Suara

1K 92 0

Sejak itu, setiap pagi, kami bertemu di tepi sungai Gangga. Tiap pagi, Karna datang dan bercerita. Di hari ketiga, dia mengakui kalau dirinya Raja Angga. Sulit bagiku berpura-pura, tapi akhirnya aku berhasil memaksa diriku terlihat terkejut.

Aku mulai membawa sitar lalu memainkan musik-musik untuk menghiburnya. Aku mencuri pikiran-pikiran dan keresahan Karna. Rasa sesal akibat membantu rencana Duryodhana membakar istana peristirahatan di Warnabrata masih menghantuinya. Begitu juga pengelolaan kerajaan dan berbagai masalah lain, termasuk kutukan-kutukan itu.

Di hari kesepuluh, aku menanti Karna tanpa hasil. Dia tak muncul hingga siang. Aku mulai merasa khawatir. Takut terjadi sesuatu kepadanya. Kekhawatiranku membuatku tak bisa tidur di malam hari. Aku mondar-mandir di tempat biasa aku bertemu Karna, tanpa menampakkan diri.

Ketika dia akhirnya muncul, aku langsung menghambur ke depannya. Saat itu, aku terkejut karena melihatnya dalam pakaian kebesaran. Mahkota berukir menutupi kepalanya. Sementara perhiasan-perhiasan emas, juga kain mewah bersulam emas membuat sosoknya terlihat asing.

"Hari ini, aku datang untuk berpamitan."

Ucapan Karna menyambarku hingga aku meremas sariku. Berbagai perasaan berputar di kepalaku. Dari kecewa hingga takut. Namun yang paling mendominasi, adalah ketidakrelaan.

"Aku harus menemani sahabatku," kata Karna dengan ekspresi datar, "Lagipula, kerajaanku juga perlu diurus."

Katamu ada perdana menteri yang sangat kau percayai, aku mencoba memprotes.

Karna tersenyum tipis. Dia memandangku sesaat, lalu menunduk.

"Selama hidupku, jarang sekali aku memiliki sahabat."

Aku juga bisa jadi sahabatmu.

Karna menggeleng, "Maafkan aku. Sebenarnya, aku ingin mengajakmu. Tapi kita laki-laki dan perempuan. Reputasimu akan hancur jika kau bersamaku."

Karna memamerkan senyumannya lagi. Lalu memberi tanda pada pengawal yang memayunginya. Saat dia berbalik, saat itu juga aku merasa duniaku runtuh. Baru kali ini, aku memiliki kesempatan bisa dekat dengannya. Mendengarkan semua curahan hatinya. Aku tidak rela jika dia meninggalkanku seperti ini.

Tidak. Dia telah mengisi hatiku. Dia mengurungku dalam sebuah dunia bersamanya. Dunia di mana kami bisa membagi kesepian. Dia tidak boleh mencampakkan aku di dunia itu sendirian.

Peringatan-peringatan keras terngiang di telingaku saat aku memejamkan mata. Suara bagian diri Saraswati datang. Memperingatkan aku untuk terakhir kali.

"Tidak! Jangan lakukan itu! Kau akan kehilangan kekuatanku! Kau akan jatuh ke dalam jurang penderitaan! Tidak! Jangan! Jangan! Jangan!"

Aku menutup kedua telingaku. Mengingatkan diriku, kalau aku menurut, maka aku akan kehilangan Karna. Kali ini, mungkin untuk selama-lamanya.

Aku mengertakkan gigi. Menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-paruku. Dengan susah payah, aku menarik suara dari tubuhku, membawanya ke tenggorokan, lalu naik ke mulut dan lidah...

"Radheya!"

Saat aku membuka mata, nama itu akhirnya keluar dari mulutku. Tepat di saat aku merasakan sesuatu membelah di dalam diriku, merobek sebagian jiwaku dengan kejam.

Kekuatan Saraswati itu akhirnya pergi. Kefanaan kemudian menggantikannya. Menggerogotiku seperti merkuri. Menghunjamku dengan kesakitan dan penderitaan yang tak mampu kutanggung. Tubuhku oleng oleh semua siksa itu, menyerah dalam kegelapan yang menyeretku tanpa ampun.

#StopPlagiarism

Author Putfel

Legenda Negeri Bharata [ COMPLETED ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang