BAB 14

2.9K 219 16

BAB 14


Semacam ada kerinduan dalam hati Jo, memeluk seorang wanita. Sejak terakhir kali dia memeluk Christina beberapa tahun lalu, sudah sangat lama, ada semacam kerinduan membuncah di dada Jo ketika tubuh Aya berada dalam dekapannya.


Tak beda jauh dari Jo, Aya juga merasakan hal yang sama. Meski hubungannya dengan Bagus belum lama berakhir, tapi pelukan seperti ini, seperti ketika Jo melibatkan emosinya saat memeluk dirinya sudah lama sekali tidak Aya rasakan.


Semacam perasaan haru, rindu, kasmaran bergelora di dada mereka berdua, Aya menghirup dalam-dalam aroma Jo yang begitu maskulin sementara Jo merasakan aroma sabun mandi segar dari tubuh Aya. Tapi pada akhirnya mereka harus mengakhiri pelukan yang mengharubiru ini.


Aya menarik diri, Jo begitu terkejut dengan tindakan Aya yang tiba-tiba. Sekaranng mereka mejadi begitu kikuk, Aya tertunduk malu, meski wajahnya merona, sementara Jo berdehem untuk menetralkan dirinya.


"Saya boleh numpang ke toilet?"


"Boleh di sebelah sana." Aya menunjuk ke satu sisi ruangan.


Jo tampak berjalan terburu-buru ke dalam toilet. Dan tak berapa lama dia keluar dari toilet, lalu menghampiri Aya.


"Saya pulang ya."Jo masih terlihat sedikit kikuk meski dia berusaha keras menutupinya.


"Heem." Aya mengangguk cepat.


Jo tampak meahan senyum, melihat Aya juta sama salahtingkahnya dengan dirinya "Selamat istirahat." Aya membalas senyum Jo, dan wajahnya terus saja memerah "Iya, abang hati-hati."Jo tersenyum lalu melangkah keluar dari pintu, Aya tampak mengejar "Tolong kabarin saya kalau abang udah sampai." Aya mengigit bibirnya, Jo menoleh, mengangguk, tersenyum lalu berbalik dan berjalan menjauh, menyusuri sepanjang lorong dan menghilang di ujung lorong.


Setelah melepas kepergian Jo, Aya berbalik dan masuk kembali ke dalam apartmentnya, dia menutup pintu, berlari ke kamarnya.


"Oh my goodness Aya.... apa yang kamu lakuin???" Aya berbicara pada dirinya sendiri.


Jo pun sama, sepanjang jalan, didalam taksi dia tersenyum pada dirinya sendiri.


***


Jo masih terus tersenyum bahkan setelah dia masuk kedalam rumah. Mamak sudah tidak tampak di lantai satu rumah, mungkin sudah tidur. Jo segera naik ke lantai atas menuju kamarnya. Masih terus tersenyum, dan ini jarang sekali terjadi mengingat dia adalah pribadi yang serius dan tidak humoris.


Jo hampir terlonjak saat melihat mamak duduk di single sofa di sudut kamarnya.


"Mak...?"


"Kenapa rupanya, kau senyum-senyum?" Mamak menatap penuh selidik pada Jo.


"Bah, apalah mamak ini." Jo menghindar, dia berdehem untuk membuat dirinya lebih terkendali.


"Kau apakan rupanya Dosma?" mendengar pertanyaan mamak, seketika happy mood Jo menguap. Dia segera masuk ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya jadi lebih santai, meski dia masih harus mandi setelah itu. "Kenapa rupanya?" Jo bertannya, tapi jelas dia tidak antusias dengan topik yang akan dibahas mamak.


"Datang diantar supir kau ke rumah ini, nangis pulak dia."Mamak menatap tajam pada Jo.


"Ngadu apa rupanya dia ke mamak?"


"Kau suruh dia berangkat sendiri, kau marah ke dia, pulang kau suruh pula dia pulang sendiri."


"Siapa bilang dia sendiri mak?" Jo mengetik pesan dari smartphonenya ("Saya sudah sampai, kamu selamat istirahat ya. Maaf saya nga bisa telepon.") "Dia kan dateng sama pak Udin mak. Jo yang naik taksi, kurang baik apa rupanya Jo ke dia?"

JBS (Ready on Google Playbook - Venom Publisher)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang