BAB 13

3.2K 239 15

BAB 13


Pagi ini Jo mengirim pesan text pada Aya, sangat pagi. " Aya, maaf hari ini saya tidak bisa jemput ya, saya harus ke PN (Pengadilan Negeri ) Jakarta Selatan." Aya baru selesai mandi saat melihat pesan singkat dari Jo. Dia lantas membalas " Nga papa bang, good luck ya." "Terimakasih, kamu hati-hati meyetir." Balas Jo. Aya tersenyum, itulah tanda bahwa pria itu begitu care padanya, ya seperti yang Jo bilang, terlepas dia suka atau tidak suka pada dirinya, tapi rasa peduli yang dia tunjukan jauh lebih penting.


***


Sementara di rumah Jo tampak sedang menikmati sarapannya, secangkir kopi dan roti pangganng. Ini jelas bukan makanan khas Batak.


Mamak tampak duduk di depan Jo, memperhatikan puteranya itu membaca koran sambil menimati kopinya.


"Jo..." Mamak menuntut perhatian Jo.


"Hemm." Pandangan Jo sekils beralih pada mamak.


"Jo, mamak mau ngomong ke kau." Jo akhirnya menyerah, dan karena rasa hormatnya pada sang mamak, Jo melipat korannya, meletakan di sisi kopinya."Apa mak?" tatapan Jo kini fokus pada mamak.


"Jo, kau kan bilang kau tak suka ke Dosma, padahal kau belum pernah sekali juga pergi sama dia. Belum pula kau kenal dia dengan baik-" mamak belum selesai bicara saat Jo tiba-tiba menyela "Jadi ini soal Dosma lagi mak?"


"Iya, kek mana kau ini. Kau pengacara, kau selalu bilang ke orang-orang, jangan menuduh tanpa bukti." Kali ini mamak menggunakan profesi Jo sebagai pengacara untuk mengancamnya "Terus maunya mamak?"


"Kau kenallah dulu ke dia, dekatlah kalian, baru lah kau tahu sifat-sifatnya kek mana. Kalau sudah kek gitu barulah kau bandingkan Dosma ke boru Jawa itu, siapa namanya?"


"Aryani."


"Bah, namanya pun Jawa kali."


"Mak... "Jo menarik nafas "Tak perlulah macam itu mak, mana enak aku sama Dosma. Macam coba-coba lah aku."


"Bah kau ini, kau harus dapat istri yang cocok Jo, ya harus kau coba dulu sama Dosma, mamak yakin kau suka ke dianya itu nanti."


"Gini aja mak, kita buatlah kesepakatan. Kalau Jo sudah jalan sama Dosma terus Jo tetap pilih Aryani mamak harus rela ya."Jo membuat mamak terpojok, tapi mamak tak kehilangan akal "Sebulannya kau dekati Dosma itu, bukan sekali saja, macam mana sekali saja kau bisa bilang suka atau tidak suka."


"Sebulan mak??" Jo tampak terkejut.


"Iya lah."


"Ah... Jo pikir dululah itu. Nanti kita bahas lagi, Jo maru berangkat dulu lah ya mak. Ada sidang pagi soalnya."Jo menyeruput kopinya lalu bangkit dari kursinya, mencium mamak sekilas.


"Hati-hati lah ya nak."Jo bergegas menuju ruang tengah, lalu dia berbalik, teringat sesuatu "Oh ya mak, ngak usah masak makan malam, Jo ada acara gala dinner pengacara nanti malam."mamak tampak menautkan alisnya, sedikit bingung dengan istilah "Gala Dinner"


"Apalah itu gala gala?"


"Makan malam mak." Jo menahan senyumnya "Atau mamak ikut aja lah ya, nanti Jo jemput."


"Bah... sudah tua kali mamak kau ini, macam mana ikut gala gala kek gitu."mamak tersenyum malu, tapi sejurus kemudian ide cemerlang muncul di kepala mamak yang memang tak pernah kehabisan akal "Ajak lah si Dosma. Biar mamak telepon dia nanti, ya Jo ya..."


"Ah, terserah mamak aja lah itu."Jo menggelenng putus asa.


"Kek gitu kan cantek." Mamak tersennyum puas "Brangkat lah ya mak."

JBS (Ready on Google Playbook - Venom Publisher)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang