Cinta

1.2K 98 18

Saat aku sadar, aku sedang berada di rumah Adirata, ayah Karna. Karna yang tidak mengetahui namaku, terpaksa mengarangkan sebuah nama: Vrushali. Adirata dan Radha kemudian memanggilku dengan nama ini.

"Ini pertama kalinya Karna membawa seorang gadis ke rumah, Nak," kata Radha, ibu Karna dengan gembira. Adirata sempat mengernyit, namun dia menyerahkan semangkuk obat dengan sikap lembut.

"Kau demam selama beberapa hari," kata Adirata, "Seharusnya, kau mengikuti orang tuamu. Bukannya tinggal sendirian di sini."

"Apa kau sudah gila? Kalau Vrushali pergi sekarang, dia akan segera ditangkap prajurit," omel Radha.

Aku terbatuk sejenak, kaget karena aku kini memiliki suara.

"Orang tua saya sudah tidak ada," dustaku. Radha tampak terkejut. Situasi yang sedang memanas membuatnya percaya. Dalam pikirannya, mungkin dia menganggap orang tuaku dibunuh prajurit karena berniat pergi. Gelengan Adirata menguatkan dugaanku.

"Istirahatlah dulu..." kata Radha sambil mengusap pipiku, , "Tinggallah dulu di sini, Kami akan menjagamu."

Aku mengangguk lalu menunduk.

"Kau cantik sekali. Tidak kuduga, Radheya pandai juga memilih kekasih."

"A—apa?"

Adirata batuk dua kali, mengingatkan istrinya.

"Oh, ayolah... anak kita itu sudah cukup umur. Tapi tidak ada anak gadis yang berani mendekatinya. Semua gadis desa takut karena dia seorang raja. Namun di sisi lain, para putri menolaknya karena dia sutaputra. Kalau ada gadis secantik ini dekat dengan Radheya, maka ini adalah anugerah dewa."

Aku masih melongo mendengar kata-kata Radha. Adirata tampak menggeleng, namun senyumannya menyiratkan kebahagiaan.

"Bagaimana kalian bertemu? Apa saja yang dia ceritakan kepadamu?"

Wajahku memanas diberondong pertanyaan oleh Radha. Aku terpaksa menceritakan pertemuanku dengannya beberapa tahun lalu.

"Di mana Tuan Karna?" kataku dengan suara serak.

"Aku di sini."

Adirata dan Radha berpandangan penuh arti. Mereka meninggalkan kami dengan sebuah pesan kalau Karna hanya boleh duduk di dekat pintu yang diawasi Radha.

"Kau... kau tidak jadi pergi?"

Karna menggigit bibir bawahnya, "Sulit mengurus kerajaan sambil memikirkan ada gadis yang sedang dirawat di rumahku."

Wajahku langsung memanas lagi.

"Sudah baikan?"

Aku mengangguk, hendak mencari alat tulisku, namun ternyata semua sudah menghilang bersama kekuatan Saraswati.

"Kau bisa bicara," itu adalah pertanyaan. Aku terpaksa menelan ludah, berusaha membiasakan diri berbicara dengan mengeluarkan suara.

"Ceritanya panjang," aku mencoba menjelaskan, "Bukankah kau yang bilang asal-usul itu tidak penting? Yang penting, sekarang aku bicara."

"Siapa namamu?"

"Vrushali."

Karna meringis. Sejenak melirik ibunya, lalu mengecilkan volume suaranya agar hanya bisa didengar olehku.

"Mana ada perempuan bernama kereta barang."

Aku tertawa. Karna menyentuh kepala, terlihat salah tingkah.

"Nama itu kupilih secara asal-asalan."

"Tapi aku suka nama itu," aku mendebat, "Lagipula, kalau namaku memang bukan Vrushali, kau akan dianggap berbohong oleh kedua orang tuamu."

Karna menutup wajah dengan telapak tangan. Tampak bingung harus mengatakan apa. Pasti sulit ketika banyak pertanyaan datang. Asal-usulku ini terlalu rumit untuknya.

"Kau telah membuatku menunda kepulanganku ke Angga," kata Karna akhirnya.

"Sebenarnya, aku ingin membuatmu meninggalkan Angga," suaraku saat itu terdengar pedih, "Tak dapatkah kau menanggalkan mahkotamu? Atau kau memang tak suka dengan kehidupan rakyat jelata? Apa yang kau peroleh setelah menjadi seorang ksatria?"

Kilat luka terlihat di mata Karna saat dia memandangku, "Ternyata kau menjadi cerewet setelah bisa bicara, ya?"

"Kau lebih suka aku tak bicara?"

Karna melirik ibunya yang kini menjahit. Dia terlihat malu saat tatapannya kembali kepadaku.

"Aku senang mendengar suaramu. Suaramu merdu."

Pipiku pasti merah sekali saat itu. Aku mendengar suara Radha yang tersedak. Senyuman Karna semakin terkembang saat dia tahu ibunya terkejut mendengar kalimat itu.

"Aku akan mempertimbangkan Angga asalkan kau memenuhi satu syaratku," katanya serius, "Kalau kau mau mengabaikan semua asal-usulku, aku akan tinggal bersamamu di sini. Sebagai suamimu. Bukan Raja Angga."

#StopPlagiarism

Author Putfel

Legenda Negeri Bharata [ COMPLETED ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang