BAB 16

2.4K 203 5

BAB 16
Jo menggandeng tangan Aya sampai ke depan pintu teatre satu di sebuah XXI di mall elite di kawasan Jakarta Selatan. Sejak kejadian Aya hampir terpleset di eskalator, Jo jadi sedikit protektif. Saat mereka tiba di dalam gedung bioskop, penonton berbondong-bondong masuk kedalam teatre dan duduk di posisi masing-masing.
Jo dan Aya memilih kursi yang cukup nyaman, karena posisinya tidak terlalu di bawah, tidak juga terlalu di atas, mereka berada di tengah-tengah, tapi Jo memilih dua kursi paling kiri. Dia memposisikan Aya di tepi barisan kursi semenntara dia berada di sebelah kanannya.
"Kamu sebelah situ."
"Kenapa, sama aja kan?"Aya sedikit bingung, kenapa Jo memaksanya duduk di kursi paling ujung.
"Enggak kamu sebelah situ."
Rupannya Jo berpikir agar Aya tidak berada di tengah antara dirinya dan penonton lain, terlepas penonton itu pria atau wanita. Dia hanya ingin Aya berada diantara dirinya dan lorong. Tapi Aya tak cukup peka untuk meyadari hal itu. Ini adalah salah satu sifat buruk Jo, sedikit protektif, atau justru overprotektif.
Pertanyaan yang sudah Aya simpan dan perimbangkan sejak mereka keluar dari tempat makan tadi akhirnya harus dia tanyakan, ini demi memuaskan rasa penasarannya "Abang kenapa bilang sama pak Bagus dan ibu Widya kalau saya pacar abang, malahan calon isteri?"
"Memang begitu kan?" Jo menoleh sekilas, dia juga menjawab santai.
"Tapi kita-" kalimat Aya terpotong oleh Jo "Aya, saya bukan type laki-laki yang bisa, apa ya..."Jo berdehem, lagi-lagi untuk menetralkan dirinya. "Gini, saya nga pernah bilang sesuatu untuk mengajak seseorang menjadi kekasih saya." Jo terlihat kesulitan mejelaska pada Aya.
"Nembak." Aya membantu meyederhanakan kalimat Jo.
"Ya, nembak atau apalah istilahnya." "Kamu sudah tahu perasaan saya, dan kamu juga tahu kalau saya serius sama kamu, jadi apa lagi?"Jo menatap Aya, dan seketika Aya kikuk.
"Kamu keberatan saya bilang begitu ke mereka?" Aya hanya mampu mengeleng pelan.
"Ok, jadi besok-besok jangan ada pertanyaan seperti ini lagi ya. Kamu sudah tahu posisi kamu buat saya, begitu juga sebaliknya."
"Iya bang."
Tiba-tiba lampu dimatikan dan di layar mulai terlihat iklan-iklan film yang akan release atau sedang release sebelum film utama dimulai.
"Kamu kan yang milih film ini, jadi kamu harus nikmatin filmnya." Jo tersenyum pada Aya, meski tak begitu terang tapi mereka masih bisa saling melihat wajah masing-masing.
"Kapan terakhir abang nonton?" Aya mulai membuka popcorn dala wadah kertas ditangannya. Jo tampak menahan senyumnya lalu berdehem "em.... sudah lupa."
"Payah." Aya menggeleng, "Popcorn." Aya menyodorkan wadah popcorn pada Jo, tapi Jo menggeleng "Kamu aja yang makan." Aya mengrenyitkan keningnya "Kenapa?"
"Saya udah kenyang, kan kita barusan makan"
"Ini bukan makan berat abang, ini kan cuman cemilan." Aya merengut ke arah Jo.
"Saya nga suka nyemil."Jo tersenyum sekilas.
"Oh.... apa lagi yang abang nga suka?"Aya bertanya sambil mengunyah popcorn.
"Kalau kamu susah di hubungi." Jo menatap Aya, dan itu membuat Aya hampir tersedak popcorn. "Hati-hati makannya." Jo meraih air mineral di sampingnya dan menyodorkan pada Aya." Ketika tatapan mereka bertemu seolah puluhan orang yang ada di ruangan itu menguap hilang, dan dunai menjadi milik mereka berdua. "Abang bisa gombal juga ya?"Aya tersenyum setelah dia meneguk air mineralnya.
"Saya ngak gombal, saya sungguh-sungguh soal itu." Jo berdehem sekali lagi "Tolong angkat telepon saya, karena kalau saya telepon itu tandanya saya benar-benar ingin bicara sama kamu. Seketika Aya menjadi kikuk, (Hufttt Jo mengapa kau serius kali jadi orang???) "Ok." Aya mengangguk.
"Aryani." Jo menyebut nama lengkap Aya, dan itu menimbulkan sensasi tersendiri bagi Aryani, semacam ada desiran di dalam dadanya, entah apa itu namanya, tapi detak jantungnya jelas lebih cepat dari keadaan normal.
"Ya." Aya menjawab sinngkat.
"Mulai sekarang saya rasa saya nga perlu minta ijin kamu untuk melakukann beberapa hal." Jo menatap serius pada Aya, sementara Aya tampak bingung."Em... maksud abang?"
"Misalnya memeluk kamu, atau pegang tangan kamu."
Aya sempat berpikir sejenak,
"Saya tahu batasannya kok. "Jo meyakinkan Aya
Meski malu akhirnya Aya mengangguk, dan Jo meraih tangan Aya, dan Aya tersenyum, wajahnya merona dalam cahaya redup gedung bioskop "Saya sayang sama kamu." Sebelum sempat menjawab atau berpikir, tiba-tiba ponsel Jo bergetar, dan Jo segera mengambilnya dari saku celana. Dia melihat ke layar ponselnya, lalu alisnya bertaut "Saya keluar sebentar, saya harus angkat telepon." Jo melepas tangan Aya dan segera keluar untuk menelepon, sementara Aya hanya mampu mengangguk.
Meski tanpa Jo dia tetap harus menikmati Film ini, saat tahu film ini akan release dia sudah jatuh cinta bahkan hanya dengan tahu judulnya. " Sabtu bersama Bapak."
Jo kembali saat film sudah hampir selesai, dia menelepon lama karena ada masalah sangat urgent. Saksi untuk kasus yang sedang dia handle mendapat serangan fisik dan saat ini sedangn dilarikan kerumahsakit. Jo harus menghubungi beberapa pihak, termasuk lembaga perlindungan saksi dan pihak kepolisian.
Saat dia kembali ke kursinya, Jo terkejut melihat Aya berurai air mata. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Aya, dan Aya segera menghapus air matanya "Kamu kenapa?"
"Ngak papa." Aya meggeleng. Jo kemudian meraih tangan Aya, dan menggengamnya, sampai film berakhir. Meski pikiran Jo berfokus pada kondisi saksi atas kasusnya, tapi dia tetap duduk menatap kelayar besar di hadapannya.
***
Saat ini mereka berada di dalam mobil, dalam perjalanan pulang ke apartment Aya.
"Abang tadi telepon lama banget?" Dari nada bicara Aya menanyakan hal itu, Aya jelas curiga pada Jo.
"Saksi dari kasus yang sedang saya tangani mengalami kekerasan fisik, seseorang datang dan menyerang dia." Terang Jo.
"Terus?" wajah Aya terlihat panik.
"Sudah di bawa kerumah sakit, kondisinya sudah stabil."
"Saya tadi harus koordinasi dengan beberapa pihak, itu makan waktu. Maaf ya."
"Nga papa kok."
"Oh ya, kamu kenapa nangis tadi?"Jo melihat ke arah Aya sekilas.
"Em.... film itu ngingetin saya sama bapak."Aya tersenyum, meski dia tidak berani menatap Jo.
"Saya kehilangan banyak moment sama bapak mas. Saat saya tumbuh dewasa, saat saya butuh sosok bapak, dan saya nga dapet semua itu." Aya menghapus air matanya yang menetes cepat. Sementara Jo mendengarkan dengan seksama. Dia menarik tissue dari atas dashboard dan menyodorkannya pada Aya. "Makasih." Aya tersenyum sekilas, kemudian dia melanjutkan "Memang ada ibu, ibu saya berusaha menggantikan sosok bapak buat saya sama mas Danu, tapi tetep saja beda bang. Buat saya bapak nga tergantikan, meski saya nga banyak mengenal bapak. Bapak meninggal saat saya masih sangat kecil. Saya juga nga banyak inget soal beliau." Aya mengambil jeda, dia menarik nafas pajang. Sementara Jo mengusap pundak Aya sekilas.
"Saya ngerti."Jo berdehem, dia juga jadi sedikit sentimentil melihat Aya menangis seperti itu.
"Maaf ya saya jadi emosional." Aya tersenyum kearah Jo.
"Nga papa." Jo membalas senyumnya.
Setelah memakan waktu cukup lama dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai di apartment Aya.
"Sudah malam, kamu istirahat ya." Jo dan Aya berdiri di depan pintu unit apartment Aya.
"He'em. Makasih ya bang buat hari ini."
"Saya juga seneng kalu lihat kamu seneng."
"Saya pulang ya."
"He'em. Hati-hati ya bang."
"Saya harus mampir kerumahsakit sih sebelum pulang, nanti saya kabarin lagi ya."
"Nga besok aja abang ke rumahsakit. Saya takut abang kecapean, Abang juga belum sembuh betul kan?"Wajah Aya tampak khawtir.
Jo tampak menahan senyumnya, sejurus kemudian dia mengusap kepala Aya cepat "Kamu ngak usah khawatir, saya sudah biasa."
Aya lagi-lagi merona. Jonathan Saragih, terkadang dia begitu kaku, tapi kadang dia juga begitu manis.
"Ok abang hati-hati."
Jo mengangguk lalu berbalik, seperti biasa, dia tidak pernah menoleh ketika dia menyusuri lorong panjang itu.
***
Sudah hampir tengah malam, tapi Aya masih menunggu kabar dari Jo, tapi dia belum juga memberi kabar. Aya mencoba menghubungi posel Jo, nadanya tersambung tapi dia tidak menjawab.
Setelah lewat pukul dua dinihari Jo mengirim sebuah pesan singkat "Maaf situasinya jadi sulit di sini, saya baru sempat lihat ponsel. Jadi saya baru kasih kamu kabar." Aya terbangun saat ponselnya bergetar. "Abang baik-baik saja?" tak lama kemudian Jo membalas "Ya, besok pagi saya telepon kamu. Sekarang kamu istirahat, saya sedang di kantor polisi." Aya yang memang tidak sabaran segera menelepon Jo, tapi Jo menolak panggilannya. "Aya, tolong tidurlah. Dengan kamu tidur, itu sudah membantu meringankan saya." Balas Jo. Akhirya Aya menyerah, meski dia tidak membalas lagi pesan Jo, tapi dia jelas jadi sulit tidur.
Pria itu, Jonathan Saragih, dia adalah pekerja keras, ini memang hari senin, tapi ini masih pukul dua dinihari, dia sudah sibuk bekerja, bahkan saat ini dia berada di kantor polisi, entah untuk urusan apa. Sementar aia meminta Aya untuk tidur. Bagaimana mungnkin Aya bisa tidur sementara pria yang begitu dikhawatirkannya saat ini sedang menghadapi masalah yang berat.
Aya hampir tidak bisa tidur bahkan sampai matahari mengintip dibalik tirai kamarnya. Apa yang terjadi pada Jo sebenarnya?

JBS (Ready on Google Playbook - Venom Publisher)Baca cerita ini secara GRATIS!