dia berniat kembali pada Dokter Emil."


Jo terlihat sedikit bingung medegar nama itu, sangat asing "Dokter Emil?"


"Ya, Dokter spesialis penyakit dalam, yang waktu itu sempat tugas selama tiga bulan bareng Dosma dan saya. Keturunan chinese sunda."Aya melajutkan.


"Serius?"Jo sedikit terkejut


"Iya, sebenernya dokter Emil juga menaruh hati sama Dosma, tapi ya lagi-lagi etnis yang jadi kendala."Aya terlihat


"Sama seperti kita?"Jo menautkan alisnya.


"Ehem." Aya mengangguk lemah. Jo meraih taganya "Maaf saya belum bisa berbuat banyak. Tapi saya janji setelah saya keluar dari rumah sakit, saya masih ada satu sidang di akhir minggu ini, setelah semua itu kita akan ketemu sama ibu kamu."


"Tapi ibunya abang kan belum kasih restu."


"Kita rubah skemanya, ibu kamu dulu, baru ibu saya, saya rasa ibu saya sudah sedikit melunak, dan masalah Dosma juga kemungkinan besar tidak akan berlanjut."


"He'em."


"Kamu yakin kamu ngak akan berubah pikiran?"


"Soal apa?"


"Bagus Prakosa?"


Aya merengut "Haruskah saya buat pengumuman di koran baru abang bisa percaya sama saya?"


"Boleh juga di coba." Jo tersenyum, dan Aya memukul dadanya. "Auww."


"Kekerasan terhadap pasien, kamu bisa kena pasal perbuatan tidak menyenangkan lho."


Aya tertawa kecil "Saya lupa saya berhadapan sama siapa."


"Saya harus praktek, abang saya tinggal nga papa kan?"


"Iya."


"Ok, cepat sembuh ya. Banyak kasus menunggu."


"He'em."


"Terutama kasus paling penting buat abang."


"Apa?"


"Saya."


Jo menggeleng, tapi terseyum kemudian. "Saya akan balik lagi setelah selesai praktek ya."


"Kamu nga mandi dulu?"


"Mandi, masih ada waktu kok buat siap-siap."


"Ok, take care."


"Abang juga."



JBS (Ready on Google Playbook - Venom Publisher)Where stories live. Discover now