BAB 18

2.4K 216 9

BAB 18
"Itu tandanya abang kecapean dan pola makan kurang baik."Aya menyuapkan satu sendok terakhir pada Jo.
"Kecapean mungkin." Setelah selesai menngunyah Jo melanjutkan "Perawat bilang tifus menular lho, sebaiknya kamu jangan lama-lama di sini."
"Saya tahu kok, antibody saya cukup kuat, jadi jangan khawatir."Aya tersenyum, lalu berjalan ke toilet untuk mencuci tangannya.
Tiba-tiba perawat masuk "Pak Jo, gimana pak? Sudah merasa lebih baik?"
"Mendingan sus." Jawab Jo.
"Sudah makan ya pak?"
"Sudah."
"Ini saya suntik antibiotik, sama imun booster. Terus ini nanti obatnya ya pak."
"Iya." Jawab Jo singkat, kemudian munculah Aya dari dalam toilet, membuat perawat yang bertugas tersipu-sipu. "Bapak keluarga dokter Aryani ya?" Jo tersenyum " Saya calon suaminya." Perawat itu makin salah tingkah, saat Aya berjalan mendekat dia tersenyum pada Aya lalu berbisik pada Aya "Dokter diem-diem udah punya calon ya?" Aya tak menjawab, dia hanya tersenyum. Tak lama perawat itu meninggalkan ruangan.
"Abang harusnya jangan bilang begitu dong."
"Kenapa emang?"
"Berita di rumahsakit ini cepet sekali menyebar, nanti saya di gosipin deh."
"Gosip itu kan untuk sesuatu yang nga bener, kalau bener bukan gosip namanya." Jo menggoda Aya, sementara Aya merenngut.
***
"Dok, visit di ruang Orchid 11 ya."
"Kok tumben sih Rin, pasien saya masuk ke ruang Orchid?"Dokter masih sibuk menulis di agendanya.
"Bougenvil penuh dok."Jawab perawat muda itu.
"Oh, yaudah yuk. Saya juga mau cepet-cepet pulang habis ini."
"Baik dok."
Dengan terburu-buru mereka berjalan menuju ruangan Orchid. Langkah mereka terhenti ketika di ruang perawat (tempat perawat standby untuk ruang Orchid) tengah ada tiga orang perawat sedang mengobrol.
"Asik banget sih." Goda sang dokter.
"Eh dokter, tumben visit ke sini?"salah seorang perawat menjawab.
"Bougenvile penuh, ada satu nyempil di sini."Dokter yang supel itu menjawab.
"Di ruang 11 ya Dok?"Seorang lagi menimpali.
"Iya."Dokter manggut-manggut.
"Eh dok, di ruang 12 ada calon suami dokter Aryani lho."Satu perawat senior berbisik pada Dokter.
"Masa sih? Tahu dari mana?"Ekspresi Dokter jelas menunjukan keterkejutan.
"Dokter Aryani lagi jagain calon suaminya itu tadi pas saya kasih obat."Perawat senior itu meyakinkan.
"Oh, yaudah dilanjut deh, saya visit dulu, biar cepet kelar, terus saya bisa pulang deh."Dokter berpamitan, diikuti perawat yang tadi datang bersamanya.
"Ok Dok."
Saat sang dokter selesai visit di ruang 11, dia menyempatkan mampir ke ruang 12, karena informasi dari perawat tadi. Pertama memang sang dokter cukup penasaran untuk membuktikan berita itu, yang kedua, Dokter Aryani adalah teman baiknya. Mereka pernah ditugaskan untuk misi sosial selama tiga bulan di pedalaman Kalimantan tahun lalu.
Tok Tok
Dokter segera masuk setelah mengetuk pintu, Aya tampak bingung, mungkin saja itu mamak.
"Ibunya abang?"mata Aya melotot menatap Jo.
"Bukan, perawat mungkin." Jo menenangkan.
Tiba-tiba dokter itu masuk dan dia begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya di dalam ruangan. Aya sedang memegang tangan Jo.
"Bang Jo?" Dia tertegun.
"Dosma?" Aya menoleh terkejut, tak kalah terkejut juga Jo.
Dosma tak berkata apapun, dia langsung berbalik. Tapi Jo memanggilnya "Dosma." Langkah Dosma berhenti, dia berbalik dan berjalan masuk, sementara Aryani sekarang sudah berdiri, memberi jarak antara dirinya dan Jo.
"Dosma saya mau jelasin sesuatu sama kamu, biar semuanya clear." Jo berkata saat Dosma berada cukup dekat dengan bednya, tapi mata Dosma sudah berkaca-kaca.
"Aryani calon isteri saya." Kalimat Jo terpotong.
"Saya kenal Aryani jauh sebelum saya kenal kamu." Lanjutnya.
"Jadi dianya boru Jawa itu?"Dosma menatap Aryani, sementara Aya hanya bisa tertunduk.
"Iya." Jawab Jo singkat.
"Namboru kan tak suka abang pacaran ke boru Jawanya."
"Ibu saya itu urusan saya" Jo berdehem " Saya mohon sama kamu, tolong kamu berhenti ngikutin kemauan ibu saya untuk terus dekati saya."
"Jahat kalipun abang ini ke aku."Dosma berbalik dan meninggalkan ruangan dengan cepat. Jo hanya menggeleng, Dosma jelas tidak mudah dibujuk atau diberi pengertian. Karenna Dosma sudah tahu, maka tak butuh waktu lama bagi mamak untuk tahu berita tentang Jo (pikir Jo).
"Aryani." Jo menoleh pada Aya, yang sedari tadi diam saja, sejak Dosma masuk ke ruangan itu, sampai Dosma meninggalkan ruangan itu.
"Ya." Jawabnya singkat. "Saya jadi merasa bersalah sama Dosma."lanjutnya.
"Kenapa kamu merasa bersalah? Dia toh harus tahu yang sebenarnya"Jo memberi pengertian
"Saya pernah berada di posisi Dosma bang."Kini giliran mata Aya yang berkaca. Oh Jonathan Saragih mengapa kau sering sekali membuat wanita menangis.
"Maksud kamu?"
"Saya pernah ada di posisinya, saat orang yang saya cintai, dihadapan saya dia mengatakan bahwa dia memilih wanita lain." Aya berusaha menetralkan dirinya, "Itu rasanya sakit sekali bang."lanjutnya.
Jo mengulurkan tanganya, dan Aya meraihnya, dia kembali duduk di kursi sebelah bed tempat Jo berbaring.
"Pria itu, masalalu kamu, dia memilih wanita lain setelah kalian lama menjalin hubungan. Dia meninggalkan kamu." Jo mengusap punggung tangan Aya dengan ibu jarinya "Sementara saya dan Dosma, sejak awal saya sudah menyatakan sikap saya sama dia. Saya sudah berkali-kali bilang kalau saya tidak bisa menjalani hubungan dengan dia."
"Saya tahu ini memanng menyakitkan buat dia, tapi saya tidak pernah mempermainkan perasaannya, sejak awal dia sudah tahu bahwa saya tidak memberinya harapan."
Tiba-tiba ponsel Jo yang berada di meja sebelah bed bergetar, "Bisa tolong ambilkan?" Aya segera meraih ponsel itu dan menyodorkan pada Jo.
"Halo mak."Jo membuka pembicaraan, dan langsung disambar oleh mamak."Alahmak, kek mana kau ini nak, sakitnya kau?"
"Iya mak."
"Eh si Dosma kasih tahu mamak ka di rawat di rumahsakit."
"Baru masuk tadi siang kok mak.
"Ya sudah, mamak kesana lah ya."
"Iya mak."
Jo menutup ponselnya, dan Aya membantunya mengembalikan ke posisi semula.
"Saya bantu abang minum obat, sebelum mamak sampai saya harus sudah pergi." Aya tersenyum kecut.
"Kamu bisa tinggal kalau kamu mau."
"Saya nga mau ada keributan."
"Terserah kamu aja kalau begitu.
Aya mengambil air mineral lalu beberapa butir obat dan satu kapsul.
"Aduh saya paling nga bisa minum kapsul." Jo bergidik.
"Kenapa?"
"Itu pembungkusnya pernah nyangkut di terngorokan, jadi trauma deh."
Aya tersenyum lalu mengambil sendok. "Begini caranya." Aya membuka kapsulnya, menuang isinya dalam sendok lalu melarutkannya dalam satu sendok air.
"Aaaaa... coba buka mulutnya." Jo menurut dan Aya menyuapkan satu sendok obat yang sudah di larutkan disusul beberapa butir pil.
"Saya yakin kamu akan jadi ibu yang baik nanti buat anak-anak."Jo tersenyum.
"Anak-anak?"Aya menautkan alisnya.
"Anak-anak saya."Jo kembali tersenyum, begitu juga Aya, mereka benar-benar sedang kasmaran, terlepas mereka belum mengantongi restu baik dari mamak ataupun dari ibunda Aya.

JBS (Ready on Google Playbook - Venom Publisher)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang