3

19.6K 1K 7

Carissa menghela napas lega setelah menyadari Maxim telah keluar dari kamar. Ia berjalan ke arah cermin yang tidak begitu besar, namun dapat menampakkan sebagian tubuhnya.

Melihat setengah pahanya yang terbuka, membuatnya menarik kemeja itu ke bawah, berharap dapat menutupinya.

Luka pada lututnya terlihat dan rasa perihny masih terasa. Carissa membutuhkan obat untuk mengobatinya. Carissa berjalan menuju pintu keluar. Ia mau meminta obat luka dan celana pada Maxim.

Namun, bagaimana mungkin ia keluar dengan memakai pakaian seperti ini? Ia akhirnya memilih untuk tidur dengan menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya. Carissa sangat kelelahan karena kejadian hari ini hingga membuatnya mudah terlelap.

Tidak lama kemudian, Maxim kembali ke kamar dan mendapati Carissa yang tengah tertidur pulas di kasur. Sebenarnya Maxim ingin mengajak Carissa, membeli beberapa pakaian untuk gadis itu dan kemudian pergi dari kota ini secepatnya.

Maxim mengusap wajahnya gusar, lalu duduk di kursi yang tidak jauh dari kasur.

Drrrttt.. Drrrttt...

Maxim mengambil ponsel dari kantungnya. Ia menatap layar ponsel itu dengan menautkan kedua alisnya.

Derek is calling..

"Ada apa, rek?" tanyanya sembari memperhatikan Carissa yang mengubah posisi tidurnya, menghadap ke arahnya. Tanpa sengaja, selimut yang sempat berada di tubuh Carissa tersingkap dan mengekspos paha mulus gadis itu.

Maxim yang melihat pemandangan itu, meneguk air ludahnya. Namun setelahnya ia fokus pada luka di kedua lutut Carissa.

"Maxim, apa kau mendengarku?"

Suara Derek menyadarkannya. Maxim segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"Maaf, apa yang kau katakan barusan?" tanya Maxim sesekali melirik ke arah Carissa.

"Anak buah sibajingan Varrel itu, mengejar kalian. Dimana lokasi kalian sekarang?"

"Di Oxford. Kenapa?"

"Baiklah. Aku akan memancing mereka ke jalur yang salah," ucap Derek lalu memutuskan sambungannya. Maxim menghela napas lega. Kecerdasan dan kelicikan yang dimiliki Derek tak bisa diragukan lagi. Derek bahkan anak buah kepercayaan Varrel, padahal ia bekerja sama dengan Maxim. Itu semua karena kelicikannya. Selain itu, kemampuan sebagai hacker profesional, membuatnya bisa mengakses cctv dan beberapa jaringan yang ada di Landon. Itulah mengapa Varrel merekrut Derek sebagai anak buahnya.

Maxim kembali menatap Carissa. Ia beranjak dari duduknya dan menyelimuti gadis itu. Ia keluar dari kamar untuk membeli obat luka, lalu kembali setelah mendapatkannya. Ia menyibakkan selimut itu, lalu mulai mengobati luka pada lutut Carissa.

Carissa terlihat meringis dan keningnya berkerut, namun tidak lama kemudian ia kembali tenang.

Maxim memandang wajah cantik itu lama. Akan banyak kejadian di masa yang akan datang, setelah dengan beraninya ia membawa Carissa pergi bersamanya dan Maxim susah siap akan hal itu.

Setelah memastikan obat luka itu mengering, dengan perlahan, ia ikut berbaring di sebelah Carissa. Maxim berusaha untuk tidak mengeluarkan banyak gerakan agar gadis itu tidak terganggu karenanya.

Seandainya, ruangan itu ada sofa, ia sudah tidur di sofa itu. Namun, mengingat mereka akan menempuh perjalanan yang jauh, ia harus istirahat secukupnya malam ini. Walaupun kenyataannya ia sulit bisa tidur karena seorang gadis tertidur di sebelahnya.

Tiba-tiba lengan kurus Carissa melingkar di perutnya.

"Shit,."

***

Carissa terbangun. Cahaya yang di pantulkan jendela mengenai wajahnya, membuatnya terganggu dari tidurnya.

"Apa kau sudah bangun?" suara Maxim terdengar begitu jelas di telinganya. Ia mendongak dan menatap wajah Maxim yang begitu dekat.

Carissa merasa janggal dengan posisinya, suatu yang kokoh ada di bawahnya. Ia menoleh ke bawah dan menyadari bahwa ia tidur di atas dada bidang Maxim.

Sontak Carissa menjauhkan tubuhnya dan berbalik menghindari tatapan Maxim. Pikirannya terus bertanya-tanya kenapa ia bisa bersama lelaki itu.  Jantungnya memompa dengan cepat, karena ini pertamakali baginya tidur bersama seorang lelaki.

"Ini pakaianmu. Bersiaplah, kita akan pergi dari sini," ucap Maxim.

Carissa yang mendengar itu, mengerutkan keningnya. Kemana lagi mereka akan pergi? Bukankah mereka telah jauh dari istana. Ia sama sekali tidak mengerti tujuan lelaki itu. Apakah lelaki itu berusaha untuk menculiknya? Pikiran negatif mulai menghantuinya.

Oh.. Tidak, kau berada dalam masalah Carissa..

"Tidak," ucapnya tegas, berbalik dan menatap Maxim.

"Kita berpisah di sini saja. Kau bisa pergi kemana yang kau inginkan begitu juga denganku."

"Kau yakin? Varrel bisa saja menemukanmu kembali. Lihatlah, kau bahkan tidak memiliki uang seseper pun."

Perkataan Maxim membuat Carissa sadar bahwa ia memang tidak memiliki apa-apa. Bagaimana jika Varrel menemukannya kembali? Semua usahanya akan menjadi sia-sia.

"Kau benar. Tapi, bolehkah aku tahu kemana kau akan membawaku?"

Maxim mendekat lalu menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah cantik gadis itu. "Bisakah kau mempercayaiku saja? Varrel sedang mengejar kita."

Carissa membelalak. "Varrel sedang mengejar kita?"

"Iya. Kita harus bersiap sekarang juga."

***

"Apa kau sudah siap?" tanya Maxim.

Carissa mengangguk. Ia menatap Maxim yang membuka pintu mobil untuknya. Entah dari mana asal mobil itu, karena yang ia tahu, mereka mengendarai sepeda motor.

"Aku mencurinya," ucap Maxim seolah tahu apa yang dipikirkan Carissa.

"Aku tidak bertanya," Carissa masuk ke dalam mobil itu. Maxim terkekeh sembari menutup pintu mobil, lalu masuk ke jok mengemudi.

"Selamat. Kau menjadi keturunan bangsawan yang duduk tenang di mobil hasil curian."

Carissa menatap lelaki itu lekat.

"Inilah dunia luar yang sebenarnya, Carissa," lanjut Maxim.

"Tunjukkan padaku, seperti apa sebenarnya dunia luar itu."

"Ok. I'll show you."

***

IG: capricorn_rere

MY MYSTERIOUS BODYGUARDWhere stories live. Discover now