Pergi ke Sekolah

24 2 0

"Hai, namaku Miko! Apa kabar?", sapa seorang anak.
"Oh, hai. Aku Niko. Senang bertemu denganmu.", jawabnya datar seakan malu akan statusnya sebagai keluarga miskin.

Niko adalah seorang siswa SMP yang beruntung berada di sekolah favorit. Dengan mendapat beasiswa dan usaha menjual roti kecil kecilan, dia bisa sekolah. Setiap hari, dia menjual roti sebelum dan sesudah sekolah. Dia juga menjual roti di kantin sekolah.

"Hei! Bel berbunyi! Ayo cepat masuk!", teriak salah seorang siswa yang lewat.

Di kelas, seorang guru bernama Ny Irene menyuruh siswa siswinya untuk memperkenalkan diri.
"Sekarang kenalkan dirimu, nak!", kata Ny. Irene pada Miko.
"Halo, namaku Abraham Miko. Ayahku adalah seorang pengusaha. Dan cita citaku menjadi seorang menteri.", kata Miko.
Seisi kelas bertepuk tangan pada Miko, kecuali Niko. Dia heran dengan nama panjang Miko
"Abraham Miko?", tanyanya dalam hati.

"Sekarang giliranmu, nak."

Niko tetap diam dan tak mendengarkan ibu guru.

"Nak!!!",
"Iya, bu! Maaf, tadi aku..."
"Sudah, maju sana, bocah penjual roti!!", seisi kelas tertawa kecuali Miko.

Ketika maju, Niko disandung oleh seorang siswa bernama Roger.
"Rasakan itu!!", seru Roger yang tidak merasa bersalah diiringi tawa siswa yang lain kecuali Miko.
"Kau ini memang keterlaluan!! Kau tidak apa apa, kan?", kata Miko.
"Tenanglah, aku tidak apa apa.", kata Niko lirih.

Dengan wajah murungnya, Niko memperkenalkan diri kepada kawan kawannya walaupun sempat marah dan kecewa mendengar omongannya Roger.

"Hai, aku Abram Nicholas. Aku anak dari seorang buruh dan penjual roti keliling. Dan...", ungkap Niko yang terhenti sejenak.
"Bagaimana dengan cita citamu, nak?"
"Aku..., aku..", katanya ragu ragu.
"Tidak apa apa, siapa tahu cita citamu menjadi kenyataan.", hibur Ny Irene namun Niko tetap diam saja.
"Mungkin penarik gerobak sampah!", ejek Roger dan seisi kelas tertawa.
"Anak anak!!! Diam! Hargai temanmu yang ada di depan."

Saat istirahat, Miko melihat Niko yang duduk sendirian dengan wajah murungnya. Rasa prihatin juga dirasakan karyawan kantin, Ny Salsa. "Salahkah menjadi penjual roti keliling? Padahal tanpa dia, kantin menjadi sepi."

"Niko, kau kenapa? Ada yang salah ketika...",
"Kau tahu, aku akan ditertawakan saat aku mengatakannya."
Kasihan melihat temannya, Miko juga memiliki rasa sakit ketika yang lain menertawakan Niko.
"Katakan saja! Aku malah tertarik mendengar semua ceritamu."
"Benar kau tidak mengejekku?"
"Iya, aku... aku berjanji tidak akan menertawakanmu! Aku bersumpah!"
"Ya... ,aku..., ingin menjadi seorang..., pengusaha."
"Wooo, keren! Aku pun juga ingin menjadi sepertimu! Kan uangnya banyak!", hibur Miko.
"Yah, kau benar. Tapi apa itu mungkin? Aku miskin dan...", kata kata Niko terhenti.
"Hei! Kau ini! Jangan begitu! Kau kan begitu pandai? Dapat beasiswa pula!", hibur Miko lagi.
Dari belakang, makanan Niko ditumpahkan Roger yang tidak ada rasa kasihan dan bersalah.
"Hei! Apa yang kau lakukan!!", bentak Miko.
"Bocah penjual roti.", Roger puas akan yang dilakukannya.
"Kau kenapa diam saja?! Pukul dia! Kalau aku jadi kau, akan kuhajar dia!"
"Tidak, Miko. Jangan. Ibuku pernah bilang untuk tidak pernah bertengkar tanpa sebab yang penting. Lagipula, dua duanya pasti sama sama rugi.", saran Niko.
"Tapi, kau kan sahabatku. Sahabatkan juga penting untukku. Sunyi juga kalau bermain tanpa sahabat."
"Akhirnya ada yang mau bersamaku tanpa memandang siapakah aku. Semoga ada yang mau bersahabat denganku lagi."

"Kenapa kau mondar mandir terus? Apa tidak lelah dan bosan, terus berjalan seperti itu?", Tristan memegang bahu Audrey dan mengajaknya duduk.
"Aku tidak tahu harus bagaimana."
"Apanya yang bagaimana?"
"Aku bingung membiayai mereka, memberi Dave lowongan kerja sebagai supir atau Grace sebagai ibu rumah tangga?"
"Dua duanya saat hari minggu, mungkin pagi hari sampai jam 12 siang lalu jam 3 sore sampai jam 6 setiap harinya."
"Bagaimana dengan anaknya?", Audrey makin bingung.
"Aku pergi dulu kalau begitu, nanti aku pikirkan lagi."

"Ayah aku pulang!!"
"Lihat siapa yang datang hari ini?!", hibur Tristan.
"Hai ayah! Mau kemana?"
"Aku keluar sebentar ya?"
"Miko? Siapa anak ini? Teman sekolahmu?"
"Dia itu sahabatku. Aku mengajaknya kesini untuk mengerjakan PR bersama dan sorenya aku membantu dia menjual roti."
"Penjual roti?", Audrey terheran.
"Salam, bu.", sapa Niko.
"Ibu aku ke kamar dulu! Ayo, Niko!".

Niko sebenarnya agak malu dan minder untuk masuk ke rumah Miko, tapi mau bagaimana lagi. Di kamar, Niko diam saja seakan tidak tahu harus bagaimana dan apa yang harus dilakukan. Pikirnya, salah sedikit saja, pemilik rumah langsung marah marah.
"Ayo! Jangan malu malu! Anggap ini rumahmu sendiri."
"Niko? Jangan jangan? Dia?", batin Audrey.

"Ini hasilnya berapa?", tanya Miko sambil menunjukan buku Matematika.
"Coba kau pakai rumus ini? Bisa tidak?", beberapa menit kemudian.
"Wah, benar. Jawabannya ada?"
"Ini minumnya, nak Miko.", Niko aneh mendengar suara pembantunya. Pembantu itu juga aneh melihat Niko.
"Lho! Ibu! Ibu kenapa ada di sini?! Siapa yang menjual roti?"
"Nak, ibu... juga butuh uang lebih. Makanya ibu kerja di sini."
"Niko, kenapa?"
"Ini ibuku! Aku harus cepat pulang! Kalau tidak, siapa yang menjual roti nanti.", Niko langsung bergegas pulang
Sampai di ruang tamu, tak sengaja Niko menabrak Tristan yang mau mengambil berkas kantor.
"Maaf, tuan! Aku tidak sengaja, aku benar benar minta maaf! Maafkan aku atas kecerobohanku."
Tristan terkejut melihat kalung dan gelang yang dipakai Niko.
"Itu? Kalung dan gelang yang aku belikan dulu? Putraku, berarti?", batin Tristan.
"Anda tidak apa apa kan? Maafkan aku, aku tadi ingin buru buru. Permisi pak.", tangan Niko langsung dipegang erat oleh Tristan.
"Nak? Boleh aku tahu siapa namamu?"
"Aku Abram Nicholas. Aku putranya David Westley. Kumohon biarkan aku pergi.", hatinya Tristan tumbang melihat perkataan Niko tadi.
"Tristan? Kenapa?"
"Tidak tahu tapi suaranya sama persis dengan apa yang kubayangkan sekarang."
"Siapa, Tristan? Aku tidak tahu apa yang ada di pikiranmu sekarang!"
"Putraku..."
"Sudah, kau pasti sangat lelah!"
"Ada apa, nyonya?"
"Tolong buatkan teh tiga!"
"Tiga? Untuk siapa? Kan hanya kalian berdua?"
"Aku tahu kau lelah dan haus juga, yang satu untukmu."
"Terima kasih, nyonya!"
"Jangan panggil aku begitu, Grace. Aku jadi malu, Audrey saja."

Ketika menuju ke rumah, Niko mulai berpikiran aneh aneh. Dia tidak menyangka kalau ibunya adalah pembantunya Tristan.
"Apa? Ibuku bekerja di sana. Aku sungguh tidak menyangka! Aku benar benar terkejut! Sirna sudah harapanku untuk membantu mereka! Hmmm...., tapi setidaknya aku bisa mandiri. Menjual roti sendiri, dengan usaha sendiri, membuat sendiri, berpikir sendiri, untuk mereka, eh, untuk kami, atau kita. Ah terserah! Aku pasti bisa meringankan beban mereka!"

"Lho? Niko, kenapa kau pulang begitu sore?"
"Aku diajak Miko untuk belajar bersama, yah!"
"Gawat!!! Tristan mengingkari janjinya!!", batin Dave.
"Yah!!! Kenapa? Kenapa panik begitu?"
"Tidak apa apa! Ini, dagangannya. Tadi siang, aku sudah menjualnya dan masih sisa ini saja. Karena kita juga butuh uang untuk biaya sekolah, aku buat lagi."
"Iya, ayah. Aku berangkat dulu!"
"Lho? Nggak ganti baju?"
"Oh iya! Lupa!"
5 menit kemudian....
"Pergi dulu!!"
"Hati hati, Niko! Waspada dengan apa yang di luar sana!"
"Baik, yah!!"
Niko berjualan di pinggir jalan yang ramai dengan orang kantoran. Jam 4 sore, dia begitu memeras keringat demi orang tuanya yang juga ikut membanting tulang untuk memenuhi kebutuhannya.
"Nak! Aku beli satu!", salah seorang pembeli datang.
"Ini, pak! Harganya $1.55."
"Niko?!"
"Lho, pak! Anda? Ayahnya, Miko?"
"Iya. Kau seharian menjual roti? Apa tidak lelah, nak?"
"Ini demi aku, ini demi orang tuaku juga! Anda baru berangkat?"
"Ada rapat, dimulai 30 menit lagi. Makanya aku berangkat sekarang."
"Oh, begitu. Hati hati dijalan, tuan!"

"Roti!! Roti!! Roti enak! Roti sedap! Murah, murah!!"
"Lho, aku kayaknya pernah kenal? Siapa ya?

FadedBaca cerita ini secara GRATIS!