Masalah Besar Menanti

11 0 0

"Minta maaf atas sikapku yang egois ini, Niko."
"Kau minta maaf atas kesalahan apa? Kesalahan karena kemarin? Jadi kau sudah sadar dan mengoreksi dirimu sendiri?"
Miko tetap murung karena kurang puas akan perkataan yang diluapkan Niko waktu itu.

Di jalan, Dave sedang mengantar Audrey berbelanja dengan mobil.
"Apa kemarin suamiku mengganggumu?", tanya Audrey.
"Masalah apa? Jika hanya karena putraku, aku tidak begitu terganggu. Tapi aku tidak tahan untuk mengatakan yang sebenarnya pada Niko.", jawab Dave.
"Sama, aku juga begitu. Tapi, putraku begitu memaksa untuk mengatakan yang sebenarnya. Apa kau begitu?"
"Tidak. Hanya bertanya tentang darimana asal gelang dan kalung yang dia kenakan. Aku tahu bila itu milik kalian.", Audrey langsung murung dan merenung soal kakaknya Miko.
"Sudah, jangan terlalu berat, nyonya! Aku juga bingung kapan aku harus mengatakannya. Santai saja."

Di jalan, Tristan sedang pulang dari kantor dengan jalan kaki. Dia kadang juga ingin meniru kebiasaan putranya Dave yang setiap hari naik sepeda sambil menjual dagangannya di pagi buta.
"Niko. Aku pikir dia gemar berolahraga sambil berjualan roti."

Tiba tiba, ada seorang pria mendorong seorang wanita ke jalan yang ramai. Tristan tidak tega melihat wanita itu di tengah jalan dan langsung menolongnya. Dari belakang, BRAK...!!!
"Tristan!!"
"Hah!! Tidak, berhenti dulu! Dave!!"
"Hei, kau!! Kau tanggung jawab atas kecelakaan ini!!"
"Huh... tuan?", wanita itu tak sadarkan diri dan luka gores di seluruh tubuh Tristan.

"Kenny!!! Ethan!!! Ada kecelakaan!", kata tukang sampah yang lain.
"Apa? Kecelakaan?", kejut Miko.
"Ayo cepat!! Katanya, seorang pengusaha juga tertabrak!"
"Apa?"
"Itu kan ayahmu, Miko?!"
"Kalau begitu ayo kita pergi ke sana!", ujar Niko yang kemudian berlari, diikuti yang lain kecuali Ethan yang lari ke arah yang berbeda.

"Hah? Ayah?"
"Ini pelakunya!!", kata Jake.
"Aku tidak sengaja!", bantah Dave.
"Tadi aku lihat dia..."
"Cukup, Tristan! Sudah terbukti dia bersalah! Bawa saja ke pengadilan! Orang ini harus dihukum!"
"Nak...", rintih wanita itu sambil memegang tangannya Kenny.
"Hah? Ibu!!"
"Oh, nak! Jadi ini ibumu?"
"Tidak!! Ibu! Siapa yang melakukan ini!!", Kenny mulai geram.
"Orang ini yang menabrak ibumu!!"
"Bagaimana kau tahu?!", bentak Niko.
"Hei, bocah! Jangan ikut campur!"
"Jake! Hentikan! Aku tadi lihat..."
"Lihat dia menabrak wanita ini!"
"Tadi ada yang mendorong wanita itu!"
"Nyonya Audrey! Bagaimana kau tahu dia didorong ke jalanan? Itu tidak mungkin."

Ethan melihat pria misterius lari dari kerumunan orang yang melihat kecelakaan.
"Hei, kau!! Berhenti di sana! Berhenti!"
Ethan terus mengejarnya, tapi pria itu terus berlari. Tak kurang akal, Ethan lari ke atap dan menangkapnya dari atas.
"Aku tahu kau yang melakukannya. Siapa yang menyuruhmu?", pria itu terdiam saja.
"Siapa yang membayarmu?!"
Telepon Ethan berdering.
"Kak! Tadi, ibu dan ayahnya Miko kecelakaan!", mendengar itu Ethan geram dan memukuli pria itu.
"Kau dengar tadi?! Ibuku kecelakaan dan kaulah yang mendorongnya ke jalan. Siapa yang menyuruhmu?! Jawab aku!!!", pria itu dipukuli habis habisan.
"Ayo, jawab!!! Buktikan kalau kau itu pria!! Jawab!! Siapa otak dari kejahatan ini?!!"
"Baiklah, aku menyerah!! Aku akan beritahu! Sebelum itu, aku balas perbuatanmu!"
"Katakan dulu!! Kalau tidak, aku habisi kau!!", pria itu semakin lemah karena kekejaman Ethan.
"Seorang pengusaha..., dia... dia yang memberiku imbalan untuk melenyapkan... Tristan.", karena marah, Ethan mengurung pria ini ke sebuah tempat.

"Itu mungkin karena kau berbohong. Kau, sengaja membuat tipu muslihat."
"Diam kau, bocah! Bawa orang ini ke pengadilan!!"

Ayahnya Niko dibawa ke pengadilan, begitu pula Tristan sebagai saksi dan korban. Niko masih tidak terima dengan apa yang dikatakan Jake yang dari tadi terus memaki makinya. Malang bagi Kenny yang terus menangis dan menangis melihat ibunya yang tak sadarkan diri berjam jam ditemani Miko.
"Ayahnya Niko tidak bersalah!! Aku yakin itu! Aku mendengar kesaksian ini dari ibu dan ayahku!", teriak Miko kepada seorang polisi.
"Lalu? Bukti lain?"
"Ya..., aku... begini, sebenarnya bukan bukti fisik. Firasat buruk! Aku bukan keluarganya, tapi setelah periksa di rumah sakit, tekanan darahku tiba tiba tinggi. 180! Aku panik sekali!"
"Baiklah, buktinya hanya pengakuan saksi."
Lenny, Roger, juga Cansa pergi menjenguk Kenny. Dengan ekspresi bingung, mereka coba untuk bicara dengan Kenny. Tapi lain dengan Lenny, seperti halnya menantu dengan mertua, dia khawatir sekali dengan keadaan ibunya Kenny.
"Ibumu tidak apa kan?"
"Entahlah apa yang terjadi. Ayahku juga kena", keluh Miko.
"Huuaaaaahaaaaa!!!", tangis Kenny.
"Ibuuuu!! Banguun, ibuuu!!!", tangisnya lagi
"Ny Viera, kumohon bangun!", jerit Lenny yang ikut ikutan menangis.
"Lenny? Kau ini ada ada saja!"
PLAK!!!
"Cansa!! Sakit tahu!"
"Diamlah kau ini, Lenny juga kan khawatir!", bisik Cansa.

FadedBaca cerita ini secara GRATIS!