BAB 20

2.4K 228 10

BAB 20


Pagi ini Aya masih berada di rumahsakit, karena jam prakteknya baru akan dimulai sekitar jam satu siang nanti.


"Abang masi nga mau bicara sama saya?" Aya menyuapi Jo dengan menu sarapan, meski muka Jo masih terlihat begitu masam, tapi dia tetap tidak menolak setiap suapan yang Aya sodorkan.


"Salah saya dimana sih?" Aya terus saja bicara meski Jo tidak menjawab semua pertanyaan. "Saya memang kenal dengan Bagus Prakosa, tapi saya pikir saya tidak perlu kasih tahu abang. Karena buat saya Bagus Prakosa itu masalalu saya." Aya memasukan sesendok makanan lagi ke mulut Jo. "Saya nga mau ada link antara masalalu saya dan masadepan saya. Saya sudah menyelesaikan masalalu saya, dan saya nga akan pernah mulai lagi sesuatu yang saya anggap sudah selesai." Aya meraih gelas berisi air mineral ketika Jo mengangkat tangannya, tanda bahwa dia ingin menyudahi sarapannya.


"Saya lihat foto itu." Akhirnya Jo membuka suara.


"Foto apa?" Aya justru tidak menyadari bahwa ada foto kiriman dari Bagus di ponselnya.


"Dia kirim foto lama kalian." Mata Aya terbelalak, dia segera mengecek ponselnya. Dan benar saja, foto wefie mereka, tampak Bagus tersenyum begitu pula dengan dirinya. Aya menelan ludah dengan susah payah, seolah semua kenangan manis itu menyerbu ke bilik hatinya ketika dia melihat wajah Bagus dan dirinya sedang tersenyum.


"Saya sudah hapus." Aya cepat-cepat memasukkan ponselnya kedalam saku jaketnya.


"Kalian dulu dekat sekali." Jo justru terlihat ingin tahu lebih banyak. Aya mengangguk, "Dulu."jawabnya singkat.


"Kenapa akhirnya dia bisa memilih wanita lain?" Jo semakin penasaran. Aya berdehem, dia sekali lagi menelan ludah untuk menetralkan emosinya.


"Apa saya harus cerita?"Aya menautkan alisnya, "Ceritakan semuanya." Pinta Jo. Aya menaik nafas dalam "Kalau itu satu-satunya cara buat Abang nga marah lagi ke saya, saya akan ceritakan semuanya."Jo tampak menyimak, meski sejak bangun tidur sampai sekarang Aya belum melihat senyum Jo yang biasanya dia obral ketika mereka bersama.


"Mas Bagus itu anak tante Widya, teman lama ibu saya di kampung. Waktu itu tante Widya pernah datang kerumah, sekedar mampir saat beliu mudik. Ketemu sama saya dan ibu saya. Terus mereka jadi punya ide buat kenalin saya sama anak laki-laki tante Widya, namanya Bagus Prakosa. Singkat cerita saya sempat ketemu, sekali atau duakali, saat saya masih kuliah. Terus saya lulus, kerja di sini, ketemu lagi. Dia sengaja nemuin saya di rumhsakit." Aya mengambil jeda, dia melihat Jo menyimak, meski matanya memandang ke arah lain.


"Masih mau di lanjutin?" Aya tidak yakin dengan ekspresi Jo, dia seolah tidak peduli, tapi dia meminta dirinya untuk menceritakan semuanya.


"Lanjutkan." Perintah Jo, meski wajahnya masih saja masam.


"Ya, mas Bagus orangnya santai, dia humoris, dia juga lebih tua dari saya, dia ngemong, care banget sama saya, ya saya nga bisa nolak perhatian dari dia." Aya meatap wajah Jo dari samping, dan terlihat rahang Jo megeras. Aya menahan senyumnya, mungkin ini moment yang baik untuknya membuat Jo sedikit cemburu. Atau mungkin sedikit berbohong dan melebih-lebihkan sifat baik Bagus akan membuat Jo termotifasi untuk jadi pribadi yang sedikit luwes, tidak terlalu kaku. Jo hanya berdehem, dan itu tandanya Aya harus melanjutkan ceritanya.


"Kami jalan bareng sekitar dua atau tiga tahun lah." Aya melanjutkan.


"Intinya aja deh." Jo terlihat emosional, sementara Aya tersenyum "Abang cemburu sama mas Bagus ya?" Jo tidak menjawab, tapi rahangnya lagi-lagi menjawab pertanyaan Aya dengan kembali mengeras.


"Sasya itu sekretarisnya di kantor.Waktu itu saya selama tiga bulan dikirim ke pedalaman kalimantan untuk bhakti sosial dari rumahsakit. Dan saat itulah ada kekosongan diantara kami, yang membuat Sasya akhirya mendapat tempat diantara kami." jelas Aya.


"Jadi itu bukan sepenuhnya salah Bagus?" Aya melotot mendengar pertanyaan Jo. Memang Bagus yang akhirnya memilih Sasya, tapi apakah dirinya juga menjadi penyebab kerenggangan hubungan mereka? Jarak?


"Saya pernah menjalani hubungan jarak jauh dengan masalalu saya, Christina, ketika akhirnya dia memilih laki-laki lain, saya tahu bahwa itu bukan salahnya sepenuhnya. Itu salah saya juga."Jo mengungkit masalalunya.


"Maksud abang apa?"


"Kalau ini bukan mutlak kesalahannya, berarti masih ada kemungkinan kamu akan memaafkan dia."Aya semakin terkejut dengan pernyataan Jo, selama ini tidak pernah terpikir di dalam benaknya, samasekali, bahwa semua tindakan Bagus tidak sepenuhnya atas kesalahannya. Komunikasi mereka memang nyaris terputus ketika mereka terpisah, bahkan Aya baru bisa mengirim pesan singkat atau telepon ketika dia ke kota kabupaten, dan itu mungkin antara seminggu sekali, atau kadang bahkan dua minggu sekali, dan itu hanya beberapa jam. Kadan Bagus juga sibuk dengan pekerjaannya, sehingga komunikasi mereka benar-benar sangat kritis saat itu. Dan anehnya, Aya baru menyadari semuanya ketika Jo memberikan pandangannya dari sudut pandang laki-laki.


"Aryani, jujur sama saya. Apa kamu masih menyimpan perasaan pada Bagus?"


Aya menelan ludah, matanya nanar menatap Jo. Setelah pikirannya terbuka, pandangannya terhadap Bagus, pria di masalalunya juga ikut berubah. Semua kenangan manis itu menyeruak dalam hati dan pikirannya.


"Jawab saya."


Nafas Aya justru memburu, tapi dia tidak juga menjawab. "Kalau kamu masih menaruh hati pada Bagus, kembali padanya. Itu salah kalian berdua, kalian masih bisa memperbaiki kesalahan itu."


"Enggak." Aya menggeleng.


"Mungkin saya datang di saat yang tidak tepat." Jo menatap Aya serius kini. "Saya datang disaat kamu dalam kondisi yang tidak stabil, akhirnya kamu menjadikan saya sebagai pelarian."


"Aryani, perasaan saya ke kamu itu real, tapi saya nga bisa terima kalau mau ternyata masih menyimpan perasaan untuk laki-laki lain. Saya bukan orang yang bisa berbagi untuk hal ini."Rahang Jo kembali mengeras, berat baginya mengatakan semua kalimat itu, karena itu sama halnya melepas burung merpati yang ada di genggamannya. Menunggu reaksi sang burung merpati, apakah memutuskan untuk tetap diam, atau terbang kembali ke cinta lamannya.


"Dari cara kamu menceritakan seperti apa pribadi Bagus Prakosa, saya tahu kamu masih menyimpan perasaan kamu buat dia."


Tindakan Aya melebih-lebihkann saat memuji kepribadian Bagus rupanya seperti senjata makan tuan. Tadinya dia hanya ingin Jo sedikit cemburu, tapi Jo justru berpandangan serius untuk itu.


"Saya sayang sama abang. Mas Bagus itu masalalu saya, dan sekarang saya di sini sama abang" Aya akhirnya menemukan suarannya, meski didalam batinnya sedang terjadi pergolakan hebat. Dia sekuat tenaga menepis pembenaran Jo atas tindakan Bagus, meninggalkan dirinya demi wanita lain, terlepas siapa yang bertanggung jawab untuk semua itu


"Abang ragu sama saya?"


Tatapan Jo dan Aya bertemu, mereka seperti tidak ingin melepaskan masing-masing, tapi mereka juga terjebak dalam emosi sesat yang membuat mereka gengsi satu dengan yang lain.


Akhirnya Jo mengulurkan tangannya, dan Aya menghambur ke pelukannya. "Tolong jangan ragu sama saya."Aya berbisik. "Menghadapi ibunya abang aja udah setengahmati buat saya, apalagi kalau abang ragu sama saya." Jo tidak menjawab, dia hanya terus memeluk Aya.

JBS (Ready on Google Playbook - Venom Publisher)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang