Prolog

6 0 0
                                        


"Nona Luka, bangun. ini sudah siang kau tahu," Ucap wanita paruh baya itu. Sudah lebih dari lima belas menit dan gadis dihadapannya itu belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun

"Hgnn," Gadis bersurai perak itu hanya menggeliat dibalik selimutnya, "Sebentar lagi nyonya Keiko," Sahutnya malas.

Keiko menghela nafas. Gadis perak ini sangat sulit dibangunkan.

Mungkin hari ini memang tidak ada acara khusus, namun dia tidak akan mengijinkan nona mudanya ini bangun kesiangan. Bersantai dan sedikit bermalas-malasan? itu bisa ditolerir. bangun siang? Jangan harap!

"Hei, ayo bangun," Keiko mengguncang pelan badan Luka, "Kau bisa kesiangan nanti,"

Alih-alih bangun, Luka semakin menarik selimutnya hingga menutupi kepalanya.

"Matahari akan segera meledak nyonya Keiko, pagi tidak akan pernah datang," Gumamnya asal.
"H-hei jangan mengatakan hal mengerikan seperti itu! ayo bangun," Namun Luka tak bergeming, masih diam di posisi nyamannya.

Tak kehabisan akal, dengan sekali sentakan Keiko menarik selimut yang Luka gunakan.
"Bangunlah. Shirohane Luka!" Ucapnya dengan nada seperti kesatria di sebuah anime.
"Aahhh! Luka masih mengantuk nyonya Keiko!" Luka merajuk malas. ya ampun, 'pengasuh'nya ini terkadang memang kejam.
"Cepat bangun atau tidak ada sarapan untukmu, nona muda!" dengan cepat Keiko melipat selimut Luka dan meletakkan disamping gadis yang sedang mengucek matanya itu.
"Hngghh!" Jawab Luka kesal.
"Baiklah. Segeralah turun Luka, makanannya hampir siap," Keiko berjalan keluar kamar Luka dengan wajah puas.

Brugghh

Sedangkan Luka kembali ke alam mimpinya.
.
.
.
"Hoammhh," Pemuda bersurai kelabu itu menutup mulutnya, berusaha menahan kantuk yang menghampiri.

Matanya tetap terfokus pada komputer dihadapannya yang menampilkan sekumpulan tabel dan diagram tentang laporan bulanan perusahaan. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.35 pagi namun tampaknya pemuda itu sama sekali tidak menyadarinya mengingat gorden yang menutupi jendelanya sama sekali tidak dibuka sejak kemarin sore.

Tok tok tok

"Tuan Yukio, anda di dalam?" sebuah suara feminim mengalihkan perhatian pemuda bernama Yukio itu. Tanpa perlu melihatnya, Yukio sudah tahu betul siapa yang ada di balik pintu.

"Masuklah, Yukari!" Jawabnya.

Pintu dibuka, menampakkan sosok seorang wanita dalam balutan seragam kantoran yang melekat sesuai dengan lekuk tubuhnya. Yukari, wanita berambut coklat sebahu itu berjalan dengan anggun penuh ketegasan ke arah meja Yukio. Manik purplette-nya menerawang sekeliling, perlahan dia menghela nafas panjang.

"Anda begadang lagi, tuan Yukio!" Tuduhnya tajam, membuat Yukio sedikit salah tingkah.
"Tidak Yukari. Aku hanya sengaja bangun lebih pagi untuk menyelesaikan laporanku."
"Tentu saja," Yukari memutar matanya, "kalau begitu jelaskan padaku tentang lingkaran hitam itu!" Yukari menunjuk mata Yukio yang memiliki kantung mata berlapis.
"Dan seteko kopi yang ada disana," Lanjutnya menuntut.

Skakmat

"Huh. Aku harus menyelesaikan laporan ini," ujarnya singkat. tanpa dia duga, Yukari merebut berkas yang ada di hadapan Yukio.
"Anda bisa istirahat sebentar, biar aku yang mengerjakan ini," tawar Yukari, Yukio menggeleng pelan.
"Tidak perlu, pekerjaanmu sudah banyak bukan," tolaknya halus.
"Presentasi anda dimulai sekitar tiga jam lagi. Aku tidak ingin anda datang ke pertemuan dengan kostum panda itu, tuan Yukio." tegas Yukari.

keputusan final, tidak bisa digugat lagi. menyadarinya, Yukio memilih untuk menurut pada asisten yang sudah menemaninya bertahun-tahun itu.

"Baiklah, kurasa aku akan istirahat dulu. sisanya aku serahkan padamu, Yukari," pesannya yang dijawab dengan anggukan mantap dari Yukari.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Mar 07, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Turtle HouseWhere stories live. Discover now