15 - Pagi

451K 31.4K 3.7K

Everybody told me i'm a broken piece. And the next morning you came to fix me.

- Ametta Rinjani -

***

"Lo!"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Lo!"

"Iya. Gue." Sahutnya. Cowok itu berjalan masuk dengan kantong plastik putih di satu tangan dan tangan yang lain tenggelam di saku.

"Kok bisa masuk? Kok lo bisa disini? Kenapa pegang kunci apartemen gue? Kenapa -"

Raga yang sudah berada di depannya menutup mulut Metta dengan satu tangan. "Berisik."

Cowok itu kemudian berlalu menuju dapur. Metta terpana beberapa saat. Mengumpulkan kebingunan dan mengikuti langkah Raga.

"Kenapa lo bisa di apartemen gue?" Tanyanya lagi. Cowok itu membuka kulkas dan menuang jus jeruk.

"Bukannya lo yang gak mau gue pergi?"

"Kapan gue bilang gitu?"

Raga mendengus. Cowok itu mulai membuka lemari-lemari yang ada di dapur  mengumpulkan wajan dan peralatan masak.

Metta mengamati semua itu dengan dahi berkerut dalam. "Bentar-bentar. Lo mau ngapain?"

"Gue laper. Mau sarapan."

"Lo mau masak?" Tanya Metta kaget.

"Keliatannya gimana?"

Raga membuka bungkusan plastik putih yang tadi ia bawa. Mengeluarkan telur dan sayur segar yang Metta tau ia dapatkan dimana dari logo plastik itu.

Cowok itu sudah mencampur telur dengan sayuran yang dipotong. Dan Metta masih terpaku di kakinya. Ia berdiri di seberang conter yang membatasi dengan meja kompor di hadapan Raga.

Di dalam sepanjang kepalanya membayangkan Raga, melihat cowok itu sekarang sedang memasak di dapurnya cukup membuat Metta yakin jika ini mimpi.

"Lo gak pernah liat orang masak?" Tanyanya.

Metta berdehem. "Gue cuma gak tau kalo lo bisa masak," gumamnya dengan masih mengamati pergerakan tangan Raga mengocok telur. "Eh Yakin lo beneran bisa?"

Metta tidak yakin sepenuhnya, namun sekilas ketika Raga berbalik mengambil bumbu di dalam plastik belanjaan, ia menemukan sedikit senyum disana.

Untuk beberapa saat, Metta berdiri seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat kembang api. Dimana untuk berkedip saja, sepertinya Metta tidak rela.

Bau harum yang kemudian memenuhi dapur menyadarkannya. Sudah tersaji dua piring omlet di atas conter dengan aroma yang bisa membuat air liur Metta keluar.

"Lo udah kaya gak makan seminggu."

"Gue laper." Ucap Metta menjilat bibirnya. "Gue yang ini," cewek itu menarik piring dengan porsi yang lebih banyak.

SIN [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang