Bab 15 Ramuan Racun

28 0 0

PEGUNUNGAN Rek-Rak berada jauh di atas Lembah Shliu. Mereka mesti melalui hutan rimba yang ganas, jurang, dengan ancaman cuaca dan binatang buas. Mereka juga mesti pandai menjelajahi alam untuk memenuhi kebutuhan mereka. Belum lagi ancaman dari suku Gnorak sendiri jika nanti mereka tiba di perkampungannya. Namun semua orang dalam rombongan itu tegar dan setia dalam perjalanan mereka.

Di sepanjang jalan, Ueryel mematah-matahkan ranting untuk membuat jejak. Mungkin dia dan kedua saudaranya sudah tahu betul seluk-beluk hutan Dou, namun baru sekali ini mereka naik gunung. Ueryel hanya tidak ingin mereka tersesat dan tidak tahu jalan pulang.

Hari sudah mulai gelap ketika Salosinh mengatakan sebaiknya semua beristirahat. Dia dan Iredir mulai mengumpulkan bahan-bahan untuk membuat bivak. Ueyr dan Ueryel membuat beberapa api unggun kecil. Sementara itu Anisir telah menemukan tempat peristirahatannya sendiri. Dia menemukan ceruk pada batu yang cukup dalam dan aman untuk ditinggali. Tanpa menunggu yang lain selesai dengan pekerjaan mereka, Anisir pergi tidur lebih dulu. Ueyr dan Ueryel hanya bisa merengut.

Iredir dan Salosinh pun selesai membuat bivak. Ueryel segera tertidur sebelum tubuhnya sempurna merebah. Ueyr mengeluh beberapa saat tentang nyamuk dan serangga lain yang mengganggunya sebelum menyusul Ueryel. Iredir sama lelahnya namun otaknya terasa penat. Walaupun sudah memejamkan mata dia masih saja terjaga.

"Ada yang tidak bisa tidur?" tanya Iredir. Dia mendengar gesekan pakaian seseorang yang bolak-balik gelisah. Anisir menggeram kecil namun tidak menjawab. Dia pura-pura tidur. Iredir pun mencoba tidur kembali. Ketika akhirnya dia berhasil masuk ke alam bawah sadarnya, tidurnya dipenuhi mimpi yang padat tak berujung pangkal.

Keesokan paginya mereka melanjutkan kembali perjalanan. Setiap kali Ueyr bertanya berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai perkampungan Gnorak, Anisir selalu saja menjawab, "Tidak lama."

Tengah hari mereka beristirahat sejenak. Sebetulnya Iredir sejak awal perjalanan sudah hendak menanyakannya. Namun baru kali ini dia punya kesempatan.

"Aku menagih janji."

"Janji apa?" tanya Anisir, sedikit ketus.

"Lhu Salosinh berjanji akan menceritakan semuanya. Sebetulnya apa yang terjadi?"

Salosinh menatap temannya. Anisir hanya mendengus keras namun tidak menjawab. Lama Salosinh menimbang, sedikit membuat Ueyr sebal. Salosinh menarik napas panjang lalu mengembuskannya keras. Dimulai dengan sedikit dehaman Salosinh pun berkata,

"Masih ingat apa yang dikatakan Senair Ikna tentang Asylarunh? Dia benar. Racun ini menular."

Iredir ragu sesaat akan apa yang didengarnya. Ueryel mengerutkan dahi. Sementara Ueyr menukas, "Apa maksud Lhu?!"

"Mulanya aku dan Anisir menemukan tanaman ini. Tanaman beracun. Namun kami mendapati bahwa tanaman ini bisa digunakan sebagai tanaman obat yang sangat berkhasiat. Aku dan Anisir menamainya Asylarunh. Kami mengambilnya dari bahasa Haelos kuno, asyl berarti racun, runh berarti obat. Kami pun menelitinya untuk mengetahui manfaatnya lebih lanjut. Sayang, suatu hari Asylarunh terserang penyakit. Tanaman ini mulai mati. Namun kami menemukan, Asylarunh yang terkena penyakit tidak lagi mengandung racun. Kuman penyakit yang menyerang tanaman ini kebal terhadap racun Asylarunh dan mampu memodifikasinya sehingga Asylarunh tidak lagi beracun. Masalahnya, Asylarunh yang terkena kuman ini akan mati. Meskipun tidak lagi beracun, tidak bisa juga hidup."

"Jadi, kuman ini yang menyebabkan Asylarunh menular?" simpul Iredir.

"Nampaknya demikian. Entah bagaimana terbawa sampai ke lembah."

"Jadi Senair Ikna benar selama ini," gumam Iredir, ada penyesalan di dalam hatinya.

"Kuman ini dapat berkembang biak dengan baik pada sari buah-buahan," sambung Salosinh.

Ramuan Racun AsylarunhBaca cerita ini secara GRATIS!