Meet

11 1 0
                                        

Selamat membaca! 😘😘
.
.
.
.
.

****

Safira berlari sepanjang lorong panjang itu. Tangan putihnya menjinjing bagian depan gaun panjangnya untuk memudahkannya berlari. Nafas nya bahkan sudah tersengal - sengal sekarang. Tak dihiraukan lagi pandangan heran maupun mencela yang ditujukan padanya. Seribu satu alasan berkelebatan di kepala cantiknya saat ini. Dia terlambat di hari pertamanya di kelas menari.

Hell no!!

Di dalam kamus seorang Safira tidak ada kata terlambat sekalipun, dengan alasan apapun. Itu yang selalu ada di mindset Safira sejak dulu dan sekarang..

'Damiaaan... Aku balas nanti!' Safira mengutuki kakak tampannya itu dalam hati.

Safira mendengar dari teman sekelasnya di kelas melukis kemarin bahwa guru kelas menari adalah seorang yang tegas dan disiplin. Tak peduli seberapa tinggi kedudukanmu, kedudukan orang tua mu, sekali melakukan kesalahan maka hukuman tetap harus diterapkan. Safira hanya berharap gurunya kali ini mau memberi nya dispensasi mengingat Safira baru pertama kali mengikuti kelas menari ini. Terlebih Safira juga merupakan murid baru di sekolah bangsawan ini. Ini saja masih hari kedua.

Yah! Semoga saja! batin Safira terus berdoa.

Peluh yang menghiasi kening Safira sedikit merusak make up tipis yang digunakannya saat ini.

Terima kasih pada orang yang mendirikan sekolah bangsawan ini karena membangunnya di tanah yang sangat luas dan meletakkan kelas menari di ujung paling barat. Ujung terjauh dari pintu depan. Alhasil Safira harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk sampai di kelas menari nya.

Mata sewarna safir milik Safira menangkap pintu kaca ruang menari yang jaraknya sudah tidak terlalu jauh lagi. Safira menghentikan langkah sejak, bersandar di dinding samping belokan di belakan punggungnya. Mengeluarkan tisu dari dalam tas jinjing lalu mengelap peluh dikening dengsn tisu di tangannya.

"Aku lelah sekali" gumam Safira serasa mengatur nafasnya yang tak beraturan. 'Yosh! Semangat!'

Safira mulai melangkahkan kakinya kembali. Kini dengan langkah cepat tapi tetap anggun.

Tepat tiga langkah Safira beranjak. Tiba - tiba seorang pemuda dengan jas hitam muncul dibelokan tepat di belokan koridor samping kanan Safira. Kedua insan yang seperti nya tidak menduga kemunculan satu sama lain. Akhirnya tabrakan pun tak terhindarkan.

BRUK!!

"Akh!"

"Oh!"

Kedua manusia berbeda gender itu sama - sama terkejut. Dan jatuh saling menimpa.

Posisi Safira saat ini adalah berada di atas badan pemuda tadi. Masing - masing tangan nya ada di bahu kokoh di bawah nya. Sedangkan wajahnya menempel di dada keras itu. Safira bisa mendengar detak jantung teratur yang menenangkan hingga tak sadar akan posisinya saat itu.
Sedang sang pemuda meringis kecil karena kepala bagian belakanya membentur lantai.

Terdengar suara beberapa orang berlari mendekat.

"Pangeran!" seru salah seorang membangunkan Safira dari zona nyamannya saat ini.

Seakan tertampar, wajah Safira memucat saat mendengar seruan tersebut.

"Sampai kapan kau akan disitu?"

'Oh! Tidak! Tidak mungkin! Jangan bilang...

Safira mengangkat wajahnya, menatap seseorang yang berada di bawahnya.

DEG

Safira membeku.

"Menyingkirlah!"

Mata safir itu mengerjap. Sadar akan kebodohannya, Safira segera bangkit dari posisinya. Namun na'as, saat bangun Safira malah menginjak ujung gaun panjang nya sendiri sehingga dirinya sukses kembali jatuh menimpa pemuda yang dipanggil pangeran tadi yang saat ini di posisi duduk.

DUGH!

Dahi keduanya berbenturan.

"Aukh!"

"Bodoh!"

Pangeran segera berdiri dan menarik tangan yang masih memegangi kening yang memerah itu agar berdiri dengan selamat.

"Huh! Kau tidak berubah juga, eh? Ceroboh!"

Rona merah tipis menghiasi kedua pipi Safira. Bukan! Bukan karena merona tapi karena emosi. Ia marah! Ceroboh katanya?

Safira mendongak menatap wajah dengan seringaian sang pangeran yang menyebalkan. Tangannya gatal ingin menonjok wajah orang yang berani mengatai dirinya ceroboh. Tapi Safira sadar ini bukan saatnya membuat ulah atau berurusan dengan orang di depannya ini. Ada hal yang lebih penting dari itu. Kelasnya.

"Dasar menyebalkan!"

Setelah mengatakan itu Safira segera berlalu melewati pangeran dan para pengawalnya.

"Hey!"

Seruan dari belakannya membuat Safira menengokkan kepala. Setelah itu ia menyesali keputusannya.

"Ternyata benar. Kau kembali"

Jeda beberapa saat.

"My princess."

****
.


.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
.
.

Gimana? Baguskan? 😊😊
Ide dadakan nih!

Voment y. Jangan lupa! 😘😘

PastWhere stories live. Discover now